Harga Emas Pegadaian Hari Ini 9 Juli 2026 Serempak Turun

14 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas Pegadaian dari tiga jenama utama kompak mengalami penurunan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan laman resmi PT Pegadaian (Persero), Kamis (9/7/2026), harga emas batangan cetakan Galeri24, Antam, dan UBS terpantau serempak melemah.

Untuk rincian hari ini, harga emas Pegadaian cetakan Galeri24 dibanderol Rp 2.621.000 per gram. Sementara itu, untuk cetakan Antam berada di angka Rp 2.747.000 per gram, dan emas cetakan UBS dipatok Rp 2.634.000 per gram.

Perlu dicatat, harga emas tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar.

Masyarakat yang ingin berinvestasi dapat memilih berbagai ukuran kuantitas sesuai kebutuhan. Pegadaian menyediakan cetakan Galeri24 mulai dari ukuran 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram). Untuk cetakan UBS tersedia dari ukuran 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan cetakan Antam di Pegadaian saat ini tersedia hingga ukuran 100 gram.

Daftar lengkap harga emas Pegadaian:

Emas Cetakan Galeri24

  • 0,5 gram: Rp 1.375.000
  • 1 gram: Rp 2.621.000
  • 2 gram: Rp 5.179.000
  • 5 gram: Rp 12.852.000
  • 10 gram: Rp 25.635.000
  • 25 gram: Rp 63.742.000
  • 50 gram: Rp 127.382.000
  • 100 gram: Rp 254.639.000
  • 250 gram: Rp 635.034.000
  • 500 gram: Rp 1.270.000
  • 1.000 gram: Rp 2.540.132.000

Emas Cetakan Antam

  • 0,5 gram: Rp 1.426.000
  • 1 gram: Rp 2.747.000
  • 2 gram: Rp 5.431.000
  • 3 gram: Rp 8.121.000
  • 5 gram: Rp 13.500.000
  • 10 gram: Rp 26.942.000
  • 25 gram: Rp 67.223.000
  • 50 gram: Rp 134.363.000
  • 100 gram: Rp 268.645.000

Emas Cetakan UBS

  • 0,5 gram: Rp 1.423.000
  • 1 gram: Rp 2.634.000
  • 2 gram: Rp 5.226.000
  • 5 gram: Rp 12.914.000
  • 10 gram: Rp 25.692.000
  • 25 gram: Rp 64.104.000
  • 50 gram: Rp 127.945.000
  • 100 gram: Rp 255.789.000
  • 250 gram: Rp 639.284.000
  • 500 gram: Rp 1.277.066.000.

Harga Emas Dunia Terkoreksi

Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri konflik dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026), harga emas di pasar spot turun 0,9% menjadi US$ 4.068,09 per ounce setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS dirilis. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 2 Juli.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,5% ke level US$ 4.095,30 per ounce.

"Faktor utama yang menggerakkan pasar hari ini adalah meningkatnya eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Dengan potensi berakhirnya gencatan senjata, kami melihat hampir seluruh aset berisiko diperdagangkan lebih rendah, termasuk emas," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Ketegangan kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Serangan itu dilakukan sebagai respons atas aksi militer AS yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran menyusul serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Situasi tersebut langsung mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5%, memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.

Risalah The Fed

Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi sehingga bank sentral dapat mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam kenaikan harga.

Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tersebut cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Di sisi lain, pasar emas tidak menunjukkan reaksi signifikan setelah The Fed merilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pada 16-17 Juni.

Dokumen tersebut menunjukkan para pejabat The Fed masih berbeda pandangan mengenai arah kebijakan suku bunga. Dalam rapat pertama yang dipimpin Ketua FOMC Kevin Warsh, sebagian peserta menilai inflasi berpotensi melandai sehingga membuka ruang penurunan suku bunga.

Namun, sebagian lainnya memperkirakan tekanan harga masih akan bertahan tinggi sehingga kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan.

"Saat ini prospek arah suku bunga masih belum jelas. Pasar terus mencari berbagai informasi yang dapat memberikan kepastian mengenai arah kebijakan kenaikan suku bunga ke depan," ujar Meger.

Prediksi Harga Logam Mulia

Pelaku pasar kini terus mencermati arah kebijakan moneter AS. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September mencapai sekitar 67%, naik dibandingkan 62% sehari sebelumnya.

Sementara itu, Bank of America dalam riset yang diterbitkan Selasa menurunkan proyeksi rata-rata harga emas pada 2026 sebesar 14% menjadi US$ 4.360 per ounce. Penyesuaian tersebut didasarkan pada ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih agresif atau hawkish.

Meski demikian, Bank of America tetap memperkirakan harga emas masih berpeluang mencapai US$ 5.000 per ounce setelah siklus pengetatan kebijakan moneter berakhir.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |