Rupiah Sentuh 17.612 per USD, Siapa Untung Siapa Buntung?

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga sempat menyentuh level Rp 17.612 per dolar AS. Kondisi tersebut ternyata memberikan dampak berbeda bagi dunia usaha di Indonesia.

Sejumlah sektor usaha berbasis ekspor diperkirakan mendapat keuntungan dari pelemahan rupiah. Namun di sisi lain, industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin besar.

Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan pelemahan rupiah justru bisa menjadi sentimen positif bagi perusahaan berorientasi ekspor.

“(Pelemahan rupiah) harusnya bagus ya buat eksportir, barang Indonesia semakin murah, untuk investor pasar ekspor harusnya masih menarik,” kata Ariston kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Menurut dia, beberapa sektor unggulan ekspor Indonesia berpotensi menikmati keuntungan lebih besar, seperti perkebunan dan pertambangan.

Komoditas crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah serta batu bara disebut menjadi sektor yang paling diuntungkan karena banyak diperdagangkan menggunakan dolar AS.

Ariston menilai perusahaan yang menjual produk berbasis dolar AS tetapi menggunakan biaya produksi dalam rupiah berpotensi memperoleh margin keuntungan lebih besar.

Industri Berbasis Impor Tertekan

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, mengatakan pelemahan rupiah mulai menekan perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.

“Saat ini, sekitar 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” ujar Shinta.

Menurut dia, sektor yang paling terdampak antara lain industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi.

Kenaikan biaya impor tersebut dinilai dapat mempersempit margin usaha dan menekan arus kas perusahaan jika pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan.

Ancaman PHK Mulai Diwaspadai

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia atau Kadin Indonesia mulai mewaspadai potensi pengurangan tenaga kerja akibat tekanan terhadap dunia usaha.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengatakan biaya operasional perusahaan kini semakin tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

“Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari,” kata Sarman.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan.

“Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja,” ujarnya.

Menurut Sarman, dunia usaha sebenarnya sudah mulai waspada sejak rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS. Namun pelemahan yang terus berlanjut kini menjadi alarm serius bagi pelaku usaha nasional.

Read Entire Article
Bisnis | Football |