Rupiah Sentuh 18.000, Purbaya Bongkar Nasib Pembayaran Utang Pemerintah

11 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS tetap berdampak pada besaran pembayaran utang pemerintah dalam denominasi valuta asing jika dihitung dalam rupiah. Namun, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang telah diperhitungkan pemerintah.

Menanggapi pertanyaan mengenai dampak pelemahan rupiah terhadap pembayaran utang, Purbaya menjelaskan bahwa kupon surat utang pemerintah bersifat tetap (fixed rate).

“Kuponnya tetap. Harusnya fixed kuponnya,” ujar Purbaya di Kompleks DPR RI, Kamis (4/6/2026).

Meski demikian, ia mengakui pelemahan kurs akan meningkatkan nilai pembayaran utang dalam rupiah, terutama untuk kewajiban yang berdenominasi mata uang asing.

“Pada waktu rupiah melemah, tentu dalam rupiah pembayarannya meningkat. Tetapi ini masih dalam range perhitungan kita sebelumnya,” kata dia.

Purbaya menjelaskan, saat penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar rupiah sekitar Rp 16.500 per dolar AS. Namun, pemerintah juga telah melakukan berbagai simulasi terhadap kemungkinan perubahan kondisi ekonomi, termasuk skenario pelemahan rupiah yang lebih dalam.

“Pada waktu APBN pertama ada asumsinya sekitar Rp 16.500. Kemudian ada simulasi-simulasi ketika berbagai faktor berubah dan penyesuaiannya cukup tinggi. Tetapi saya memang tidak menyebutkan angkanya,” ujarnya.

Menurut Purbaya, secara fundamental nilai tukar rupiah seharusnya berada pada level yang lebih kuat dibandingkan posisi saat ini. Karena itu, ia menilai pelemahan yang terjadi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi dasar perekonomian Indonesia.

“Pada dasarnya fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, artinya lebih kuat dari posisi saat ini,” kata Purbaya.

Rupiah Tembus Rp 18.000, Sektor Pariwisata Justru Berpotensi Panen Berkah

Sebelumnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (4/6/2026) berpotensi membawa berkah bagi sektor pariwisata nasional.

Di tengah tekanan yang dirasakan sejumlah sektor akibat depresiasi rupiah, Indonesia justru dapat menjadi destinasi yang semakin menarik bagi wisatawan mancanegara karena biaya berlibur di dalam negeri menjadi relatif lebih murah dibandingkan sebelumnya.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing sektor pariwisata Indonesia di pasar global.

Menurutnya, ketika nilai tukar rupiah melemah, wisatawan asing yang membawa dolar AS atau mata uang kuat lainnya akan memiliki daya beli yang lebih besar selama berada di Indonesia.

"Pariwisata juga berpotensi diuntungkan karena Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing, sepanjang faktor non-kurs mendukung," kata Nanang kepada Liputan6.com, Kamis (4/6/2026).

Kondisi tersebut membuat biaya akomodasi, kuliner, transportasi, hingga aktivitas wisata menjadi lebih terjangkau bagi turis mancanegara. Alhasil, Indonesia berpotensi menjadi pilihan utama wisatawan yang mencari destinasi dengan biaya liburan yang kompetitif.

Pelemahan Rupiah Peluang Bagi Perusahaan Pariwisata

Hal serupa sejalan dengan PT Intra GolfLink Resorts Tbk. (GOLF), yang memandang pelemahan nilai tukar rupiah sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan bisnis, khususnya di sektor pariwisata golf yang menjadi salah satu lini usaha utama perseroan di Bali. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di mata wisatawan mancanegara.

Investor Relation GOLF, Ravenal Arvense, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi perusahaan. Dengan basis bisnis yang erat kaitannya dengan industri pariwisata, terutama di Bali, pelemahan mata uang domestik justru berpotensi menarik lebih banyak kunjungan wisatawan asing.

"Ketika rupiah melemah, Bali menjadi lebih murah bagi pihak asing untuk bertransaksi. Jadi ada sisi positif yang bisa dimanfaatkan dari situasi ini. Kami membidik pertumbuhan pendapatan dobel digit hingga sebesar 10% pada 2026 ini," kata Ravenal dalam Public Expose GOLF, di Jakarta, ditulis Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, biaya berlibur dan bertransaksi di Bali menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan luar negeri ketika rupiah melemah. Situasi ini diharapkan mampu mendukung peningkatan aktivitas wisata sekaligus memperluas peluang bisnis perusahaan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |