Investasi INA Tembus Rp 74,5 Triliun

10 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki tahun kelima operasionalnya, Indonesia Investment Authority (INA) mencatat penyaluran investasi sekitar Rp 74,5 triliun atau setara US$ 4,7 miliar bersama para mitra investasi. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia yang dinilai tetap menjanjikan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten berada di atas 5%, realisasi investasi yang terus meningkat, hingga fokus pemerintah dalam mengembangkan sektor-sektor strategis menjadi faktor yang memperkuat daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang.

Dari total investasi tersebut, penyaluran dana yang berasal dari INA mencapai Rp 33,3 triliun atau sekitar US$ 2,1 miliar. Sementara itu, lembaga pengelola dana abadi tersebut juga berhasil menarik Penanaman Modal Asing (PMA) kumulatif sebesar Rp 41,2 triliun atau sekitar US$ 2,6 miliar.

Sejalan dengan pertumbuhan investasi, total Assets Under Management (AUM) INA juga meningkat menjadi Rp 146,2 triliun atau sekitar US$ 9,1 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan saat pertama kali berdiri.

"Lima tahun perjalanan INA mencerminkan bagaimana kepercayaan investor global terhadap Indonesia terus diterjemahkan menjadi investasi jangka panjang di berbagai sektor strategis. Di tengah kompleksitas global, INA tetap berfokus pada tata kelola yang baik, penciptaan nilai jangka panjang, serta praktik investasi yang disiplin," ujar Ketua Dewan Direktur Indonesia Investment Authority, Oki Ramadhana dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7/2026)

“Ke depan, INA akan terus menjalankan mandatnya dengan memperkuat kemitraan investasi, menghubungkan modal jangka panjang dengan peluang investasi strategis, serta mendukung pembangunan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berkelanjutan."

Strategi Investasi

Untuk memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan nasional, INA menetapkan tiga strategi investasi utama sepanjang 2025. Pertama, meningkatkan investasi pada lima sektor prioritas, yakni transportasi dan logistik, energi hijau, digital dan kecerdasan buatan (AI), kesehatan, serta advanced materials.

Kedua, INA melanjutkan penyesuaian portofolio menuju kelas aset yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, seperti private equity, real estate, dan hybrid capital. Ketiga, memperluas investasi melalui skema investasi tidak langsung guna membuka akses terhadap peluang global sekaligus memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis.

Hingga kini, sektor transportasi dan logistik menjadi portofolio terbesar INA dengan porsi 44%. Bersama para mitra, INA telah mendukung pembangunan lebih dari 250 kilometer jalan tol, infrastruktur pelabuhan, fasilitas logistik utama, hingga sekitar 200.000 meter persegi properti logistik modern.

Sementara itu, sektor digital dan AI menyumbang 29,5% dari total alokasi investasi. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan menara telekomunikasi, jaringan serat optik sepanjang lebih dari 57.000 kilometer, hingga pusat data hyperscale yang menjadi fondasi pengembangan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia.

Kontribusi ke Sektor Strategis

Kontribusi INA juga terus meluas ke berbagai sektor strategis lainnya. Di bidang energi hijau, investasi INA mendukung pengembangan salah satu portofolio panas bumi terbesar di Indonesia dengan produksi listrik bersih sekitar 395 GWh per bulan. Proyek tersebut juga berkontribusi mengurangi emisi karbon sekitar 0,3 juta ton setara CO₂ setiap bulan.

Pada sektor kesehatan, INA mendukung pengembangan jaringan rumah sakit dan platform farmasi ritel terbesar di Indonesia. Selain itu, INA juga berinvestasi pada fasilitas fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia sekaligus terbesar di Asia Tenggara yang diproyeksikan mampu mengolah hingga 600.000 liter plasma per tahun.

Di sektor advanced materials, INA turut mengembangkan salah satu platform produksi katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) terbesar di dunia di luar Tiongkok. Kapasitas produksinya ditargetkan mencapai 30.000 ton per tahun pada 2025 dan terus bertambah pada 2026 serta 2027 untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global.

Hingga saat ini, INA telah mengantongi komitmen investasi sekitar US$ 25 miliar dari 40 mitra strategis di 15 negara. Pada 2025, INA juga mempertahankan peringkat investment grade dari Fitch Ratings, yakni BBB untuk skala internasional dan AAA(idn) untuk skala nasional. Dari sisi tata kelola, INA meraih skor Governance, Sustainability, and Resilience (GSR) sebesar 72% berdasarkan penilaian Global SWF, lebih tinggi dibandingkan rata-rata sovereign wealth fund dunia yang berada di level 53%.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |