Sepeda Motor Tak Dibatasi Beli Pertalite

5 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia memastikan tidak ada pembatasan bagi sepeda motor membeli BBM Pertalite. Namun, dia meminta tak ada yang menimbun BBM subsidi tersebut.

Anggia menerangkan, proses pengendalian konsumsi Pertalite dan BBM Subsidi oleh kendaraan roda empat atau mobil akan dilakukan. Salah satunya melalui pindai barcode yang telah dijalankan selama ini. Namun, sepeda motor tidak akan dibatasi untuk membeli Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.

"Untuk motor tidak akan ada pembatasan apapun. Itu sudah jelas disampaikan oleh Pak Menteri bahwa untuk kendaraan roda dua bebas," tegas Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Meski tak dibatasi, dia meminta tak ada penimbunan BBM dengan berbagai modus. Misalnya, mengisi BBM Subsidi secara berulang-ulang untuk ditimbun.

Modus tersebut akan membuat pasokan BBM Subsidi tidak stabil dan bisa berujung pada kelangkaan. Dia juga meminta masyarakat tidak panik untuk beli BBM subsidi.

"Jangan juga ada praktik-praktik helikopter yang bolak-balik tangkinya diisi bolak-balik SPBU kan juga banyak tuh. Itu juga yang mengakibatkan kondisinya jadi enggak stabil," ucap Anggia.

"Tambah lagi jangan ada panic buying, jangan ada penimbunan. Itu yang mengakibatkan kelangkaan di mana-mana," sambung dia.

Peralihan Pengguna BBM

Anggia mengamini adanya peralihan antara produk BBM non subsidi, seperti dari Pertamax Turbo ke Pertamax. Namun, peralihannya disebut tidak begitu besar.

Dia juga mengamini ada peralihan dari pengguna Pertamax ke Pertalite sebagai BBM dengan subsidi pemerintah. "Masih belum ini ya terlalu banyak shifting-nya, alhamdulillah. Tapi yang paling penting itu tadi, bahwa semua juga harus aware dong, mana yang bukan haknya, jangan diambil," kata Anggia.

Dia menerangkan, Pertamina tetap melakukan pengawasan dan pengendalian konsumsi BBM Bersubsidi. "Sehingga masyarakat yang memang harus dilindungi nih masyarakat bawah, petani, nelayan itu bisa tetap survive jalan terus roda perekonomiannya. Itu yang paling penting," imbuh dia.

Harga Pertamax Masih di Bawah Keekonomian

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia mengatakan kenaikan harga BBM Pertamax masih di bawah keekonomian. Pemerintah turut menjamin harga BBM Subsidi tidak naik.

Diketahui, harga Pertamax naik ke Rp 16.250 per liter dari Rp 12.300 per liter. Anggia mengatakan angka ini masih jauh di bawah harga keekonomian untuk BBM dengan kadar RON 92 di negara lain.

"Kalau kita berbicara harga keekonomian untuk BBM non-subsidi khususnya RON 92, kalau kita melihat negara tetangga itu di angka Rp 20.000-21.000 (per liter)," ungkap Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

"Jadi kenaikan atau penyesuaian yang dilakukan sekarang ini sebenarnya masih jauh di bawah harga keekonomian. Namun ini adalah pilihan terbaik jalan tengah, agar dua-duanya bisa survive," sambung dia.

BBM Subsidi Tidak Naik

Anggia menerangkan, ketersediaan BBM di tengah-tengah masyarakat tetap dijaga. Meski pun dia mengakui tetap ada dampaknya terhadap pengeluaran. Dia turut memastikan kelompok rentan terap dijaga dengan tidak ada kenaikan BBM Subsidi.

"Sedikit banyak pasti akan ada dampaknya. Tapi yang paling penting adalah balik lagi. Kelompok rentan dijaga daya belinya dengan menahan harga BBM subsidi untuk tidak naik, Pertalite, dan Solar tidak akan naik," tandasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |