Donald Trump Guncang Perdagangan Global dengan Tarif Baru, Siapa yang Terdampak?

19 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru yang luas dan mencakup banyak negara. Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk memastikan kesuksesan ekonomi Amerika Serikat. Tarif-tarif ini diberlakukan melalui perintah eksekutif dan diperkirakan akan berdampak besar pada ekonomi global.

Melansir BBC, Kamis (3/4/2025), pemerintah AS merilis daftar sekitar 100 negara yang akan dikenai tarif baru, dengan skema tarif yang berbeda tergantung pada hubungan dagang masing-masing negara dengan AS.

Tarif Dasar 10%

Menurut seorang pejabat senior Gedung Putih dalam panggilan telepon sebelum pengumuman resmi, AS akan menerapkan tarif dasar sebesar 10% terhadap semua negara, yang mulai berlaku pada 5 April. Beberapa negara hanya akan dikenakan tarif ini tanpa tambahan sanksi lainnya. Negara-negara tersebut antara lain Inggris Raya, Singapura, Brasil, Australia, Selandia Baru, Turki, Kolombia, Argentina, El Salvador, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Tarif Khusus untuk Pelanggar Terburuk

Selain tarif dasar, AS juga akan mengenakan tarif lebih tinggi terhadap sekitar 60 negara yang dianggap sebagai "pelanggar terburuk". Negara-negara ini dinilai telah mengenakan tarif tinggi terhadap barang-barang AS, memberlakukan hambatan perdagangan non-tarif, atau melakukan tindakan yang dianggap merugikan kepentingan ekonomi AS.

Tarif tambahan ini akan mulai berlaku pada 9 April, dengan rincian sebagai berikut:

  • Uni Eropa: 20%
  • Tiongkok: 54%
  • Vietnam: 46%
  • Thailand: 36% Jepang: 24%
  • Kamboja: 49%
  • Afrika Selatan: 30%
  • Taiwan: 32%

Promosi 1

Kanada dan Meksiko Tidak Terdampak Tarif Baru

Dalam pengumuman tarif ini, Kanada dan Meksiko tidak termasuk dalam daftar negara yang dikenai tarif tambahan. Gedung Putih menjelaskan bahwa kedua negara ini akan tetap ditangani dalam kerangka kerja perintah eksekutif sebelumnya, yang sudah memberlakukan tarif terhadap mereka dalam konteks kebijakan perbatasan dan penanggulangan perdagangan ilegal fentanil.

Sebelumnya, tarif terhadap Kanada dan Meksiko sempat ditetapkan sebesar 25%, tetapi Trump kemudian mengumumkan pengecualian dan penundaan terhadap kebijakan tersebut.

Tarif 25% untuk Mobil Impor

Selain kebijakan tarif terhadap negara-negara tertentu, Trump juga mengumumkan tarif 25% terhadap semua mobil yang diproduksi di luar negeri. Kebijakan ini mulai berlaku pada 3 April, tepat pada tengah malam.

Keputusan ini diprediksi akan berdampak besar pada industri otomotif global, terutama bagi produsen mobil di Jepang, Jerman, dan Korea Selatan yang merupakan pemasok utama mobil impor ke AS.

Dampak Global dan Potensi Perang Dagang

Pengenaan tarif baru ini diperkirakan akan memicu ketegangan perdagangan internasional dan mempengaruhi ekonomi dunia. Beberapa negara yang terkena tarif tinggi, seperti Tiongkok dan Uni Eropa, kemungkinan akan mengambil langkah balasan yang dapat memperburuk hubungan perdagangan global.

Analis ekonomi memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat menyebabkan kenaikan harga barang impor di AS dan meningkatkan risiko inflasi. Selain itu, negara-negara yang terkena dampak besar dari kebijakan ini mungkin akan mencari alternatif pasar di luar AS untuk menyeimbangkan kerugian mereka.

Dengan kebijakan ini, Trump kembali menunjukkan pendekatan proteksionisme dalam kebijakan perdagangan, serupa dengan langkah-langkah yang diambilnya selama masa kepresidenannya sebelumnya. Apakah strategi ini akan menguntungkan atau justru merugikan AS dalam jangka panjang, masih menjadi perdebatan di kalangan pakar ekonomi.

Bursa Saham Asia Anjlok

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik anjlok pada perdagangan Kamis (3/4/2025). Bursa saham Asia Pasifik tersungkur usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan tarif timbal balik yang besar kepada lebih dari 180 negara.

Mengutip CNBC, dalam grafik yang diunggah di media sosial, Gedung Putih menunjukkan tarif efektif yang diklaim diberlakukan negara lain pada barang-barang AS termasuk manipulasi mata uang dan hambatan perdagangan.

Kepada CNBC, Gedung Putih menuturkan, tarif timbal balik baru kepada China akan ditambahkan ke tarif yang ada sebesar 20 persen yang berarti tarif sebenarnya pada Beijing berdasarkan ketentuan Trump ini adalah 54 persen.

Sementara itu, barang-barang dari India, Korea Selatan, dan Australia hadapi tarif masing-masing sebesar 26 persen, 25 persen dan 10 persen.

Bursa saham Jepang memimpin koreksi di Asia. Indeks acuan Nikkei 225 di Jepang turun 2,68 persen, memangkas kerugian lebih dari 4 persen pada pembukaan perdagangan. Indeks Topix tergelincir 2,97 persen, dan memangkas penurunan lebih dari 4 persen.

Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 1,16 persen pada perdagangan awal. Sementara indeks CSI 300 di China susut 0,48 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi melemah 1,29 persen memangkas kerugian lebih dari 3 persen. Sedangkan indeks Kosdaq susut 0,61 persen. Indeks ASX 200 di Australia merosot 1,17 persen.

Adapun harga emas mencapai rekor tertinggi dan diperdagangkan pada USD 3.153.92 per ounce pada pukul 09.53 waktu Singapura. Hal ini seiring investor berbondong-bondong membeli logam mulia.

Read Entire Article
Bisnis | Football |