Angkat Topi, Pelatih Freiburg Akui Aston Villa Tampil Sempurna

5 days ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Julian Schuster tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya setelah SC Freiburg menderita kekalahan telak 0-3 dari Aston Villa pada partai puncak Europa League, Rabu malam. Hasil minor tersebut sekaligus mengubur impian Freiburg untuk merengkuh trofi mayor pertama di sepanjang sejarah berdirinya klub.

Jika melihat jalannya laga, wakil asal Jerman ini memang mulai kehilangan kendali permainan sejak pertengahan paruh pertama dan tampak kepayahan dalam meredam agresivitas lawan.

Aston Villa bermain dengan tingkat efektivitas yang lebih baik di sepanjang laga sehingga sangat pantas keluar sebagai kampiun. Di sisi lain, Freiburg gagal mempertahankan kedisiplinan taktik, terutama ketika mengawal area pertahanan mereka sendiri. Schuster mengamati bahwa anak asuhnya tidak sanggup menjaga intensitas performa selepas 40 menit awal yang sejatinya cukup menjanjikan.

Juru taktik berumur 41 tahun tersebut membenarkan bahwa atmosfer laga final memberikan beban psikologis yang masif bagi pasukannya. Begitu Villa berhasil mengendalikan ritme permainan, Freiburg tampak kian sulit untuk melepaskan diri dari kurungan. Kekalahan telak ini pun menyisakan kepedihan yang mendalam bagi seluruh anggota skuad.

Analisis Schuster

Schuster memberikan perhatian khusus pada proses terciptanya gol pembuka Aston Villa yang dilesakkan oleh Youri Tielemans melalui skema bola mati. Menurut pandangannya, barisan belakang Freiburg teledor dalam mengantisipasi strategi sepak pojok pendek yang diperagakan musuh secara rapi. Sedikit kelengahan di zona pertahanan tersebut langsung dikonversi menjadi gol dengan sangat baik.

Mantan gelandang Freiburg itu menyayangkan respons para pemainnya yang terlampau lambat dalam menutup pergerakan lawan. Imbasnya, Villa memiliki ruang tembak yang cukup bebas untuk menciptakan ancaman di wilayah krusial.

"Itu selalu menjadi pertimbangan tertentu tentang ruang apa yang Anda sediakan. Mereka memainkannya dengan sempurna dan optimal, tentu saja," ujar Julian Schuster.

Petaka bagi Freiburg kian bertambah sesaat sebelum turun minum. Emiliano Buendia sukses menyarangkan gol kedua setelah barisan pertahanan lawan tidak sigap dalam mengantisipasi bola muntah di dalam kotak penalti.

Schuster memaparkan bahwa para pemainnya terlalu tergesa-gesa untuk kembali ke pos masing-masing hingga mengabaikan kerapian organisasi lini belakang. Kondisi tersebut mengakibatkan Freiburg kalah dalam jumlah pemain di area pertahanan dan kehilangan kendali total atas pertandingan.

"Untuk gol kedua, itu murni kesalahan kami, terutama setelah bola kedua. Anda memiliki dorongan untuk kembali ke posisi semula dengan cepat, dan karena itu kami jelas kalah jumlah pemain," ungkap Schuster.

Read Entire Article
Bisnis | Football |