7 Momen yang Mendorong Perceraian Arne Slot dan Liverpool

8 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Arne Slot akhirnya harus meninggalkan jabatannya di Liverpool setelah berakhirnya musim 2025/2026 yang jauh dari apa yang diharapkan. Keberhasilan sebelumnya, di mana pelatih asal Belanda tersebut berhasil membawa The Reds meraih gelar juara Premier League dan mengamankan tiket ke Liga Champions, seolah tidak cukup untuk mempertahankan posisinya.

Sayangnya, status sebagai juara bertahan tidak mampu dipertahankan oleh tim. Liverpool bahkan tidak pernah terlibat secara serius dalam persaingan untuk meraih gelar sepanjang musim itu. Harapan sempat melonjak tinggi ketika klub melakukan dua rekor transfer terbesar di Inggris dalam satu musim panas.

Florian Wirtz bergabung dari Bayer Leverkusen, diikuti oleh kedatangan Alexander Isak dari Newcastle United dengan nilai transfer yang lebih tinggi. Namun, sejumlah insiden dan hasil pertandingan yang kurang memuaskan justru menjadi faktor yang mempercepat akhir masa kepemimpinan Slot di Anfield.

1. Hubungan Buruk dengan Mohamed Salah

Salah satu momen yang sangat krusial terjadi ketika Slot memutuskan untuk mencadangkan Mohamed Salah pada akhir tahun 2025. Pemain yang dinobatkan sebagai yang terbaik di Premier League pada musim 2024/2025 itu merasa kecewa dengan keputusan tersebut.

Setelah hanya menjadi penonton dalam dua dari tiga pertandingan antara akhir November hingga awal Desember, Salah pun mengeluarkan kritik secara terbuka. Dalam wawancara di mixed zone setelah hasil imbang 3-3 melawan Leeds United, Salah mengungkapkan bahwa ia merasa dikorbankan oleh klub dan mengindikasikan bahwa hubungan antara dirinya dan Slot telah memburuk.

Meskipun konflik sempat mereda, hubungan antara Salah dan Slot tidak pernah benar-benar pulih sepenuhnya. Ketegangan kembali meningkat setelah Liverpool mengalami kekalahan 2-4 dari Aston Villa. Melalui platform media sosial, Salah secara langsung meminta agar Liverpool kembali menerapkan gaya permainan menyerang yang menjadi ciri khas era Jurgen Klopp.

"Kami kembali menelan kekalahan musim ini dan itu sangat menyakitkan serta bukan yang pantas diterima para suporter," tulis Salah. Ia juga menambahkan, "Saya ingin melihat Liverpool kembali menjadi tim dengan sepak bola menyerang ala heavy metal yang ditakuti lawan dan kembali menjadi tim yang memenangkan trofi."

Lebih lanjut, Salah menegaskan, "Itulah sepak bola yang saya pahami dan identitas yang harus dipulihkan serta dipertahankan. Itu tidak bisa ditawar dan setiap orang yang datang ke klub ini harus menyesuaikan diri." Ia juga menyatakan, "Memenangi beberapa pertandingan sesekali bukanlah standar Liverpool. Semua tim bisa menang. Liverpool akan selalu menjadi klub yang sangat berarti bagi saya dan keluarga saya. Saya ingin melihat klub ini sukses jauh setelah saya pergi." Kini, baik Slot maupun Salah telah meninggalkan Liverpool, menandai akhir dari sebuah era yang penuh dinamika.

Read Entire Article
Bisnis | Football |