Amazon Hadapi Kritik Internal, Bangun Pusat Data di Tengah PHK 30.000 Pegawai

11 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah insinyur Amazon menyuarakan kritik terhadap strategi perusahaan yang terus menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data. Kritik ini karena pembangunan dilakukan saat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang telah memangkas sekitar 30.000 karyawan.

Kelompok karyawan tersebut menyampaikan pandangannya dalam sidang Dewan Kota Seattle, Amerika Serikat, yang membahas rencana pembatasan pembangunan pusat data AI berskala besar di wilayah tersebut.

Salah satu insinyur perangkat lunak di unit Amazon Web Services (AWS), Patrick Schloesser, menilai perusahaan-perusahaan teknologi besar tengah berlomba membangun kapasitas komputasi AI secepat mungkin.

"Telah dilaporkan bahwa tahun ini Amazon mengeluarkan US$ 200 miliar untuk belanja modal, dan sebagian besar dialokasikan untuk pusat data dan AI. Microsoft mengeluarkan US$ 190 miliar," kata Schloesser dikutip dari CNBC, Jumat (5/6/2026).

"Sementara itu, para pemimpin di perusahaan saya telah melakukan PHK terhadap 30.000 karyawan korporasi dalam delapan bulan terakhir. Bagi saya, itu menunjukkan bahwa Big Tech sangat ingin membangun kapasitas komputasi sebanyak mungkin dan secepat mungkin," tambah dia. 

Amazon menegaskan tetap menghormati hak para karyawannya untuk menyampaikan pendapat.

Sementara itu, pemerintah Kota Seattle menyetujui moratorium atau penghentian sementara selama satu tahun terhadap pembangunan pusat data AI berskala besar guna memberi waktu bagi pemerintah daerah menyusun aturan yang lebih komprehensif.

Pembatasan Pembangunan Pusat Data

Keputusan tersebut muncul setelah empat pengembang mengajukan proposal pembangunan lima fasilitas pusat data AI besar di Seattle. Namun, dua proposal di antaranya akhirnya ditarik menyusul penolakan dari masyarakat setempat.

Meski demikian, Amazon menyatakan saat ini tidak memiliki rencana membangun pusat data baru di dalam wilayah Kota Seattle.

"Untuk saat ini kami tidak memiliki rencana membangun pusat data di dalam batas wilayah Kota Seattle. Di berbagai komunitas tempat kami mengoperasikan pusat data, kami berkomitmen menjadi tetangga yang bertanggung jawab dengan berinvestasi pada pengembangan ekonomi lokal serta mengutamakan efisiensi penggunaan air dan energi yang melampaui standar industri," kata juru bicara Amazon.

Seattle menjadi salah satu dari banyak wilayah di Amerika Serikat yang mulai mempertimbangkan pembatasan pembangunan pusat data AI.

Menurut National Conference of State Legislatures, setidaknya 14 negara bagian sedang membahas aturan yang dapat menunda atau membatasi pembangunan pusat data baru. Sementara itu, laporan Data Center Watch menunjukkan proyek pusat data senilai sedikitnya US$ 156 miliar tertunda atau diblokir sepanjang 2025 akibat penolakan masyarakat dan proses hukum.

Tingkatkan Belanja Modal

Di tengah meningkatnya penolakan tersebut, perusahaan teknologi raksasa atau hyperscaler justru terus meningkatkan belanja modal mereka.

Amazon, Alphabet, Meta, dan Microsoft secara kolektif diperkirakan mengalokasikan sekitar US$ 700 miliar tahun ini untuk investasi infrastruktur, yang sebagian besar ditujukan bagi pengembangan AI.

Pada saat bersamaan, perusahaan-perusahaan tersebut juga terus melakukan efisiensi, termasuk melalui pengurangan tenaga kerja.

PHK 30.000 karyawan yang disebut Schloesser merupakan bagian dari strategi CEO Amazon, Andy Jassy, untuk memangkas birokrasi dan menyederhanakan struktur organisasi perusahaan.

Pada Februari lalu, Amazon mengumumkan rencana belanja modal sebesar US$ 200 miliar sepanjang tahun 2026, dengan sebagian besar dana dialokasikan untuk infrastruktur AI. Proyeksi tersebut kembali ditegaskan perusahaan pada April.

Schloesser pun meminta pemerintah daerah mewajibkan pengembang pusat data menggunakan energi terbarukan serta meningkatkan transparansi dalam setiap proyek pembangunan.

"Anda harus menyediakan pekerjaan yang layak dalam pembangunan fasilitas ini, dan Anda juga harus membayar pajak baru yang digunakan untuk mendanai pekerjaan di kota setiap kali melakukan PHK besar-besaran," katanya.

Amazon Employees for Climate Justice

Kritik terhadap ekspansi AI Amazon juga datang dari kelompok aktivis internal perusahaan yang tergabung dalam Amazon Employees for Climate Justice, yang beranggotakan karyawan aktif maupun mantan pegawai.

Kelompok tersebut selama beberapa tahun terakhir kerap mendesak Amazon untuk memperkuat komitmen terhadap isu iklim, kesejahteraan pekerja, dan dampak sosial dari teknologi baru.

Pada November lalu, mereka mengirim surat kepada jajaran eksekutif Amazon yang meminta perusahaan menerapkan pendekatan yang lebih bertanggung jawab dalam pengembangan AI.

Salah satu anggota kelompok tersebut, Liesl Wigand, yang telah bekerja di Amazon lebih dari 12 tahun, menilai perusahaan terlalu agresif dalam mengembangkan teknologi AI tanpa memperhitungkan biaya dan sumber daya yang dibutuhkan.

"Masalah terbesar adalah keyakinan bahwa AI harus menjadi solusi untuk segala hal, sementara sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkannya justru diabaikan. Budaya ini ada di seluruh industri teknologi. Karena itu, pemerintah daerah bersama masyarakat seharusnya menentukan aturan pembangunan pusat data," ujar Wigand.

Pada akhirnya, Komite Penggunaan Lahan dan Keberlanjutan Dewan Kota Seattle secara bulat menyetujui moratorium satu tahun terhadap pembangunan pusat data AI baru. Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah terbaru pemerintah daerah di Amerika Serikat dalam mengendalikan pertumbuhan industri AI yang semakin pesat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |