Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan dalam waktu ke depan. Ekonom Celios, Bhima Yudhistira, menilai pelemahan ini tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga mencerminkan persoalan domestik, terutama dari sisi fiskal.
Menurut Bhima, kunci utama untuk memulihkan stabilitas rupiah terletak pada perbaikan manajemen fiskal dan peningkatan kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah.
"Jadi kuncinya di mana kuncinya itu trust dimulai dari manajemen fiskal. ujar Bhima kepada Liputan6.com, Kamis (23/4/2026).
Ia melihat, tekanan eksternal seperti konflik geopolitik yang berkepanjangan serta lonjakan inflasi global, baik dari energi maupun pangan yang masih akan membayangi perekonomian Indonesia. Dampaknya, rupiah berpotensi terus tertekan di tengah ketidakpastian tersebut.
Namun, ia menekankan, persoalan tidak berhenti pada faktor eksternal. Dari dalam negeri, kondisi fiskal dinilai turut memperburuk sentimen pasar. Ia menyinggung pergantian pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan, termasuk posisi direktur jenderal, sebagai sinyal adanya masalah yang lebih dalam.
"Ini bisa dibaca sebagai alarm bahwa ada persoalan di sisi fiskal, mulai dari defisit anggaran yang melebar, arus kas, hingga beban pembayaran bunga utang yang terus meningkat,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Bhima, membuat pelaku pasar mempertanyakan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. Ia menilai, persepsi terhadap pengelolaan fiskal menjadi faktor penting yang memengaruhi stabilitas nilai tukar.
Di sisi lain, peran Bank Indonesia dinilai memiliki keterbatasan. Selama ini, bank sentral telah mengandalkan cadangan devisa dalam jumlah besar untuk menahan gejolak rupiah. Namun langkah tersebut dianggap belum cukup untuk mengatasi tekanan yang bersumber dari menurunnya kepercayaan pasar.
Bhima juga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga sebagai langkah lanjutan. Meski demikian, ia mengingatkan kebijakan tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat dan aktivitas pelaku usaha.
“Kalau suku bunga naik, dampaknya ke konsumsi dan dunia usaha. Jadi ini bukan solusi utama,” katanya.
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp 17.287, Harga Minyak Jadi Pemicu
Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis. Mata uang Garuda turun 106 poin atau 0,62 persen ke level Rp17.287 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sebelumnya Rp 17.181 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, terutama lonjakan harga minyak dunia yang dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan kenaikan harga energi menjadi faktor utama tekanan terhadap rupiah.
“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (23/4/2026).
Ketegangan meningkat setelah perundingan putaran kedua antara AS dan Iran di Pakistan gagal terlaksana. Iran menolak hadir dalam negosiasi karena adanya blokade di Selat Hormuz.
Situasi ini memperburuk kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga Minyak Melonjak, Negosiasi Buntu
Gagalnya negosiasi damai membuat ketegangan semakin meningkat. Amerika Serikat memutuskan gencatan senjata sepihak sambil tetap menekan Iran untuk tidak mengenakan tarif di Selat Hormuz serta menghentikan pengayaan uranium.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut langkah AS justru menjadi hambatan utama dalam proses diplomasi.
Ia menilai tindakan blokade dan ancaman yang dilakukan AS menunjukkan ketidakkonsistenan antara pernyataan dan tindakan.
Seiring meningkatnya ketidakpastian, harga energi global ikut melonjak. Minyak mentah Brent tercatat berada di sekitar USD 102,25 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke kisaran USD 93,47 per barel.
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global dan berdampak langsung pada nilai tukar rupiah.
Sentimen Domestik Tekan Rupiah
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Aksi jual obligasi pemerintah di berbagai tenor memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi.
Kenaikan imbal hasil terjadi di hampir seluruh tenor obligasi. Imbal hasil tenor 1 tahun naik 9,5 basis points (bps), tenor 2 tahun 2,1 bps, sementara tenor 10 tahun sebagai acuan naik menjadi 6,73 persen.
“Imbal hasil tenor 1 tahun naik 9,5 basis points (bps), 2 tahun 2,1 bps. Begitu juga 3 dan 4 tahun masing-masing 10,2 bps dan 12,2 bps. Tenor 5 tahun naik 12,2 bps, bahkan tenor acuan 10 tahun naik 9,1 bps menjadi 6,73 persen,” kata Rully.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke Rp 17.308 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.179.
Kombinasi tekanan global dan domestik membuat rupiah masih berada dalam tren pelemahan dan berpotensi menghadapi volatilitas dalam waktu dekat.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5564493/original/011433300_1776946208-WhatsApp_Image_2026-04-23_at_18.54.20__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563785/original/046062800_1776917089-1000297299.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546340/original/050246100_1775287307-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2849790/original/043609100_1562754392-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563784/original/004093200_1776917060-1000297292.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496712/original/067203300_1770596625-stasiun_pengisian_kendaraan_listrik_umum__SPKLU_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5564136/original/096365600_1776927044-Screenshot_2026-04-23_134220.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511529/original/034050200_1771911797-IMG-20260224-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563532/original/083842700_1776904085-AP26108447222186.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563925/original/023437400_1776920404-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562282/original/003523000_1776823938-Rosan_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5167102/original/009661500_1742306811-cdacf437-a867-44a0-8f7f-1cd7ef219f5b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3337093/original/010245400_1609328702-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4881567/original/061423100_1719967228-fotor-ai-2024070373734.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5037595/original/079407600_1733398837-WhatsApp_Image_2024-12-05_at_18.07.44.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3975034/original/086610900_1648205536-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4805340/original/093907000_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460695/original/008282000_1767267904-WhatsApp_Image_2026-01-01_at_16.38.15.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361596/original/000746300_1758788384-eliano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3324618/original/083189900_1608026626-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494532/original/088044000_1770295769-0L5A4471.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473020/original/097246400_1768383522-1000205954.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4156441/original/068897800_1663062670-Emas5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482252/original/052974900_1769168891-publikasi_1769163600_69734b50b3a7d.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5031435/original/074222000_1733074128-AP24336517258860.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467577/original/035269700_1767923184-AP26008792900594.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468956/original/040478600_1768038807-Al-Nassr_Cristiano_Ronaldo-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479679/original/084946100_1768985177-WhatsApp_Image_2026-01-21_at_15.06.31.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456037/original/093352400_1766787645-G9HzWs2WgAAhOsG.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456401/original/043486900_1766869079-andrea-cambiaso-juventus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456032/original/033890000_1766784357-Manchester-United-Newcastle-lisandro-martinez-sandro-tonali.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3149800/original/042221500_1591853664-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5283039/original/033440500_1752499728-000_36WX98V.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483248/original/002237600_1769348730-alwi_2.jpg)