Dolar AS Sentuh Rp 17.855-17.857 Hari Ini 29 Mei 2026

14 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih betah di kisaran 17.800 dan mendekati 17.900 pada Jumat, (29/5/2026).

Berdasarkan data Google Finance, posisi dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.855. Di sisi lain, berdasarkan data investing.com, posisi dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.857. Sebelumnya rupiah ditutup di kisaran 17.760. Dalam satu hari, rupiah berada di kisaran 17.772-17.868.

Dalam 52 minggu ini, pergerakan dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.085-17.995. Sepanjang 2026, dolar AS menguat 9,58% terhadap rupiah.

Sementara itu, dolar AS terus melemah terhadap mata uang utama pada Jumat dan diperkirakan berakhir lebih rendah pada akhir pekan, setelah laporan AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah dan mencabut pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Mengutip Channel News Asia, kesepakatan tersebut, yang masih menunggu persetujuan Trump, akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari lagi dan memungkinkan lalu lintas mengalir melalui jalur air strategis tersebut sementara para negosiator menangani isu-isu sulit seperti program nuklir Iran, menurut empat sumber kepada Reuters.

Harga minyak turun dan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman melemah, meskipun pergerakan tersebut terkendali karena investor tetap berhati-hati terhadap resolusi yang langgeng setelah sinyal yang beragam dari Washington dan Teheran di awal pekan.

Euro diperdagangkan pada US$ 1,1653, naik 0,03 persen sejauh ini di Asia, sementara poundsterling diperdagangkan stabil di US$ 1,3445.

Dolar Australia stabil di US$ 0,7164 dan dolar Selandia Baru naik 0,2 persen menjadi US$ 0,5946, mendekati level terkuat dalam lebih dari dua minggu.

Indeks Dolar AS

Indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang, sebagian besar datar di 98,997 setelah turun 0,2 persen pada Kamis. Indeks ini sekarang berada di jalur untuk mengakhiri kenaikan selama dua minggu dan berakhir pekan ini dengan penurunan 0,3 persen.

"Mungkin saja setelah krisis di Iran, di Timur Tengah, berakhir, kita memperkirakan dolar AS akan tetap lemah," kata kepala strategi di UBS Asset Management, Massimiliano Castelli.

Konflik tersebut untuk sementara menghentikan pelemahan dolar karena permintaan akan aset aman, tetapi banyak investor tetap ingin melakukan diversifikasi dari aset dolar AS, katanya.

Yen Jepang menguat menjadi 159,27 karena pelemahan dolar secara luas, menjauh dari level psikologis signifikan 160 per dolar yang sebelumnya menyebabkan intervensi oleh otoritas Jepang.

Dari sisi data ekonomi, inflasi AS meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun pada April, didorong oleh kenaikan harga energi akibat perang Iran dan memperkuat pandangan para ekonom Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tidak berubah hingga tahun depan.

Prediksi Rupiah Sentuh 18.000 terhadap Dolar AS

Sebelumnya, nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026 dan berpotensi mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Hal itu dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Ada kemungkinan hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp 18.000. Kemungkinan besar," kata Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuabi kepada Liputan6.com, Jumat (29/5/2026).

Tekanan eksternal akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur disebut menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Rupiah. Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026  sudah menunjukkan tekanan yang sangat besar. Saat memberikan keterangannya, rupiah disebut telah melemah sekitar 70 poin ke level Rp 17.870 per dolar AS.

"Hari Kamis, 28 Mei cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat satu lulis ini, rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp 17.870," ujarnya.

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Melonjak

Ibrahim menilai, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang. Ia menyoroti meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan terhadap instalasi di wilayah Iran Selatan.

Situasi tersebut dinilai berpotensi memicu balasan dari Iran dan meningkatkan eskalasi perang di kawasan. Selain itu, ancaman penyerangan terhadap Oman serta pengerahan kapal-kapal militer Amerika Serikat ke Israel disebut memperbesar risiko konflik skala besar di Timur Tengah.

Menurut Ibrahim, ketegangan di kawasan tersebut juga berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz dan Laut Oman.

Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia. "Kemudian ketegangan di Eropa maupun di Timur Tengah ini membuat harga minyak kembali di atas USD 92 bahkan sekarang di USD 96.

Untuk WTI ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak akibat tingginya geopolitik kemudian tingginya transportasi logistik yang membuat harga-harga di Amerika ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan terutama gasolin," ujarnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |