Testimoni Eks Barcelona Soal Lionel Messi: Tak Cetak Gol, Ia tak Bahagia!

3 weeks ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Samuel Umtiti pernah merasakan langsung satu ruang ganti dengan Lionel Messi di Barcelona. Bek asal Prancis itu menyaksikan dari dekat bagaimana sosok peraih delapan Ballon d'Or tersebut bekerja setiap hari.

Keduanya bermain bersama di Camp Nou sejak 2016 hingga 2021. Dalam periode itu, Messi tetap menjadi pusat permainan sekaligus standar tertinggi di skuat Blaugrana.

Umtiti melihat sendiri bagaimana Messi menjaga konsistensi luar biasa. Lima musim beruntun ia mencetak setidaknya 30 gol, bahkan beberapa kali menembus angka 50 gol dalam semusim.

Namun di balik semua trofi dan rekor tersebut, ada sisi lain yang jarang diketahui publik. Umtiti pun akhirnya membeberkan seperti apa mentalitas Messi sebenarnya saat masih berseragam Barcelona.

Harus Selalu Cetak Gol, atau Tidak Bahagia

Selama berseragam Barcelona, Messi dikenal sebagai penentu kemenangan sekaligus simbol kesempurnaan. Ia membantu klub meraih berbagai gelar juara dari level domestik hingga level Eropa dengan kontribusi gol yang konsisten setiap musim.

Bagi Umtiti, dorongan terbesar Messi datang dari dalam dirinya sendiri. Standar yang ia pasang begitu tinggi, bahkan dalam situasi ketika tim sudah unggul telak.

Menurut Umtiti, kebahagiaan Messi sangat berkaitan dengan gol yang ia ciptakan. Jika namanya tak masuk papan skor, ada sesuatu yang terasa kurang baginya.

“Hanya ada satu, yaitu Leo. Di semua level. Hanya ia yang mampu memenangkan pertandingan, dan sangat sedikit yang bisa melakukannya. Jika kami menang 4-0 dan ia tidak mencetak gol, ia tidak senang. Dalam pikirannya, itu jelas: ia harus mencetak gol setiap saat. Itulah ciri khas para pemain hebat," serunya, seperti dikutip dari Goal.

Tak Ada Resep Menghentikan Lionel Messi

Selain mentalitasnya, Umtiti juga menyoroti kualitas teknis Messi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia menilai La Pulga memiliki kecerdasan bermain yang berbeda dari pemain lain.

Messi bukan hanya soal dribel atau penyelesaian akhir. Ia tahu kapan harus mempercepat permainan dan kapan menurunkannya demi membuka ruang.

Kemampuan membaca situasi itulah yang membuatnya selalu selangkah lebih cepat dan sangat sulit dihentikan. Ia memindai pergerakan rekan setim dan lawan sebelum menerima bola.

“Sebagai pribadi, ia adalah yang terbaik. Anda menyadari bahwa meskipun Anda telah memenangkan segalanya, tidak ada gunanya percaya bahwa Anda lebih unggul.”

“[Ia] adalah seorang pembunuh di depan gawang. Ia tahu persis kapan harus mempercepat dan kapan harus memperlambat permainan. Ia selalu melihat ke kiri dan ke kanan, memeriksa posisi setiap orang. Ia selalu memiliki keunggulan waktu. Tidak ada resep untuk bertahan melawan Leo, ia tidak dapat diprediksi," serunya.

(Goal)

Manchester United Diminta Hindari Tuchel, Ancelotti, dan Pochettino, Ada Apa?

Read Entire Article
Bisnis | Football |