Rupiah Kembali Tertekan, Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Pemicu

2 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026). Rupiah tertekan 64 poin atau 0,36 persen menjadi 17.862 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya 17.798 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat kekhawatiran konflik antara AS dan Iran kembali memanas. Pasar juga masih mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah. Pada Selasa, JISDOR berada di level Rp 17.856 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp 17.836 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah, dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik AS dan Iran,” ucapnya dikutip dari Antara.

Mengutip Kantor Berita Anadolu, harga minyak melonjak lebih dari 2 persen setelah Presiden AS Donald Trump menutup kemungkinan memperpanjang perjanjian kerangka kerja dengan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Harga minyak Brent naik 2,4 persen menjadi US$ 90,60 per barel, sedangkan minyak WTI menguat 2,2 persen menjadi US$ 84,20 per barel.

Sentimen dari Luar

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Trump menyatakan tidak akan berupaya memperpanjang perjanjian yang dicapai dengan Iran pada Juni melalui mediasi Pakistan. Batas waktu negosiasi selama 60 hari disebut hampir berakhir tanpa penyelesaian menyeluruh.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran kebuntuan diplomasi dapat berkembang menjadi eskalasi konflik. Dampaknya juga dikhawatirkan mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Mengutip Sputnik, Trump menyebut gagasan menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS sebagai ide yang “bagus". Presiden AS itu kembali mengklaim bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.

Namun, Komandan Angkatan Darat Iran Jenderal Amir Hatami menyatakan AS tidak memiliki hak lintas melalui Selat Hormuz, Teluk Persia maupun Teluk Oman.

Hatami juga menegaskan Selat Hormuz merupakan peluang geopolitik bagi Iran. Menurut dia, kondisi di jalur perairan tersebut tidak akan kembali seperti sebelumnya.

Pergerakan harga minyak menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat memengaruhi kondisi fiskal dan perekonomian domestik.

Rully Nova menilai kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan tambahan terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pasalnya, harga minyak dunia telah berada di atas asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN (70 dolar AS per barel) akan memicu defisit fiskal, sementara kondisi fundamental ekonomi belum solid,” ungkap Rully.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar masih mencermati hasil RDG BI yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Rapat tersebut diperkirakan tidak menghasilkan kenaikan suku bunga acuan.

Keputusan BI tetap menjadi perhatian karena kebijakan moneter akan berpengaruh terhadap upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

“Namun, bauran kebijakan selain bunga akan menentukan konsistensi kebijakan stabilitas BI,” kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |