Rupiah Menguat terhadap Dolar AS Usai BI Rate Naik

9 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mingguan pada Selasa, (9/6/2026). BI menaikkan suku bunga acuan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah yang tengah menghadapi tekanan akibat meningkatnya gejolak global, terutama dampak konflik di Timur Tengah.

Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,50%, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

Lalu bagaimana pergerakan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah?

Mengutip data Google Finance, berdasarkan pantauan pukul 14.54 WIB, dolar AS lesu terhadap rupiah. Dolar AS berada di posisi 18.057, atau turun 0,72%. Saat dipantau pukul 14.57 WIB, dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.058.

Berdasarkan data di Bloomberg, dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.058. Di data RTI, dolar AS terhadap rupiah di 18.052.

Dalam riset Syailendra menyebutkan, kenaikan suku bunga Bank Indonesia bersifat mendadak dan di luar jadwal RDG BI yang diagendakan pada 17-18 Juni 2027. Pada pertemuan RDG tersebut, Syailendra prediksi ada ruang untuk kenaikan lanjutan BI Rate.

Riset Syailendra menyebutkan, langkah BI menaikkan suku bunga acuan seiring pelemahan nilai tukar rupiah.

"Semenjak kenaikan BI Rate 50 bps pada RDG Mei, rupiah terus melanjutkan pelemahan sebesar 2,8% terhadap dolar Amerika Serikat dari 17.700 menjadi 18.200. Kenaikan BI Rate lanjutan diharapkan dapat memperkuat rupiah sekaligus mengantisipasi lonjakan inflasi,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menarik aliran dana investor asing. Riset Syailendra menyebutkan, peningkatan imbal hasil diperlukan untuk mendorong masuknya aliran investasi asing. "Pasca keputusan BI, rupiah sedikit menguat dari 18.200 ke 18.100," demikian seperti dikutip.

Kata Ekonom

Sebelumnya, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menuturkan, keputusan Bank Indonesia mendongkrak BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%,  suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%, merupakan langkah yang tepat.

"Menurut saya, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate hari ini merupakan langkah yang tepat karena rupiah sudah melemah lebih dalam dari perkiraan, tekanan global masih tinggi, dan pasar membutuhkan sinyal bahwa BI tidak membiarkan pelemahan rupiah bergerak tanpa respons kebijakan," kata Josua kepada Media di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Dia mengatakan, kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,50% memperkuat daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal asing, serta mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa yang selama ini digunakan untuk stabilisasi rupiah.

Namun, kenaikan suku bunga saja tidak otomatis membuat rupiah kembali kuat. Pelemahan rupiah saat ini bukan hanya akibat selisih imbal hasil dengan aset dolar AS, tetapi juga karena kombinasi tekanan global dan kekhawatiran domestik. 

Sentimen Rupiah

Dari sisi global, konflik Timur Tengah, harga minyak yang tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, serta kecenderungan investor mencari aset yang lebih aman masih menekan mata uang negara berkembang. 

Sementara dari sisi domestik, pasar masih mencermati kredibilitas fiskal, arah kebijakan pemerintah, arus keluar dari pasar saham, serta kepastian regulasi.

"Oleh karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah," tutur dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |