Konsumsi BBM Subsidi Turun per Februari 2026, Pertamax Cs Melonjak

7 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mencatat, konsumsi BBM subsidi Pertalite (RON 90) pada tahun ini mengalami penurunan hingga Februari 2026. Pada waktu yang sama, kebutuhan BBM nonsubsidi jenis bensin seperti Pertamax (RON 92) dan lainnya justru melonjak. 

Sesditjen Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam menyampaikan, kebutuhan minyak bensin pada 2025 mencapai 100.986 KL per hari. Sementara pada 2026 hingga Februari kebutuhan sedikit menurun menjadi 99.661 KL per hari.

"Apabila kami rinci berdasarkan kebutuhan minyak bensin jenis JBKP atau yang bersubsidi sebesar 76.932 KL per hari. Dan 2026 sampai Februari posisinya turun menjadi 74.407 KL per hari," jelas dia dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (8/4/2026).

"Sedangkan kebutuhan minyak bensin untuk kebutuhan umum atau non subsidi di sepanjang 2025 sebesar 24.055 KL per hari, atau naik menjadi 25.254 KL per hari pada posisi 2026 sampai dengan Februari," beber dia. 

Rizwi melaporkan, kebutuhan BBM nasional pada 2025 masih mengandalkan impor dengan porsi sebesar 60,18 persen. Importasi minyak bensin turun menjadi 59 persen pada Februari 2026. 

"Untuk importasi minyak bensin yang paling dominan berasal dari Singapura dan Malaysia. Karena posisi bensin kebutuhan saat ini masih membutuhkan importasi," dia menambahkan. 

Impor Solar Berkurang

Rizwi mencatat, dinamika yang berbeda pada konsumsi BBM jenis Solar, di mana angka konsumsinya terus melejit, tetapi  volume impornya berhasil ditekan. 

Adapun kebutuhan minyak Solar pada 2025 mencapai 110.932 KL per hari. Pada 2026 hingga Februari, kebutuhan sedikit meningkat menjadi 111.356 KL per hari. 

"Untuk minyak solar, kebutuhan relatif meningkat. Namun impor berhasil ditekan dari 12,17 persen di tahun 2025 menjadi hanya 6,26 persen di tahun 2026 sampai dengan Februari 2026," ungkap dia. 

Konsumsi Solar Subsidi Naik

Apabila dirinci berdasarkan jenis minyak solar, kebutuhan Jenis BBM Tertentu (JBT) atau Solar Subsidi pada 2025 sebesar 50.466 KL per hari. Jumlah kobsumsinya naik menjadi 52.373 KL per hari pada 2026 sampai Februari. 

Sedangkan untuk kebutuhan jenis Solar non subsidi pada 2025 sebesar 60.466 KL per hari, dan turun menjadi 58.983 KL per hari pada 2026 sampai Februari.

"Untuk importasinya juga paling dominan berasal dari Singapura dan Malaysia, baik 2025 dan 2026," imbuh Rizwi.

Pemerintah Setop Impor Solar, Mau Ganti dengan Biofuel Sawit B50

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membocorkan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan program biodesel sawit. Program ini didapuk bisa membuat Indonesia tidak lagi perlu impor solar dari luar negeri.

“Kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton. Itu tahun ini kita tidak impor. Dan itu selesai,” katanya di Kementerian Pertanian, Senin (30/3/2026).

Ia melanjutkan, program tersebut semakin dibutuhkan karena situasi geopolitik yang kian memanas. Berbagai wacana krisis energi menjadi perhatian agar tidak terpapar ke Indonesia.

“Ini ada hikmah. Kondisi geopolitik yang memanas itu ada hikmahnya bagi Indonesia,” ujarnya. 

Hilirisasi Biofuel, Pemerintah Siapkan Pengganti Pertalite dan Pertamax

Sebelumnya, Pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis melalui hilirisasi biofuel sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92). Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi di tengah tingginya harga minyak dunia.

Presiden Prabowo Subianto disebut mendorong pengembangan bahan bakar berbasis nabati sebagai solusi jangka panjang untuk ketahanan energi nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, konsep yang tengah disiapkan adalah pencampuran etanol dengan bensin hingga 20 persen atau dikenal sebagai E20.

“Mimpi kita E20, ethanol campuran bensin 20% dari jagung, ubi, dan tebu. Iya, itu menggantikan (Pertalite dan Pertamax),” ujar Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (20/3/2026).

Read Entire Article
Bisnis | Football |