Harga Emas Dunia Kembali Loyo Tersengat Penguatan Dolar AS

4 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia merosot pada perdagangan Selasa, 21 April 2026. Harga emas tergelincir seiring dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat dan investor tetap berhati-hati karena menantikan pembicaraan sementara antara AS-Iran dan sidang konfirmasi Senat untuk calon ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh pada Selasa sore.

Mengutip CNBC, Rabu, (22/4/2026), harga emas spot turun 0,9% menjadi USD 4.777,77 per ounce pada pukul 12.53 GMT. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,7% menjadi USD 4.797,90.

Dolar AS sedikit menguat, membuat emas batangan yang dihargai dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. “Pasar ragu-ragu tentang potensi kesepakatan antara AS dan Iran, mengingat perkembangan akhir pekan dan retorika yang beragam. Ini menahan para pelaku pasar bullish untuk saat ini dan dapat membatasi harga emas dalam kisaran yang ketat sampai kepastian tiba,” ujar Analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda.

Ia menuturkan, emas diperkirakan diperdagangkan antara USD 4.750 dan USD 4.850, dengan pergerakan di atas angka tersebut bergantung pada pengumuman dari Timur Tengah.

AS menyatakan keyakinan pembicaraan damai dengan Iran akan berjalan lancar di Pakistan dan seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran sedang mempertimbangkan untuk bergabung, bahkan ketika kementerian luar negeri negara itu mengutuk AS atas apa yang disebutnya sebagai serangan terhadap kapal dagang Iran Touska pada akhir pekan.

Harga minyak turun karena ekspektasi pembicaraan damai akan menyebabkan lebih banyak pasokan mengalir dari wilayah penghasil minyak utama di Teluk.

Kekhawatiran inflasi meningkat seiring dengan harga minyak, yang telah melonjak sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Meskipun emas dipandang sebagai lindung nilai inflasi, permintaan untuk aset yang tidak menghasilkan imbal hasil ini menurun ketika suku bunga tinggi.

Pasar Bergejolak! Harga Emas Turun ke Level Terendah

Sebelumnya, harga emas dunia mengalami tekanan pada awal pekan ini. Logam mulia tersebut bahkan sempat menyentuh level terendah dalam sepekan, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Penurunan harga emas terjadi di tengah penguatan dolar AS serta lonjakan harga minyak global. Kondisi ini memicu ketidakpastian di pasar keuangan dan membuat investor cenderung mengalihkan asetnya.

BACA JUGA:Harga Emas 24 Karat Hari Ini 21 April 2026 di Antam, Pegadaian, hingga Hartadinata

Dikutip dari CNBC, Selasa (21/4/2026), harga emas spot tercatat turun 0,3% ke posisi USD 4.818,03 per ons, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah sejak 13 April. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni melemah 0,8% menjadi USD 4.839,10 per ons.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Mata uang tersebut sempat mencapai level tertinggi dalam sepekan, sebelum akhirnya hanya naik tipis.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Amerika Serikat mengambil alih kapal kargo milik Iran. Peristiwa ini memicu kekhawatiran akan gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara.

Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak melonjak sekitar 5% karena kekhawatiran gangguan pasokan, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.

Daya Tarik Emas Berkurang

Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai kondisi ini memperbesar tekanan terhadap emas.

“Situasi di Timur Tengah jelas kembali meningkat, sehingga proyeksi harga emas kami sedikit condong ke arah penurunan di tengah meningkatnya risiko lonjakan tajam harga minyak, yang dapat mendorong dolar dan imbal hasil obligasi lebih tinggi,” ujarnya.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan, yang semakin mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Di tengah kondisi suku bunga global yang tinggi, daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi mulai berkurang. Bahkan, suku bunga diperkirakan akan tetap tinggi lebih lama jika tekanan inflasi meningkat akibat konflik geopolitik.

Read Entire Article
Bisnis | Football |