Harga Emas Anjlok ke Level Terendah 6 Bulan

18 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia mengalami tekanan hebat dan menyentuh level terendah dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini terjadi ketika investor mulai melepas kepemilikan emas karena meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi yang lebih tinggi dapat memaksa bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya pada tahun ini.

Mengutip CNBC, Jumat (12/6/2026), kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus sempat menyentuh US$ 4.046,20 per ounce pada perdagangan Kamis. Level tersebut menjadi yang terendah sejak November tahun lalu.

Dalam sepekan terakhir, harga emas telah turun sekitar 6,3 persen. Jika tren ini berlanjut hingga penutupan pekan, penurunan tersebut akan menjadi pelemahan mingguan kedua secara berturut-turut sekaligus menjadi kinerja terburuk sejak pertengahan Maret, ketika harga emas merosot hampir 9,62 persen.

Pada perdagangan terakhir, harga emas tercatat masih melemah 0,5 persen ke posisi US$ 4.111,10 per ounce.

Padahal selama ini emas dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen investasi yang biasanya diburu ketika ketidakpastian ekonomi meningkat. Logam mulia juga sering dipilih investor sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi.

Namun, berbeda dengan obligasi atau deposito, emas tidak memberikan imbal hasil. Karena itu, harga emas sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga riil jangka panjang.

Inflasi Naik, Pasar Khawatir The Fed Ubah Arah Kebijakan

Salah satu faktor yang memengaruhi pasar adalah konflik Iran yang kini memasuki bulan keempat. Perang tersebut mendorong kenaikan harga energi dan berbagai komoditas lainnya, sehingga memperbesar tekanan inflasi global.

Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS pada Mei meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan itu terutama dipicu lonjakan harga produk-produk terkait energi.

Di sisi lain, laporan ketenagakerjaan AS untuk Mei juga menunjukkan hasil yang lebih kuat dibandingkan perkiraan pasar. Kombinasi dua faktor tersebut membuat pelaku pasar mulai memperkirakan The Fed perlu menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun untuk menekan laju kenaikan harga.

Pada pertemuan pekan depan, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Pertemuan itu menjadi rapat pertama yang dipimpin Ketua The Fed, Kevin Warsh.

Survei menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan suku bunga tidak akan berubah sepanjang tahun ini. Padahal pada awal tahun, banyak analis memperkirakan akan terjadi beberapa kali pemangkasan suku bunga.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Tekan Harga Emas

Pelaku pasar justru menilai peluang kenaikan suku bunga masih cukup besar. Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, saat ini pasar memperkirakan peluang sebesar 67 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Jika suku bunga benar-benar naik dan mampu meredam inflasi, maka aset berbasis dolar AS seperti obligasi pemerintah atau Treasury akan menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan emas.

Selain faktor fundamental, tekanan terhadap harga emas juga datang dari sisi teknikal.

Berdasarkan analisis grafik harga, prospek jangka pendek emas masih terlihat lemah. Harga emas baru saja menembus ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) untuk pertama kalinya sejak September 2023.

Analis dari Citigroup menilai kondisi tersebut merupakan sinyal negatif yang cukup kuat bagi pergerakan emas dalam jangka pendek.

Citigroup mengaku telah bersikap hati-hati terhadap emas sejak konflik di Timur Tengah meningkat pada Maret lalu. Penutupan Selat Hormuz yang mendorong kenaikan biaya energi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pandangan tersebut.

Meski demikian, Citigroup tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang.

JPMorgan: Investor Mulai Tinggalkan Debasement Trade

Dalam laporan terbarunya, JPMorgan melihat adanya penarikan dana secara luas dari strategi investasi yang dikenal sebagai "debasement trade", baik oleh investor ritel maupun institusi.

Strategi tersebut umumnya didasarkan pada kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang, membengkaknya defisit pemerintah, inflasi jangka panjang, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Menurut JPMorgan, tren penarikan dana yang mulai terlihat beberapa pekan lalu masih berlanjut hingga saat ini.

"Kami melihat sinyal momentum yang menunjukkan investor terus mengurangi eksposur terhadap debasement trade. Polanya sejak awal konflik Iran serupa dengan arus dana ETF dan posisi kontrak berjangka," tulis JPMorgan dalam laporannya.

Data JPMorgan menunjukkan dana keluar dari ETF emas mencapai sekitar US$ 20 miliar hingga pekan yang berakhir pada 5 Juni, setelah sebelumnya sempat mencatat arus masuk yang terbatas.

Di pasar kontrak berjangka, investor juga terus mengurangi eksposur terhadap emas. JPMorgan mencatat pengurangan posisi tersebut sudah dimulai sejak akhir Februari dan berlangsung relatif konsisten sejak pertengahan April.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |