Thomas Tuchel Kritik Performa Inggris: Soroti Masalah Taktik Menjelang Piala Dunia 2026

9 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Tim Nasional Inggris sukses memetik hasil maksimal lewat kemenangan tipis 1-0 ketika bersua Selandia Baru pada pertandingan persahabatan pamungkas mereka menjelang Piala Dunia 2026. Kendati demikian, keunggulan skor ini nyatanya belum sanggup membuat Thomas Tuchel merasa puas sepenuhnya.

Laga yang dimainkan di Tampa tersebut merupakan agenda krusial dalam rangkaian persiapan menyambut Piala Dunia 2026. Walaupun gol tunggal dari Harry Kane keluar sebagai pembeda hasil akhir, perhatian utama publik justru mengarah pada kualitas penampilan skuad secara kolektif.

Tuchel yang mengamati secara langsung jalannya laga berpendapat bahwa masih terdapat kendala mendasar pada fondasi permainan anak asuhnya. Catatan evaluasi ini dipandang sebagai perkara krusial yang mesti segera dibenahi sebelum kompetisi akbar di Amerika Utara itu bergulir.

Tambahan kemenangan ini semula diharapkan menjadi suntikan moral yang baik, namun situasi di lapangan justru memunculkan pekerjaan rumah baru. Terutama mengenai kepatuhan para pemain terhadap skema permainan yang belum teraplikasikan secara optimal.

Kritik Tajam Tuchel: Inggris Bermain Tanpa Struktur

Thomas Tuchel berpandangan bahwa barisan pemain Inggris terlampau kerap kehilangan bentuk baku permainan sewaktu meladeni Selandia Baru. Ia mengungkapkan bahwa skuad asuhannya tampil terlampau cair dan abai terhadap skenario taktik yang sebelumnya telah dirancang.

Gejala tersebut nampak gamblang khususnya sepanjang paruh pertama, yang mana Harry Kane dan kolega tampak kewalahan mengendalikan tempo permainan. Alhasil, sirkulasi bola menjadi tersendat dan memberikan celah bagi lawan untuk mengembangkan serangan dengan lebih leluasa.

Tuchel menganggap skema penampilan semacam itu berimbas buruk bagi performa kolektif tim. Dirinya memberikan koreksi tajam atas minimnya kesadaran pemain untuk tetap berada di area masing-masing saat mengawali transisi menyerang.

“Saya baik-baik saja dengan itu. Saya tidak terlalu senang dengan hasilnya. Saya lebih menyukai babak kedua daripada babak pertama. Kami bermain lebih banyak dari posisi kami dan itulah mengapa kami bermain lebih cepat dan tanpa bola kami bermain lebih agresif," ucapnya, dilansir dari Goal.

"Di babak pertama kami keluar dari posisi dan terlalu banyak bermain bebas. Itu memperlambat permainan kami dan menyulitkan tekanan balik karena kami tidak berada di posisi yang kami inginkan saat mulai menyerang. Itulah intinya pertandingan ini."

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Di samping urusan kepatuhan menjaga area, Tuchel juga memberikan catatan miring seputar proses aliran bola tim Tiga Singa. Ia melihat para penggawa di lapangan kerap menyimpang dari modul latihan yang sejauh ini sudah dimatangkan. Kurangnya pemanfaatan lebar lapangan berdampak pada menyempitnya ruang gerak sekaligus mereduksi kecepatan penetrasi ke area pertahanan lawan. Problem inilah yang mengakibatkan Inggris menemui jalan buntu dalam menyusun serangan yang rapi. Lebih lanjut, Tuchel menyayangkan adanya kecenderungan dari anak asuhnya untuk melepaskan operan lambung sejauh mungkin serta eksekusi tendangan spekulasi dari luar kotak penalti. Sang juru taktik menegaskan kembali bahwa gaya bermain itu bertolak belakang dengan rancangan strategi yang ia instruksikan. “Kami kekurangan lebar lapangan sehingga para pemain masuk ke dalam dan mempersempit ruang gerak kami, memperlambat permainan, dan terlalu lama berganti posisi," keluh Tuchel. "Kami banyak melakukan umpan silang, banyak tembakan jarak jauh, yang biasanya bukan gaya permainan kami. Kami banyak memainkan bola panjang, banyak umpan panjang. Itu bukan bagian dari latihan dalam empat hari terakhir."  

Read Entire Article
Bisnis | Football |