Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan pada awal pekan ini, tercermin dari kurs dolar Amerika Serikat (dolar AS) di sejumlah bank besar yang bertahan di atas level Rp 17.000.
Berdasarkan data per Senin (13/4/2026), kurs e-Rate di Bank Central Asia (BCA) tercatat pada posisi beli Rp 17.035 dan jual Rp 17.135. Sementara itu, e-Rate Bank Rakyat Indonesia (BRI) berada di level beli Rp 17.003 dan jual Rp 17.195.
Adapun kurs Bank Negara Indonesia (BNI) menunjukkan posisi beli Rp 17.030 dan jual Rp 17.135. Sedangkan Bank Mandiri, berdasarkan data terakhir per 10 April 2026, mencatat kurs beli Rp 17.075 dan jual Rp 17.105.
Level kurs di perbankan tersebut mencerminkan rupiah yang masih bergerak di kisaran Rp 17.000-an terhadap dolar AS, sejalan dengan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Sebelumnya, Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin (13/4/2026) akan tetap berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.
"Untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.110- Rp 17.160," kata Ibrahim.
Dalam sepekan terakhir, ia menyebut pergerakan rupiah terbilang cukup lebar, mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar.
"Dalam sepekan rupiah di perdagangkan direntang Rp 17.040 - Rp 17.200," ujarnya.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat, 10 April 2026, rupiah tercatat melemah tipis dibandingkan hari sebelumnya, meski sempat mengalami tekanan yang lebih dalam di tengah sesi perdagangan.
"Pada perdagangan Jumat, 10 April 2026 mata uang rupiah ditutup melemah 14 point sebelumnya sempat melemah 30 point dilevel Rp 17.104 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.092," ujarnya.
Tekanan Jual di Pasar Valuta Asing
Pergerakan ini menunjukkan tekanan jual di pasar valuta asing masih cukup kuat, meskipun sempat terjadi koreksi menjelang penutupan perdagangan.
Ibrahim menambahkan, arah rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi negara maju, menjadi sentimen utama yang membentuk pergerakan mata uang domestik.
Rupiah Makin Melemah, Ancaman Trump Tutup Selat Hormuz Jadi Pemicu
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada awal pekan. Pada Senin pagi, rupiah turun 17 poin atau sekitar 0,10 persen ke level Rp 17.121 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.104 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menutup Selat Hormuz.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian seputar geopolitik di Timteng menyusul ancaman Trump untuk menutup Selat Hormuz setelah perundingan yang gagal dengan Iran,” ujar Lukman dikutip dari Antara, Senin (13/4/2026).
Ancaman tersebut muncul setelah negosiasi antara AS dan Iran dilaporkan tidak mencapai kesepakatan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur perdagangan energi global.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Setiap gangguan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan menekan pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah.
Ancaman Blokade dan Dampaknya ke Pasar Global
Mengutip laporan Sputnik, Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan segera memulai blokade angkatan laut di Selat Hormuz.
Langkah tersebut bertujuan untuk mencegah Iran melakukan apa yang ia sebut sebagai “pemerasan”. Trump bahkan menegaskan Angkatan Laut AS akan memblokir semua kapal yang masuk maupun keluar dari Selat Hormuz hingga situasi dianggap aman.
Di sisi lain, Iran juga memberikan respons tegas. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Aziz, menyatakan setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dikenakan pungutan.
Pemerintah Iran menilai perlu adanya sistem pengelolaan dan pengendalian terhadap Selat Hormuz dan Teluk Persia. Oleh karena itu, kapal yang melintas berdasarkan kepentingan nasional Iran diwajibkan membayar biaya tertentu.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran pasar global. Jika konflik berlanjut, distribusi minyak dunia dapat terganggu, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga energi secara signifikan.
Prediksi Rupiah
Menurut Lukman Leong, ketidakpastian di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada nilai tukar, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan inflasi global.
“Apabila situasi di Timteng tidak membaik maka harga diperkirakan akan terus melambung dan meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed,” katanya.
Kenaikan harga energi akibat konflik dapat memperburuk tekanan inflasi, sehingga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, berpotensi menahan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama.
Kondisi tersebut biasanya berdampak negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS.
Untuk jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar AS.
Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan geopolitik serta arah kebijakan moneter global, yang menjadi faktor utama penentu arah pergerakan rupiah ke depan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554554/original/029135800_1776075511-IMG-20260413-WA0009__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3510179/original/051798900_1626238814-000_9EW4ZG.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505614/original/026744400_1771392012-btn2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554029/original/003537200_1776057719-1000288568.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540396/original/081619800_1774740008-sopir_truk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5152219/original/048065400_1741241200-Foto_Siaran_Pers_-_Lowongan_Magang_Bakti_BCA_Dibuka___Simak_Cara_Mendaftar_dan_Rincian_Proses_Seleksinya__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4285299/original/035458100_1673233597-Chandra_Asri_Petrochemical_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355485/original/050496700_1758339034-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5236699/original/071170200_1748516063-20250529-Harga_Pangan-ANG_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2832426/original/059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5553848/original/043434500_1776050782-Materi_2__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4013697/original/070218700_1651632437-000_329D9UW.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4805341/original/055600100_1713432002-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5255248/original/028444300_1750153123-kapal__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5297809/original/096020600_1753695872-0fe31eaa-6209-4c44-b263-d7fe8390b24a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5043925/original/065309500_1733822724-20241210-Bus_Transjakarta-HER_9.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361596/original/000746300_1758788384-eliano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219631/original/022997400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3324618/original/083189900_1608026626-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5031435/original/074222000_1733074128-AP24336517258860.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494532/original/088044000_1770295769-0L5A4471.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4156441/original/068897800_1663062670-Emas5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482252/original/052974900_1769168891-publikasi_1769163600_69734b50b3a7d.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467577/original/035269700_1767923184-AP26008792900594.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473020/original/097246400_1768383522-1000205954.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479679/original/084946100_1768985177-WhatsApp_Image_2026-01-21_at_15.06.31.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468956/original/040478600_1768038807-Al-Nassr_Cristiano_Ronaldo-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456037/original/093352400_1766787645-G9HzWs2WgAAhOsG.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456032/original/033890000_1766784357-Manchester-United-Newcastle-lisandro-martinez-sandro-tonali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456401/original/043486900_1766869079-andrea-cambiaso-juventus.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3149800/original/042221500_1591853664-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-2.jpg)

