Proyek Triliunan Chelsea Disorot Usai Gagal Main di Eropa, PR Besar untuk Xabi Alonso!

10 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Kompetisi Premier League musim 2025/2026 berakhir dengan catatan kelam bagi Chelsea yang dipastikan absen dari seluruh panggung kejuaraan Eropa musim depan. Hasil minor di pertandingan pamungkas memaksa tim asal London Barat ini terdampar di urutan ke-10 klasemen, sebuah hasil yang melenceng jauh dari target awal musim.

Hasil negatif ini memperpanjang tren buruk London Biru sepanjang periode musim ini. Padahal, asa untuk menembus zona kompetisi Eropa sejatinya masih ada sebelum laga pemungkas bergulir. Namun, semua harapan tersebut pupus dalam sekejap setelah hasil mengecewakan di Stamford Bridge.

Sebelum petaka di pekan terakhir terjadi, peluang Chelsea mengamankan tiket Eropa melalui jalur kompetisi piala domestik juga sudah kandas di partai puncak. Pada akhirnya, Chelsea menyudahi kompetisi tanpa raihan gelar juara sekaligus tanpa jaminan bermain di level internasional.

Kondisi tersebut juga menandai selesainya masa bakti dari manajer interim yang menakhodai tim sejak pertengahan musim. Setelah melewati fase penuh ketidakpastian, tampuk kepemimpinan kini berpindah ke tangan Xabi Alonso yang mendarat dengan beban ekspektasi tinggi.

Sisi Positif Bagi Para Pesaing

Di kala Chelsea sedang meratapi nasib, sejumlah tim kompetitor justru menyambut akhir musim dengan sukacita. Klub-klub seperti Brighton and Hove Albion, Sunderland, serta Bournemouth sukses mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk mengunci tempat di zona Eropa.

Brighton menatap masa depan dengan optimisme tinggi dan mulai diperhitungkan sebagai salah satu kontestan kuat di Conference League musim mendatang. Sementara itu, Sunderland menorehkan sensasi terbesar dengan berhasil menembus Liga Europa hanya berselang satu tahun setelah naik kasta dari Championship.

Di sisi lain, Bournemouth sejatinya berpeluang melangkah lebih jauh menuju zona Liga Champions. Sayangnya, impian itu buyar lantaran hasil dari pertandingan tim lain tidak berpihak kepada mereka. Walau demikian, satu tempat di Liga Europa tetap menjadi torehan tinta emas dalam sejarah klub.

Ketidakstabilan Manajemen dan Kemerosotan Performa

Perjalanan Chelsea sejak awal musim memang sudah diwarnai oleh berbagai keputusan yang membingungkan. Langkah mendepak Enzo Maresca pada bulan Januari menjadi salah satu poin yang memicu perdebatan sengit, terlebih karena saat itu tim tengah bersaing di posisi lima besar.

Pihak manajemen kemudian menunjuk Liam Rosenior sebagai suksesor, namun masa jabatannya terhitung sangat pendek. Setelah itu, Calum McFarlane ditugaskan menjadi manajer interim untuk mengawal tim hingga akhir kompetisi. Kendati terjadi pergantian, hasil di lapangan tetap tidak memuaskan dengan raihan total hanya 52 poin. Pencapaian angka tersebut merosot tajam jika disandingkan dengan catatan musim sebelumnya. Keterpurukan mereka kian lengkap setelah dipaksa menyerah 1-0 oleh Manchester City di laga final FA Cup, yang sekaligus menutup jalur alternatif menuju Liga Europa. Harapan untuk tampil di kompetisi Eropa akhirnya benar-benar tertutup rapat setelah mereka menderita kekalahan 2-1 dari Sunderland pada pertandingan penutup. Hasil minus ini sekaligus menjadi akhir yang getir bagi kiprah manajer interim di kursi kepelatihan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |