Dampak Covid-19 Masih Terasa, Pedagang Jerit ke Purbaya

10 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan dampak pandemi COVID-19 masih dirasakan para pedagang, terutama di pasar tradisional. Keluhan tersebut ia terima langsung saat melakukan peninjauan ke Pasar Tanah Abang dan Pasar Beringharjo

Purbaya mengatakan, para pedagang masih menghadapi tekanan ekonomi, khususnya akibat utang yang menumpuk sejak pandemi. Purbaya mengungkapkan, banyak pelaku usaha kecil yang terdampak karena aktivitas bisnis mereka sempat terhenti dalam waktu lama.

"Waktu datang ke sana, ada korban COVID. Panjang waktu COVID, karena setahun sekali aktivitas bisnis, jadi terganggu. Sehingga utangnya harus direstrukturisasi, tapi bebannya masih besar,” ucapnya usai melaksanakan Shalat Idulfitri di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Para pedagang, lanjut Purbaya, mengeluhkan besarnya cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan. Kondisi ini membuat mereka meminta bantuan pemerintah untuk meringankan beban tersebut.

Menanggapi hal itu, Purbaya mengaku tengah mempertimbangkan skema restrukturisasi utang melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Skema tersebut diharapkan dapat memberikan tenor lebih panjang dengan bunga yang lebih rendah, sehingga pelaku usaha kecil bisa lebih leluasa memulihkan usahanya.

"Saya lagi mikir, bisa enggak PIP merestrukturisasi utang mereka dengan tenor lebih panjang dan bunga lebih rendah. Saya sudah bicara dengan PIP,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi daya beli, Purbaya menilai kondisi masyarakat masih cukup baik. Hal ini terlihat dari ramainya aktivitas di pasar selama periode Lebaran. "Situasinya rame seperti itu, jadi daya beli masih cukup,” kata dia.

Kunjungi Beringharjo, Purbaya: Pasar Tradisional Ramai dan Omzet Sentuh Rp 2 Triliun

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Menkeu Purbaya) menyebutkan, pasar tradisional tidak mati suri usai melihat langsung aktivitas di Pasar Beringharjo dan Teras Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa, (17/3/2026).

Purbaya menuturkan, kondisi itu berbeda dengan pandangan sejumlah pengamat yang sebelumnya mengatakan, pasar tradisional mengalami mati suri.

"Kita mau lihat apa betul pasar-pasar tradisional sudah mati, ternyata di sini masih ramai dan omzetnya juga tinggi. Di sini bisa mencapai Rp 2 triliun ya. Mudah-mudahan ke depan makin ramai lagi kalau ekonominya kita perbaiki ke depan," ujar Purbaya dikutip dari Antara.

Dia mengatakan, meski pemulihan ekonomi pascaperlambatan hingga kuartal ketiga tahun lalu belum merata, kondisi di sejumlah pusat perdagangan menunjukkan tren positif.

Ia menyebut kondisi serupa juga terlihat di Pasar Tanah Abang serta sejumlah pusat perdagangan di Bandung yang tetap ramai.

"Jadi kelihatannya tidak semati suri seperti yang disebut para pengamat itu," ujar dia.

UMKM Yogyakarta Punya Daya Saing

Dalam kunjungan tersebut, Purbaya didampingi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X yang turut meninjau sejumlah lapak pedagang.

Selain meninjau aktivitas perdagangan, Purbaya juga berbelanja sejumlah produk seperti batik, kain dan kaos.

Ia menilai produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Yogyakarta memiliki daya saing tinggi, baik dari sisi kualitas maupun harga.

"Saya belanja cukup banyak karena dibanding Jakarta, harganya di sini sangat bagus. Di Jakarta mungkin berapa juta, di sini sekitar berapa ratus ribu. Saya sempat tanya ke pedagang soal tambahan modal, mereka bilang sudah cukup. Ini sinyal kuat bahwa likuiditas di tingkat pedagang pasar di Yogya sudah membaik," ujar dia.

Sebelum mengunjungi Pasar Beringharjo, Purbaya juga meninjau Teras Malioboro 1 untuk memantau pemanfaatan Dana Keistimewaan DIY.

Read Entire Article
Bisnis | Football |