Emas Jadi Pilihan Investasi yang Aman di Tengah Gejolak Geopolitik, Kenapa?

11 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Gejolak geopolitik seringkali menciptakan ketidakpastian signifikan di pasar keuangan global, namun di balik tantangan tersebut selalu ada peluang bagi investor yang memiliki strategi matang. Memahami dampak serta cara menyikapinya menjadi kunci utama untuk melindungi aset dan bahkan meraih keuntungan optimal.

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor dihadapkan pada ragam pilihan investasi di tengah gejolak geopolitik yang membutuhkan pertimbangan cermat. Keputusan investasi yang tepat dapat membantu mengamankan portofolio dari risiko kerugian dan justru membuka jalan bagi pertumbuhan modal.

Artikel ini akan mengulas waktu terbaik untuk berinvestasi, strategi yang direkomendasikan, serta aset-aset yang dianggap aman atau safe haven seperti emas di tengah ketegangan global, agar investor dapat tetap tenang dan mengambil langkah bijak.

Dampak Gejolak Geopolitik pada Pasar Investasi

Gejolak geopolitik, seperti konflik regional atau perang global, secara langsung memicu peningkatan volatilitas dan ketidakpastian di pasar modal. Kondisi ini membuat investor kesulitan menilai risiko dan potensi keuntungan, seringkali menyebabkan pergerakan harga yang liar dan tidak terduga.

Fluktuasi harga komoditas juga menjadi dampak signifikan, terutama jika konflik terjadi di negara-negara penghasil sumber daya alam. Lonjakan harga minyak, gas, dan pangan dapat terjadi, seperti yang terlihat dari ketegangan di Timur Tengah atau konflik Rusia-Ukraina yang memicu kenaikan harga minyak mentah.

Beberapa sektor investasi sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik. Sektor energi, misalnya, sangat rentan terhadap gangguan pasokan yang dapat mendorong harga melonjak, sementara sektor teknologi dan saham pertumbuhan cenderung mengalami koreksi tajam karena investor beralih ke aset yang lebih aman. Sebaliknya, sektor pertahanan justru seringkali mengalami peningkatan nilai saham seiring dengan peningkatan belanja militer pemerintah.

Ketidakpastian geopolitik juga dapat memicu inflasi dan penarikan modal (capital outflow). Kenaikan harga barang mendorong bank sentral menaikkan suku bunga, yang berdampak pada biaya pinjaman. Selain itu, investor global cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang untuk mengurangi risiko, menekan nilai tukar mata uang lokal dan meningkatkan volatilitas pasar.

Strategi Investasi di Tengah Gejolak Geopolitik

Waktu terbaik untuk berinvestasi di tengah gejolak geopolitik seringkali bukan saat pasar tenang, melainkan ketika terjadi koreksi atau penurunan harga akibat kepanikan pasar. Investor kawakan seperti Lo Kheng Hong menyarankan untuk membeli saham saat situasi sedang buruk karena harganya cenderung lebih murah, sejalan dengan prinsip value investing.

Diversifikasi portofolio menjadi strategi krusial. Ini mencakup diversifikasi sektoral agar tidak menumpuk modal di sektor sensitif, diversifikasi geografis untuk mencari perlindungan di pasar yang lebih tangguh, serta diversifikasi kelas aset seperti saham, obligasi, dan reksa dana. Diversifikasi membantu menyeimbangkan potensi risiko dan keuntungan, karena tidak semua aset akan terpengaruh negatif secara bersamaan.

Fokus pada aset defensif atau defensive stocks juga direkomendasikan. Saham dari perusahaan yang produk atau jasanya tetap dibutuhkan masyarakat, terlepas dari kondisi ekonomi atau politik, memiliki permintaan stabil dan arus kas yang kuat, contohnya di sektor kebutuhan pokok, kesehatan, atau utilitas.

Investor juga perlu memanfaatkan volatilitas dengan smart order untuk membeli saham bagus di harga diskon, serta fokus pada investasi jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa pasar modal selalu berhasil bangkit dan mencapai level tertinggi baru dalam jangka panjang, sehingga investor diharapkan tidak panik dan tetap disiplin pada rencana investasi. Penting pula untuk tetap rasional, disiplin, dan mempelajari krisis ekonomi masa lalu.

Pilihan Investasi Aman di Tengah Gejolak Geopolitik

Emas diakui secara luas sebagai aset safe haven utama di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi. Nilainya cenderung kebal terhadap inflasi dan tidak terlalu terpengaruh oleh situasi ekonomi atau politik, berfungsi sebagai lindung nilai terhadap fluktuasi mata uang dunia. Meskipun harga emas bisa fluktuatif, aset ini cenderung mengalahkan inflasi dalam jangka panjang.

Selain emas, Robert Kiyosaki merekomendasikan perak sebagai salah satu aset pertahanan terbaik terhadap potensi keruntuhan finansial. Ia juga menyebut Bitcoin (BTC) sebagai aset penting yang bisa menjadi pegangan dalam menghadapi "kiamat finansial", menunjukkan potensi aset digital sebagai safe haven baru.

Mata uang kuat atau safe haven currencies juga menjadi pilihan. Dolar AS (USD) dianggap sebagai mata uang safe haven utama karena ukuran dan kekuatan perekonomian AS, serta statusnya sebagai mata uang cadangan utama dunia. Investor sering mengalihkan dana ke Dolar AS saat terjadi ketidakpastian global.

Obligasi pemerintah, seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) dan reksa dana pendapatan tetap, juga berfungsi sebagai jangkar portofolio. Aset-aset ini menawarkan stabilitas di tengah ketidakpastian global, karena investor cenderung mencari keamanan pada instrumen utang negara yang dianggap minim risiko.

Kinerja Investasi Terkini di Tengah Gejolak Geopolitik

Gejolak geopolitik global kembali menekan kinerja hampir seluruh instrumen investasi pada Maret 2026. Ketidakpastian pasar yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah, serta lonjakan harga energi, membuat investor cenderung bersikap hati-hati dan memicu koreksi di berbagai aset.

Data menunjukkan, emas spot membukukan return minus 11,5% secara bulanan (MoM) dan turun 1,4% sejak awal tahun (YtD) pada akhir Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan signifikan, yakni 14,4% MoM dan 15,4% YtD, mencerminkan sentimen negatif di pasar saham domestik.

Di tengah pelemahan berbagai aset, nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah (USD/IDR) justru menunjukkan penguatan positif sebesar 1,5% MoM. Penurunan kinerja aset investasi ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan potensi tekanan ekonomi global.

Hendra, seorang pengamat pasar, menekankan pentingnya disiplin manajemen risiko dan tidak terburu-buru melakukan pembelian agresif. Ia menyarankan akumulasi bertahap pada saham fundamental kuat saat harga di area support menarik, serta menjaga porsi kas untuk mengantisipasi koreksi lanjutan. Investor juga perlu menghindari panic selling dan fokus pada emiten dengan kinerja keuangan solid serta prospek bisnis yang jelas.

Read Entire Article
Bisnis | Football |