Baru Menjangkau 10%, Program MBG di Pondok Pesatren Bakal Dikebut

6 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan ingin mempercepat pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di pondok pesantren. Pasalnya, baru sekitar 10% pesantren yang mendapat program MBG.

Dia mengatakan, ada data yang cukup jomplang jika dibandingkan dengan penyaluran MBG di sekolah-sekolah umum. Data yang dikantonginya, MBG sudah berjalan di 80% sekolah umum.

"Ternyata yang agak ketinggalan ini, yang perlu kami percepat, itu sekolah berbasis Pondok. Kalau yang sekolah umum sudah hampir 80%, Pondok ini baru 10% ya," ucap Zulkifli di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Dia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Agama melakukan koordinasi lanjutan. Pasalnya, persoalan pondok pesantren ini sudah dibahas sekitsr 2-3 kali rapat koordinasi.

"Karena memang kami concern betul, Pondok ini perlu perhatian, marena paling memerlukan. Pondok ini kan paling memerlukan. Santri-santri di situ perlu makanan yang bergizi. Nah, oleh karenanya ini perlu percepatan," ungkapnya.

"Termasuk sekolah-sekolah madrasah. Madrasah itu ada tsanawiyah, ada ibtidaiyah, ada aliyah, ada swasta, ada juga yang dari Kementerian Agama, kemudian, tadi, pesantren kita akan percepat," sambung Zulkifli Hasan.

MBG Cuma 5 Hari Sepekan Buat Anak Sekolah

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan memastikan langkah efisiensi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pelaksanannya menjadi 5 hari dalam sepekan untuk penerima anak sekolah.

Zulkifli mengungkapkan hal tersebut setelah menggelar rapat koordinasi terbatas (Rakortas) tingkat menteri. Ini sebagai hasil evaluasi dari pelaksanaan MBG 6 hari sepekan, termasuk tambahan satu hari diluar waktu sekolah.

"Ini dalam rangka perbaikan, efektivitas pelaksanaan, malau kemarin kan 6 hari, hari libur dikasih juga, nah itu ternyata kurang efektif. Oleh karena itu kita putuskan, MBG itu hari sekolah," ungkap Zulkifli di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Efektivitas MBG

"Hari sekolah datang 5 hari, kalau libur, lebaran, ya kan, kalau dimasukin juga gak efektif. Jadi itu libur gak ada lagi. Dia hanya diberikan di hari sekolah, untuk sekolah umum," sambungnya.

Zulkifli mengatakan, pelaksanaan MBG 5 hari sepekan hanya berlaku di sekolah umum. Sementara itu, sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) akan ada penanganan khusus, termasuk kemungkinan tambahan satu hari di waktu libur.

"Selain 5 hari di sekolah, kalau diperlukan bisa saja ditambah lagi 1 hari. Karena stuntingnya tinggi, atau di daerah tertinggal, memang di situ kurang, apa namanya, kemiskinan juga tinggi, dan seterusnya. Itu ada perlakuan khusus. Nanti bisa saja ditambah 1 hari, dan seterusnya. Kalau itu dia gak perlu, dan memang bisa produktif," jelas dia.

Hemat Anggaran

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi lima hari dalam sepekan berpotensi menghasilkan penghematan anggaran hingga Rp 20 triliun.

Dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring dari Jakarta, Selasa, Airlangga menjelaskan bahwa langkah optimalisasi tersebut dilakukan melalui penyediaan makanan segar selama lima hari setiap minggu.

Meski demikian, kebijakan ini tidak berlaku untuk sejumlah wilayah dan kelompok tertentu, seperti asrama, daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), serta wilayah dengan tingkat stunting yang tinggi.

“Potensi penghematan dari kegiatan ini mencapai Rp 20 triliun,” kata Airlangga dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).

Read Entire Article
Bisnis | Football |