Rupiah Ditutup Dekati 18.000 per Dolar AS

6 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026). Mata uang Garuda turun 45 poin atau 0,25% ke level 17.952 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di 17.907 per dolar AS.

Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga melemah menjadi 17.961 per dolar AS, dari sebelumnya 17.899 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian di pasar global, terutama terkait perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

"Ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global," ujarnya dikutip dari Antara.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomatik di Qatar setelah Iran menolak melakukan pembicaraan langsung dengan utusan senior Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Teheran menyatakan proses negosiasi akan dilakukan melalui mediator pada tingkat teknis.

Kondisi tersebut dinilai memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat, sehingga ketidakpastian geopolitik masih menjadi sentimen yang membayangi pasar keuangan global.

Harga Minyak Turun, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS

Di tengah ketidakpastian tersebut, harga minyak mentah dunia justru mengalami penurunan tajam setelah meredanya konflik Iran.

Ibrahim menjelaskan harga minyak Brent tercatat turun sekitar 38% sepanjang kuartal II 2026, setelah sempat melonjak sekitar 94% pada kuartal pertama. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak awal pandemi COVID-19 pada 2020.

Selain itu, Brent juga terkoreksi sekitar 21% sepanjang Juni, menyusul meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz.

"Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka, termasuk masa depan Selat Hormuz," kata Ibrahim.

Di sisi lain, perhatian investor kini mulai beralih ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS naik menjadi 7,594 juta pada Mei, lebih tinggi dari proyeksi pasar sebesar 7,3 juta.

"Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Kamis (2/7), yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS," ujar dia.

Defisit Neraca Perdagangan RI Ikut Tekan Rupiah

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi respons negatif pasar terhadap data neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar, yang menjadi defisit pertama setelah 72 bulan atau enam tahun mencatat surplus secara berturut-turut.

"Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar US$ 24,81 miliar, sedangkan ekspor RI US$ 23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020," ungkapnya.

Sementara itu, inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kenaikan harga terutama didorong oleh kelompok makanan, perawatan pribadi, dan transportasi.

Meski inflasi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, Ibrahim menilai angkanya masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Namun, pasar tetap akan mencermati perkembangan data ekonomi domestik dan global dalam beberapa hari ke depan sebagai penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |