Rupiah Tertekan Konflik Geopolitik, Analis Sarankan BI Terapkan Triple Intervention

14 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan nyata terhadap stabilitas ekonomi domestik. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah di tengah fase risk-off global yang membuat investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven).

Situasi kian menantang bagi Indonesia mengingat posisinya sebagai negara pengimpor minyak (net importer). Lonjakan harga energi dunia tidak hanya mengancam cadangan devisa, tetapi juga membayangi laju inflasi nasional dalam jangka pendek.

Menanggapi fenomena tersebut, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik antara Israel dan Iran yang turut melibatkan Amerika Serikat.

Menurut dia, kondisi global yang diliputi sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan. Lonjakan harga minyak dunia juga memperburuk situasi, mengingat Indonesia merupakan negara pengimpor minyak yang rentan terhadap kenaikan biaya impor dan inflasi.

“Ketidakpastian global mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung melemah,” kepada Liputan6.com, Kamis (26/3/2026).

Intervensi Pasar Valuta Asing

Nanang memperkirakan, dalam jangka pendek, pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan dengan kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.200 per dolar AS. Risiko pelemahan lebih lanjut tetap terbuka, terutama jika konflik meluas dan memicu lonjakan harga energi global.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Nanang menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk mengedepankan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama melalui kombinasi kebijakan moneter dan intervensi pasar. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga likuiditas dolar AS dan meredam volatilitas rupiah.

“Salah satu instrumen utama yang digunakan adalah intervensi di pasar valuta asing. Bank Indonesia secara aktif melakukan stabilisasi melalui penjualan cadangan devisa, baik di pasar spot maupun instrumen derivatif seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF),” jelasnya.

Tahan Suku Bunga

Selain intervensi valas, BI juga disarankan untuk tetap mempertahankan suku bunga pada level kompetitif guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan eksternal. Kebijakan ini diharapkan mampu menahan arus keluar modal sekaligus mendorong masuknya kembali aliran investasi portofolio.

Di sisi lain, pengelolaan likuiditas rupiah melalui operasi moneter juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pasar uang. Upaya ini dilakukan agar tekanan terhadap nilai tukar tidak semakin dalam.

Nanang menambahkan, strategi yang ditempuh BI dikenal sebagai “triple intervention”, yakni kombinasi intervensi di pasar spot, DNDF, dan pasar surat berharga negara (SBN). Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, likuiditas pasar, serta kepercayaan investor di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, stabilitas rupiah diharapkan tetap terjaga meski tekanan eksternal masih berpotensi berlanjut, terutama setelah periode libur panjang Lebaran yang secara historis diikuti penyesuaian pasar dan peningkatan permintaan valuta asing.

Read Entire Article
Bisnis | Football |