Ketika Erling Haaland Dibuat Mati Kutu oleh Inggris

7 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Erling Haaland akhirnya merasakan bagaimana rasanya benar-benar dibatasi di Piala Dunia 2026. Penyerang Norwegia itu gagal memberi pengaruh besar saat timnya kalah 1-2 dari Inggris pada perempat final setelah perpanjangan waktu.

Sepanjang turnamen, Haaland menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan. Tujuh gol yang ia cetak saat menghadapi Irak, Senegal, Pantai Gading, dan Brasil membuatnya tampil sebagai salah satu penyerang paling berbahaya di kompetisi.

Namun, Inggris datang dengan pendekatan berbeda. The Three Lions berhasil menutup hampir seluruh jalur yang biasa dimanfaatkan Haaland untuk menciptakan peluang.

Keberhasilan meredam Haaland menjadi salah satu faktor utama yang membawa Inggris melangkah ke semifinal. Jude Bellingham memang mencetak dua gol kemenangan, tetapi kerja kolektif lini belakang juga memiliki peran yang sama pentingnya.

Marc Guehi dan John Stones Jalankan Tugas dengan Sempurna

Mengawal Haaland bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu pemain saja. Inggris menerapkan penjagaan kolektif dengan memutus ruang gerak sang penyerang sejak awal pertandingan.

Marc Guehi dan John Stones menjadi aktor utama dalam skema tersebut. Keduanya memanfaatkan pengalaman menghadapi Haaland di Manchester City untuk membaca pergerakan dan menutup area yang paling berbahaya.

Strategi itu membuat Haaland kesulitan menerima bola dalam posisi ideal. Ia lebih sering dipaksa bergerak menjauh dari kotak penalti sehingga ancamannya jauh berkurang.

Statistik Haaland Turun Drastis

Produktivitas Haaland mengalami penurunan dibanding laga sebelumnya melawan Brasil. Ia hanya mencatat dua tembakan tepat sasaran, sembilan percobaan umpan dengan tujuh yang berhasil, serta menempuh jarak lari 8,9 kilometer sebelum digantikan pada babak tambahan.

Bandingkan dengan pertandingan kontra Brasil di babak 16 besar. Saat itu, Haaland melepaskan empat tembakan, menyelesaikan seluruh 11 umpannya, dan berlari sejauh 10,1 kilometer.

Perbedaan tersebut memperlihatkan efektivitas pendekatan Inggris. Haaland memang masih memperoleh dua peluang melalui sundulan, tetapi satu dapat diamankan Jordan Pickford, sedangkan lainnya melenceng dari sasaran.

Haaland Tetap Bangga dengan Perjalanan Norwegia

Meski gagal membawa Norwegia melangkah lebih jauh, Haaland tetap mengapresiasi pencapaian timnya di Piala Dunia 2026. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi momen yang mengubah dirinya sebagai pemain maupun pribadi.

"Hal-hal seperti ini terasa tidak nyata; saya pikir ini telah mengubah saya sebagai pribadi. Saya rasa profil saya juga berkembang, dan sulit mencerna semuanya ketika mengingat kembali pertandingan-pertandingan itu, tetapi sangat istimewa bisa menjadi bagian dari ajang yang dulu hanya saya tonton, dan kini saya menjalaninya secara langsung."

Haaland juga optimistis Norwegia mampu mempertahankan perkembangan yang sudah ditunjukkan. Menurutnya, keberhasilan mengalahkan Brasil dan memberikan perlawanan sengit kepada Inggris menjadi bukti bahwa generasi sekarang mampu bersaing di level tertinggi.

Sumber: FIFA

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Argentina Atasi Swiss, Semifinal Hadapi Inggris

Read Entire Article
Bisnis | Football |