Mendag Ungkap Minyak Dunia Jadi Pemicu Kenaikan Harga Daging Sapi

4 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang mendorong naiknya harga daging sapi di dalam negeri. Kenaikan harga energi dinilai berdampak langsung terhadap biaya logistik dan transportasi impor.

Menurut Budi, importir daging sapi saat ini menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Salah satu komponen yang mengalami kenaikan cukup signifikan adalah biaya pengiriman dari negara pemasok ke Indonesia.

“Jadi memang salah satunya faktor biayanya, biaya impor yang naik. Jadi sekarang sebagian lagi nyari produk daging sapi yang biayanya nggak terlalu mahal,” ujar Budi di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat sebagian importir masih mencari sumber pasokan dari negara lain yang menawarkan biaya pengadaan dan logistik lebih rendah.

Di sisi lain, Budi mengungkapkan realisasi impor daging sapi masih relatif rendah, yakni rata-rata baru sekitar 40% dari kuota yang diberikan pemerintah melalui mekanisme neraca komoditas.

Karena itu, Kemendag meminta para importir segera merealisasikan kuota impor yang telah diperoleh dengan mencari pemasok luar negeri yang dapat menawarkan harga lebih kompetitif sehingga dapat membantu menekan harga di pasar domestik.

Pemerintah Dorong Percepatan Impor Daging Kerbau

Selain daging sapi, pemerintah juga mendorong percepatan realisasi impor daging kerbau sebagai alternatif pasokan yang harganya relatif lebih murah.

Budi mengatakan selama ini pasokan impor masih banyak berasal dari Australia, namun pemerintah sedang menjajaki kemungkinan pasokan dari beberapa negara lain.

“Kita sebenarnya ada ada beberapa pilihan ya, tapi memang selama ini kebanyakan dari Australia. Tapi kita sedang mencoba dari beberapa negara yang bisa memasok, termasuk mungkin kita itu juga sebenarnya ada kuota untuk daging kerbau juga,” kata Budi.

Ia menambahkan realisasi impor daging kerbau juga masih rendah. Pemerintah akan berupaya agar seluruh kuota impor, baik untuk daging sapi maupun daging kerbau, segera direalisasikan guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menambah suplai daging di pasar domestik sehingga tekanan harga yang dirasakan konsumen dapat dikurangi, terutama menjelang periode meningkatnya permintaan masyarakat terhadap komoditas pangan hewani.

Harga Daging Sapi Nasional Masih di Atas HAP

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa harga rata-rata nasional daging sapi pada minggu pertama Agustus 2026 masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen.

Dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin (10/8/2026), Amalia menyebut harga rata-rata nasional mencapai Rp 143.737 per kilogram, sedangkan HAP ditetapkan sebesar Rp 140.000 per kilogram.

Menurutnya, kondisi tersebut tetap perlu mendapat perhatian meskipun jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging sapi hanya 56 daerah.

Amalia juga menyoroti beberapa daerah yang mencatat harga daging sapi jauh di atas HAP sekaligus masih mengalami kenaikan IPH. Salah satunya Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, di mana harga daging sapi tercatat sekitar Rp 165.000 per kilogram atau 17,86% di atas HAP, sementara IPH daging sapi di daerah tersebut masih meningkat 7,51%.

Pemerintah berharap percepatan realisasi impor dan diversifikasi sumber pasokan dapat membantu menstabilkan harga daging sapi nasional dalam beberapa waktu ke depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |