Bahlil Ibaratkan Geopolitik Dunia Mirip Malaria

2 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai kondisi geopolitik global saat ini sangat sulit diprediksi. Menurut dia, dinamika yang terjadi dapat berubah dengan cepat sehingga menyulitkan banyak negara, termasuk Indonesia, dalam menyusun proyeksi dan strategi energi jangka panjang.

Bahlil mengibaratkan situasi geopolitik dunia seperti penyakit malaria yang gejalanya naik turun. Hari ini konflik dapat mereda dan kesepakatan damai tercapai, tetapi keesokan harinya ketegangan bisa kembali meningkat.

"Dalam kondisi seperti ini, sulit menentukan baseline yang benar-benar pasti. Yang diperlukan adalah intuisi, analisis, dan kemampuan mengelola ketidakpastian," ujar Bahlil dalam Energy Forum di Hotel Borobudur, Kamis (25/6/2026).

Ia kemudian menjelaskan bahwa sektor energi Indonesia telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan akhir 1990-an. Pada 1997, produksi minyak atau lifting nasional mencapai sekitar 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari (bph). Saat itu, konsumsi minyak dalam negeri hanya sekitar 500 ribu bph sehingga Indonesia masih berstatus sebagai eksportir minyak.

Bahkan, menurut Bahlil, sekitar 43% penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ketika itu ditopang oleh sektor minyak dan gas (migas).

Indonesia Harus Impor Minyak

Namun, setelah krisis ekonomi Asia, produksi minyak nasional terus mengalami penurunan. Bahlil juga menyinggung sejumlah kebijakan yang lahir pascakrisis, termasuk rekomendasi dari lembaga internasional yang, menurutnya, turut memengaruhi arah pengelolaan sektor energi nasional.

"Lifting kita turun terus. Dalam 10 tahun terakhir target lifting yang ditetapkan dalam APBN hampir tidak pernah tercapai. Baru pada 2025 target tersebut bisa dipenuhi," katanya.

Bahlil menilai kondisi produksi minyak Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Pada 2025, lifting minyak nasional berada di kisaran 600 ribu hingga 650 ribu bph, sedangkan kebutuhan domestik telah mencapai sekitar 1,5 juta hingga 1,6 juta bph.

Akibat kesenjangan tersebut, Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Kondisi 1997 berbalik dengan kondisi sekarang. Dulu kita surplus dan mengekspor minyak, sekarang kita harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari," ujarnya.

Diversifikasi Pasokan Energi

Bahlil menjelaskan, sebelum ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, sekitar 20% hingga 25% kebutuhan impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan tersebut. Impor dilakukan dalam bentuk minyak mentah yang kemudian diolah di kilang domestik, bukan dalam bentuk bahan bakar minyak (BBM) jadi.

Karena itu, gejolak geopolitik di kawasan penghasil minyak dunia berpotensi memengaruhi ketahanan energi nasional.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan energi. Bahlil mengatakan Presiden Prabowo Subianto sejak awal telah menginstruksikan berbagai langkah antisipatif melalui pendekatan diplomatik ke sejumlah negara.

"Presiden sudah mengantisipasi kemungkinan munculnya ketegangan geopolitik. Karena itu dilakukan berbagai pendekatan dan komunikasi dengan negara-negara di Amerika, Timur Tengah, serta kawasan lainnya untuk memastikan keamanan pasokan energi Indonesia," kata Bahlil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |