Investor Menahan Transaksi di Pasar Logam Mulia, Reli Harga Emas Tertahan

3 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas bergerak mendekati stabil pada perdagangan awal di Amerika Serikat, Jumat, 24 April 2026, seiring pelaku pasar dan investor menahan posisi di pasar logam mulia sambil mencermati perkembangan geopolitik global.

Mengutip laman Kitco.com, Minggu (26/4/2026) emas kontrak Juni tercatat naik tipis USD 1,60 ke level USD 4.725,00, sementara perak kontrak Mei menguat USD 0,316 ke USD 75,85.

Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor menjelang akhir pekan, terutama di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan dinamika ekonomi global yang terus berkembang.

Perkembangan perang di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menahan pergerakan harga emas. Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui blokade angkatan laut, dengan tujuan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan damai.

Presiden AS, Donald Trump, bahkan memerintahkan militer untuk menindak tegas kapal yang diduga memasang ranjau di Selat Hormuz. Langkah ini disebut sebagai upaya strategis untuk menekan ekspor minyak Iran, yang merupakan sumber utama pendapatan negara tersebut.

Di sisi lain, terdapat sedikit sinyal positif dengan rencana perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu. Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi sehingga investor cenderung menahan transaksi besar di pasar logam mulia.

Lonjakan Harga Energi Picu Risiko Inflasi Global

Dampak konflik juga mulai merembet ke sektor ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga energi. Harga minyak mentah dunia saat ini berada di kisaran USD 97,50 per barel, yang meningkatkan biaya produksi di berbagai negara.

Kenaikan biaya tersebut mulai tercermin di China, di mana eksportir menaikkan harga barang, khususnya produk berbasis turunan minyak seperti plastik dan bahan kimia. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi global dapat kembali meningkat di atas 3% pada 2026.

Situasi ini menjadi faktor pendukung bagi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), meskipun untuk saat ini pergerakannya masih tertahan karena pasar menunggu arah kebijakan dan perkembangan konflik lebih lanjut.

Sentimen Pasar Beragam

Di tengah ketidakpastian, sebagian investor mulai kembali mengambil risiko melalui strategi carry trade di pasar mata uang. Strategi ini memanfaatkan perbedaan suku bunga antarnegara, yang kini kembali menarik seiring meredanya volatilitas pasar.

Gencatan senjata sementara di Timur Tengah turut membantu menenangkan pasar keuangan global, mendorong minat investor terhadap aset berisiko. Hal ini terlihat dari stabilnya pasar obligasi AS dengan imbal hasil Treasury 10 tahun di kisaran 4,33%, serta melemahnya indeks dolar AS.

Selain itu, hubungan Amerika Serikat dan China juga menunjukkan sinyal perbaikan menjelang rencana pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping pada pertengahan Mei, yang turut memberi sentimen positif ke pasar.

Harga Emas Dunia Menguat pada 24 April 2026

Sebelumnya, harga emas naik pada Jumat, 24 April 2026. Namun, harga emas berada di jalur koreksi pertama secara mingguan dalam lima pekan terakhir. Koreksi harga emas sepekan itu terjadi seiring kekhawatiran inflasi yang masih ada dan ketidakpastian situasi perang Amerika Serikat (AS)-Iran membuat pasar tetap waspada. Lalu bagaimana harga emas perhiasan di Raja Emas dan Laku Emas?

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,7% menjadi USD 4.724,19 per ounce, setelah naik lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan. Selama sepekan, harga emas turun lebih dari 2%. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni naik 0,4% menjadi USD 4.741,30.

Logam mulia ini merosot sepanjang Maret karena perang AS-Iran memperkuat dolar dan memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi yang membebani permintaan emas.

Baru-baru ini, konflik tersebut telah mengalami kebuntuan, dengan Selat Hormuz yang penting masih ditutup meskipun serangan militer oleh negara-negara yang terlibat telah berkurang. Hal itu membuat para investor harus mengisi kekosongan informasi atau bereaksi terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang mengimbangi harapan akan kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan ancaman untuk melanjutkan serangan.

Sentimen Harga Emas Lainnya

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dijadwalkan berada di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Jumat untuk membahas proposal untuk memulai kembali pembicaraan perdamaian dengan Amerika Serikat, tetapi tidak dijadwalkan untuk bertemu dengan negosiator AS, kata sumber pemerintah Pakistan. Secara terpisah, Israel dan Lebanon memperpanjang gencatan senjata mereka selama tiga minggu.

“Ini benar-benar pasar yang didorong oleh berita utama karena semua ketidakpastian, berita utama saat ini tampaknya mendukung semacam kesepakatan perdamaian dengan Iran, pasar saat ini melihat situasi positif secara keseluruhan. Energi juga sedikit menurun,” ujar Analis RJO Futures, Daniel Pavilonis.

Harga minyak turun pada Jumat, tetapi patokan tersebut melonjak minggu ini setelah putaran kedua pembicaraan antara AS dan Iran gagal terwujud, dan karena Iran memamerkan kendalinya atas Selat Hormuz.

Harga minyak yang lebih tinggi dapat memicu inflasi, meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga.

“Emas mengalami penurunan (minggu ini) karena harga minyak naik, begitu pula ekspektasi kenaikan suku bunga, dolar, imbal hasil, semuanya berkorelasi,” tutur analis UBS Giovanni Staunovo.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun acuan naik minggu ini, meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas, sementara dolar berada di jalur untuk kenaikan mingguan pertamanya dalam tiga minggu, membuat emas batangan lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Read Entire Article
Bisnis | Football |