Langkah China hingga Korea Selatan Hadapi Tarif Dagang Donald Trump

21 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) China mendesak Amerika Serikat (AS) untuk “segera membatalkan” tindakan tarif sepihaknya dan berjanji mengambil “tindakan balasan yang tegas’ untuk melindungi hak dan kepentingannya sendiri. Hal ini setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan apa yang digambarkan oleh analis sebagai kenaikan tarif paling tajam dalam satu abad.

"AS telah menarik apa yang disebut tarif resiprokal atau tarif timbal balik berdasarkan penilaian subjektif dan sepihak, yang bertentangan dengan aturan perdagangan internasional dan secara serius merusak hak dan kepentingan yang sah dari pihak-pihak terkait,” ujar Juru Bicara Kementerian Perdagangan China dikutip dari CNBC, Kamis (3/4/2025).

Pejabat China itu menggambarkan keputusan pemerintahan Trump mengenakan tarif timbal balik sebagai “praktik intimidasi sepihak yang khas”. Selain itu, banyak negara telah menyatakan ketidakpuasan yang kuat dan penentangan yang jelas.

Pernyataan itu muncul setelah Donald Trump mengenakan tarif yang tinggi pada banyak negara termasuk 34 persen pada China, 20 persen kepada Uni Eropa, 46 persen kepada Vietnam dan 32 persen untuk Taiwan.

Tarif itu akan menjadi tambahan dari tarif 20 persen yang berlaku saat ini atas impor AS dari China, sehingga total tarif efektif menjadi 54 persen, efektif mulai 9 April, mendekati janji kampanye Trump untuk tarif 60 persen.

"Estimasi awal mengindikasikan tindakan menyeluruh tersebut dapat menaikkan rata-rata tarif AS ke tingkat yang tidak pernah terlihat sejak awal abad ke-20,” ujar APAC Chief Market Strategist JPMorgan Asset Management, Taui Hui.

Ia juga mengingatkan pengumuman kebijakan perdagangan dapat membebani pertumbuhan global.

Promosi 1

Kata Pengamat

Senior Fellow Yusof Ishak Insitute, Stephen Olson menuturkan, China akan menanggapi dengan tindakan “tegas tetapi proporsional” yang mungkin melampaui kenaikan tarif dengan langkah-langkah yang menargetkan perusahaan-perusahaan AS yang bergantung pada pasar China.

“AS dan China sedang menuju meja perundingan di mana mereka akan mencoba semacam tawar menawar besar pada berbagai masalah,” ujar dia.

Ia menuturkan, keadaan akan memburuk sebelum membaik. Negara-negara lain yang bergabung dengan China dalam mengekpresikan ketidakpuasan mereka terhadap langkah-langkah tarif tersebut.

Langkah Kanada hingga Thailand

Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menuturkan, Ottawa akan melawan tarif “dengan tujuan dan dengan kekuatan” saat pemerintah bersiap untuk serangkaian tindakan balasan yang akan diumumkan pada Kamis pekan ini.

Presiden Korea Selatan Han Duck soo memerintahkan tindakan dukungan darurat untuk industri dan bisnis yang akan terkena dampak termasuk industri otomotif, memerintahkan para pejabat untuk aktif bernegosiasi dengan AS. Hal ini untu meminimalkan dampak pungutan tambahan.

Secara terpisah, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebutkan tarif Trump sebagai “keputusan yang buruk” dan mengatakan tindakan itu bukanlah “tindakan seorang teman”. Meski ia mengesampingkan kemungkinan menanggapi dengan pungutan balasan terhadap AS.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan Jepang mengatakan akan membentuk gugus tugas untuk mempelajari dampak tarif baru, yang menurut Trump akan berjumlah 24% untuk Jepang, sambil membiarkan semua opsi di atas meja dalam menanggapi bea masuk yang besar tersebut.

“Kita perlu memutuskan apa yang terbaik bagi Jepang, dan paling efektif, dengan cara yang hati-hati tetapi berani dan cepat,” kata Menteri Perdagangan Yoji Muto dalam sebuah konferensi pers.

Tarif 25% yang diumumkan sebelumnya untuk mobil impor mulai berlaku pada hari Kamis, dengan industri otomotif Jepang diperkirakan akan menjadi salah satu yang paling terpukul karena ketergantungannya pada permintaan dari AS.

Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra mengatakan pemerintah akan memimpin dalam merancang langkah-langkah jangka pendek untuk menangani dampak pada produsen dan eksportir dari tarif baru 36%, sambil berencana untuk bernegosiasi dengan AS.

Uni Eropa mengatakan sedang mempersiapkan tindakan balasan lebih lanjut jika negosiasi dengan AS gagal, kata Presiden Ursula von der Leyen dalam siaran langsung.

Read Entire Article
Bisnis | Football |