Pengamat Bilang Pelemahan Rupiah Picu PHK

1 hour ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih membayangi dunia usaha nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan melonjaknya biaya impor akibat kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dinilai semakin menekan perusahaan yang bergantung pada bahan baku dan barang modal dari luar negeri.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah yang kini berada di kisaran Rp 17.794 per dolar AS telah menambah beban biaya produksi sejumlah sektor industri.

Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia yang terus meningkat juga mendorong kenaikan biaya operasional perusahaan. Menurutnya, kombinasi kedua faktor tersebut mulai berdampak pada aktivitas usaha dan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.

"Kita lihat bahwa dampak dari kenaikan harga minyak ini pun juga sudah berdampak terhadap PHK massal ya di Indonesia," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Rabu (27/5/2026).

Ibrahim mengungkapkan jumlah pekerja yang terkena PHK sepanjang Januari hingga Mei 2026 telah mencapai 15.425 orang. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya dan berpotensi terus bertambah apabila tekanan ekonomi belum mereda.

"Nah, kita melihat bahwa PHK massal dari bulan Januari ya sampai di bulan Mei ini pun juga meningkat cukup tajam di 15.425 orang itu yang kena PHK yang kemungkinan besar dalam bulan-bulan berikutnya pun juga akan mengalami kenaikan," ujarnya.

Perusahaan Tergantung Impor Rentan PHK

Ia menilai perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Pelemahan rupiah membuat biaya pembelian bahan baku dari luar negeri semakin mahal, sementara kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga jual produk tidak selalu sejalan dengan kenaikan biaya produksi.

Akibatnya, sejumlah perusahaan terpaksa melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha. Salah satu langkah yang umum dilakukan adalah mengurangi jumlah tenaga kerja guna menekan beban operasional.

"Banyak sekali perusahaan-perusahaan yang ketergantungan ke impor ya barang-barang dari luar negeri ya ini mengalami satu permasalahan yang cukup luar biasa," ujarnya.

Harga Minyak Membebani Industri

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan tekanan terhadap dunia usaha semakin besar setelah harga minyak mentah dunia terus bergerak naik. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan telah mencapai sekitar USD 92 per barel pada Selasa (26/5) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya logistik, transportasi, dan energi yang harus ditanggung pelaku usaha. Bagi industri manufaktur dan sektor yang menggunakan energi dalam jumlah besar, kondisi ini dapat menggerus margin keuntungan secara signifikan.

Di sisi lain, pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku dan barang modal meningkat. Perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk memperoleh jumlah dolar AS yang sama guna membayar kebutuhan impor.

"Nah kita harus lihat bahwa kenaikan harga minyak mentah yang cukup tinggi ini pun juga berdampak terhadap impor minyak Indonesia. Ya ini kita bicara masalah domestik," pungkasnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |