Berapa Banyak Kapal yang Lewati Selat Hormuz sejak Perang AS-Iran? Ini Datanya

3 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan data pelacakan kapal, sebanyak 279 kapal tercatat melintasi Selat Hormuz sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran yang dimulai pada 28 Februari hingga 12 April 2026. Angka ini jauh di bawah rata-rata sebelum konflik yang mencapai sekitar 100 kapal per hari.

Bahkan, lalu lintas kapal di kawasan tersebut dilaporkan anjlok lebih dari 95 persen sejak perang pecah.

DIkutip dari Aljazeera, Rabu (15/4/2026), meski sempat terjadi gencatan senjata antara AS dan Iran pada 8 April, aktivitas pelayaran belum pulih sepenuhnya. Hanya sekitar 45 kapal yang tercatat masuk atau keluar selat tersebut setelah gencatan senjata berlaku.

Situasi ini menyebabkan ratusan kapal tanker dan kapal lainnya tertahan di kawasan Teluk, sehingga mengganggu distribusi energi global hingga 20 persen—menjadi salah satu gangguan pasokan bahan bakar terbesar dalam sejarah.

Blokade AS dan Ancaman Iran Perburuk Situasi

Ketegangan meningkat setelah US Central Command menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Kebijakan ini berlaku untuk semua kapal yang masuk atau keluar dari wilayah pelabuhan Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Sebagai respons, Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan dengan menargetkan pelabuhan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Bahkan, Iran sempat menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar pelayaran internasional dan menginstruksikan kapal untuk menggunakan jalur alternatif demi menghindari potensi ranjau laut.

Sebelum konflik, jalur pelayaran di Selat Hormuz diatur seperti “jalan tol” dengan dua jalur utama. Namun kini, kapal diarahkan untuk melintas melalui rute baru di dekat Pulau Larak sesuai instruksi militer Iran.

Kondisi ini menambah kebingungan bagi pelaku industri pelayaran global, karena adanya perbedaan instruksi antara otoritas Amerika Serikat dan Iran.

22 Kapal Diserang, Harga Energi Dunia Melonjak

Selain gangguan lalu lintas, serangan terhadap kapal juga meningkat. Data menunjukkan sebanyak 22 kapal telah diserang sejak konflik berlangsung.

Serangan tersebut terjadi di berbagai wilayah, termasuk perairan Uni Emirat Arab, Oman, Irak, Qatar, hingga Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Iran.

Dampak konflik ini juga merembet ke sektor energi global. Sejumlah fasilitas produksi energi di kawasan Teluk dilaporkan mengalami kerusakan, sementara harga minyak melonjak sekitar 50 persen sejak konflik dimulai.

Negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terdampak akibat ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz tidak hanya menjadi titik strategis geopolitik, tetapi juga faktor kunci stabilitas ekonomi global.

Read Entire Article
Bisnis | Football |