Harga Minyak Melesat Setelah Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat, Brent Menyentuh Level Segini

3 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia menguat pada Kamis, 23 April 2026. Lonjakan harga minyak didorong ketegangan meningkat di Selat Hormuz dengan Amerika Serikat (AS) dan Iran memberlakukan blokade.

Mengutip CNBC,  Jumat (24/4/4026), harga minyak Brent naik sekitar 3% ditutup menjadi USD 105,07 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bertambah sekitar 3% dan ditutup menjadi USD 95,85.

Selain itu, Iran terus menuntut agar kapal-kapal mendapatkan izinnya untuk melintasi selat tersebut. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis pekan ini mengklaim AS memiliki “kendali penuh” atas jalur laut tersebut.

Trump menuturkan, kapal-kapal perlu mendapatkan izin dari angkatan laut AS untuk melintasi selat tersebut.

AS telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April 2026.

Lalu lintas kapal tanker minyak melalui selat tersebut tetap sangat rendah karena AS dan Iran sama-sama telah menyita kapal selama gencatan senjata yang rapuh. Iran menahan dua kapal kargo di selat tersebut pada hari Rabu, sementara AS telah mencegat beberapa kapal tanker minyak Iran.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel mengatakan pada Kamis kalau Yerusalem sedang menunggu lampu hijau dari AS untuk melanjutkan perang melawan Iran dan "menyelesaikan penghapusan dinasti Khamenei."

Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada awal perang. Ia digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Harga minyak juga melonjak pada Kamis setelah stasiun televisi Israel N12 melaporkan bahwa negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengundurkan diri karena campur tangan dari Garda Revolusi negara tersebut.

CNBC belum mengkonfirmasi laporan tersebut, tetapi kemungkinan intervensi oleh Garda Revolusi menimbulkan kekhawatiran pasar, Iran akan mengambil sikap yang lebih keras selama negosiasi dengan AS.

Harga Minyak Dunia Tembus USD 100, Aksi Iran Jadi Penyebab

Sebelumnya, harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kenaikan terjadi setelah Iran mengklaim telah menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang gencatan senjata.

Mengutip CNBC, Kamis (23/4/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik lebih dari 3% dan ditutup di level USD 101,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat lebih dari 3% ke posisi USD 92,96 per barel.

Lonjakan harga ini terjadi karena pasar menilai perpanjangan gencatan senjata belum tentu akan membuka kembali jalur ekspor minyak melalui Selat Hormuz.

Selama konflik berlangsung, ekspor minyak dari negara-negara Teluk Timur Tengah mengalami penurunan drastis, bahkan disebut sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz pada Rabu dilaporkan masih sangat terbatas. Para pelaku pengiriman menghadapi risiko keamanan yang tinggi di jalur strategis tersebut.

Iran Sita Kapal

Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyita dua kapal kontainer yang mencoba melintas tanpa izin di wilayah tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Tasnim.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran, meskipun gencatan senjata masih berlangsung.

Trump diketahui memperpanjang gencatan senjata sementara pada Selasa, setelah rencana AS untuk menggelar putaran kedua negosiasi damai dengan Iran di Pakistan gagal terlaksana.

Presiden AS itu juga mengklaim bahwa kepemimpinan Iran tengah terpecah. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata akan tetap berlaku hingga Iran mampu menyampaikan proposal terpadu untuk mengakhiri konflik dengan Washington dan Israel.

Perpanjangan gencatan senjata ini menegaskan bahwa jalan menuju de-eskalasi konflik masih penuh ketidakpastian. Meski langkah tersebut menunda risiko serangan militer dalam waktu dekat, belum ada terobosan diplomatik yang benar-benar membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal komersial.

Iran Masih Percaya Diri

Presiden Rapidan Energy, Bob McNally, menilai bahwa meskipun kepemimpinan Iran terlihat terpecah, pemerintahan di Teheran masih berjalan efektif.

Ia menyebut Iran percaya diri memiliki posisi tawar lebih kuat dibandingkan AS.

“Mereka siap bertahan dalam kondisi sulit selama enam bulan untuk mempertahankan kendali atas jalur vital ini, sambil menunggu harga minyak naik lebih tinggi dan pasar saham melemah,” ujar McNally.

“Mereka yakin akan keluar dari konflik ini dengan tetap bertahan, memberi pelajaran, dan bahkan mungkin menguasai sebagian Selat Hormuz,” tambahnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |