Trump Koar-koar Kepemimpinan Iran Mau Kolaps, Ini Kata Teheran

2 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran buka suara mengenai siapa yang mengontrol keputusan tertinggi di tengah peperangan dengan Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump mengeklaim kepemimpinan Teheran di ambang kolaps.

Melalui kantor berita Iran Tasnim, Wakil ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran mengatakan perundingan yang sedang berjalan meski mandek dilakukan di bawah arahan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan Tansim juga menambahkan bahwa selain Mojtaba Khamenei, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf secara langsung memimpin jalannya negosiasi.

Ghalibaf telah muncul sebagai salah satu tokoh utama dalam pengambilan keputusan Iran di masa perang dan sebelumnya juga memainkan peran sentral dalam berbagai upaya diplomatik.

Ghalibaf menjadi sorotan setelah sosoknya disebut menjadi pilihan Presiden Donald Trump untuk pemimpin masa depan Iran.

Meski begitu, sejauh ini Ghalibaf justru vokal melayangkan ancaman dan ultimatum terhadap AS jika masih mencoba menggempur Iran.

Pernyataan Iran ini muncul ketika publik internasional mempertanyakan keberadaan Mojtaba Khamenei yang belum juga muncul langsung di depan publik setelah diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan sang ayah, Ali Khamenei, yang tewas dalam gempuran AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Sejumlah laporan intelijen bahkan mengungkap bahwa Mojtaba Khamenei dalam kondisi kritis karena luka yang dideritanya imbas terkena serangan AS-Israel bersama ayah dan keluargnya di awal perang.

Dalam unggahan di Truth Social pada Selasa (28/4), Trump bahkan mengeklaim Iran telah memberi tahu dirinya bahwa negara itu berada dalam "kondisi kolaps".

Trump bahkan menuturkan Iran ingin Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz "secepat mungkin" sambil mereka berupaya "menyelesaikan persoalan kepemimpinan."

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'kondisi kolaps'. Mereka ingin kami 'membuka Selat Hormuz' secepat mungkin, sementara mereka berusaha menyelesaikan persoalan kepemimpinan mereka (yang saya yakin akan bisa mereka atasi!). Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!" ucap Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Namun, ia tidak menjelaskan bagaimana pesan tersebut disampaikan maupun siapa pihak yang menyampaikannya.

Pernyataan Trump pada Selasa itu muncul di tengah laporan bahwa ia tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk melanjutkan perundingan damai putaran kedua di Islamabad, Pakistan, yang masih saja mandek.

Trump disebut tak senang lantaran dalam proposal itu Iran ingin fokus bernegosiasi terkait Selat Hormuz terlebih dulu dan mengesampingkan pembicaraan soal nuklir, salah satu tujuan utama AS memerangi Teheran sejak akhir Februari.

Hal ini juga ia ungkapkan ketika AS sendiri tengah dikejar tenggat waktu soal perang di Iran.

Berdasarkan 1973 War Powers Act (Undang-Undang Perang AS) yang memberikan kewenangan terbatas bagi Presiden untuk melibatkan negara dalam perang, Trump memiliki tenggat waktu sampai 1 Mei untuk meminta persetujuan Kongres guna melanjutkan operasi militer ke Iran.

War Powers Act menyatakan seorang presiden AS harus membatasi pengerahan pasukan dalam konflik yang sedang berlangsung setelah 60 hari, kecuali jika ia diberi otorisasi khusus untuk melanjutkan perang oleh Kongres.

Sederhananya, UU Kekuatan Perang membatasi wewenang presiden AS dalam melibatkan negara dalam konflik bersenjata di luar negeri.

(rds/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Bisnis | Football |