Reaksi 11 Negara Usai Donald Trump Umumkan Tarif Dagang

23 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Pasar dan bisnis global terpuruk pada Kamis, (3/4/2025) usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif besar-besaran kepada mitra dagang utama dan negara lainnya.

Mengutip the Guardian, kebijakan tarif baru Donald Trump dengan mengenakan tarif dasar sebesar 10 persen untuk semua barang yang masuk ke AS sehingga tarif maksimal lebih dari 50 persen untuk impor dari beberapa negara.

Hal ini menandai pergolakan terbesar tatanan perdagangan global sejak perang dunia kedua. Presiden AS Donald Trump menuturkan, pungutan ini ditujukan untuk menargetkan praktik perdagangan yang tidak adil selama puluhan tahun yang telah merugikan AS.

Tarif universal 10 persen akan mulai berlaku pada 5 April 2025. Sedangkan tarif timbal balik atau tarif resiprokal pada negara-negara tertentu akan dimulai pada 9 April 2025.

Donald Trump telah mengenakan tarif 20 persen untuk barang-barang dari Uni Eropa. Meksiko dan Kanada lolos dari pusaran pengumuman Rabu waktu setempat. Namun, masih akan dikenakan tarif 25 persen yang dikenakan awal 2025.

Reaksi terhadap perubahan kebijakan luar negeri dan perdagangan AS selama puluhan tahun berlangsung cepat dan dramatis dengan bursa saham Asia anjlok pada Kamis pagi.

Berikut sejumlah respons masing-masing negara terhadap tatanan ekonomi global baru yang muncul.

1.China

China sangat terpukul oleh tarif baru yang menyebabkan total pungutan atas impor China menjadi lebih dari 50 persen. Kementerian Perdagangan China meminta Washington untuk segera membatalkan tarif tersebut. China mengingatkan tarif tersebut membahayakan pembangunan ekonomi global dan akan merugikan kepentingan AS serta rantai pasokan internasional.

“Tidak ada pemenang dalam perang dagang, dan tidak ada jalan keluar bagi proteksionisme,” kata kementerian tersebut.

China telah menjanjikan tindakan balasan.  AS akan mengenakan tarif sebesar 34 persen atas barang-barang China, di atas tarif sebesar 20 persen yang telah dikenakan awal tahun ini.

Promosi 1

China Terbiasa dengan Tarif AS

Dekan Universitas Chongyang untuk Studi Keuangan, Wang Wen menuturkan, China telah terbiasa dengan tarif AS selama tujuh tahun terakhir. “Namun, tarif tinggi ini tidak mengurangi volume perdagangan bilateral AS-China serta surplus perdagangan China dengan AS. Sebagian besar masyarakat China percaya perang tarif AS terhadap China tidak efektif,” ujar dia,

Wang berspekulasi tindakan balasan China yang potensial dapat mencakup tarif timbal balik, devaluasi mata uang China dan pembatasan lebih lanjut terhadap ekspor tanah jarang tertentu ke AS.

Trump juga menutup apa yang disebut celah “de minimus” yang memungkinkan barang senilai di bawah USD 800 untuk diimpor ke AS tanpa bea. Lebih dari 90 persen dari semua paket yang datang ke AS melalui rezim de minimus dengan sekitar 60 persen di antaranya berasal dari China.

2.Inggris

Donald Trump telah memukul Inggris dengan tarif 10 persen. Inggris sebelumnya prediksi tarif 20 persen akan diberlakukan menyatakan lega karena terhindar dari tarif yang lebih tinggi. Pendekatan Keir Starmer yang lebih lunak terhadap pemerintahan Trump tampaknya membuahkan hasil.

Namun, perkiraan pertumbuhan Inggris kemungkinan diturunkan sebagai akibat kebijakan AS itu. Tarif tersebut dapat mengakibatkan hilangnya ribuan lapangan pekerjaan dan memaksa pemerintah Inggris untuk menerapkan pemangkasan belanja lebih lanjut dan kenaikan pajak pada musim gugur.

Korea Selatan-Jepang

3.Korea Selatan

Penjabat Presiden Korea Selatan Han Duck-soo telah berjanji memberikan tanggapan “sepenuhnya” karena ekonomi terbesar keempat di Asia itu juga bergejolak akibat pemberlakuan tarif 25 persen pada ekspornya ke AS.

Han memerintahkan pejabat senior untuk segera mengatasi krisis itu selama pertemuan darurat gugus tugas strategi ekonomi dan keamanannya, demikian laporan kantor berita Yonhap.

"Karena situasinya sangat serius dengan semakin dekatnya realitas perang tarif global, pemerintah harus mengerahkan semua kemampuannya untuk mengatasi krisis perdagangan ini,” kata Han.

Industri otomotif diperkirakan terpukul sangat keras oleh putaran terbaru perang dagang Trump, dengan produsen mobil terkemuka Hyundai dan GM Korea diperkirakan mengalami penurunan ekspor AS. Korea Selatan ekspor mobil senilai USD 34,74 miliar ke AS tahun lalu, kata Korea Herald, yang mencakup 49% dari ekspor mobil global negara itu.

4.Jepang

Perdana Menteri Shigeru Ishiba menuturkan, Jepang merupakan negara yang melakukan investasi terbesar ke AS. Hal itu membuat Jepang bertanya mengenai pengenaan tarif yang seragam ke semua negara. “Jadi kami bertanya-tanya apakah masuk akal bagi AS untuk menerapkan tarif seragam ke semua negara,” ujar dia.

Menteri Perdagangan dan Industri Yoji Muto menyesalkan penerapan tarif itu. Ia menuturkan, Jepang masih berusaha membujuk pemerintahan Trump untuk berpikir ulang.

"Saya telah menyampaikan bahwa tindakan tarif sepihak yang diambil oleh Amerika Serikat sangat disesalkan, dan saya sekali lagi mendesak Washington untuk tidak menerapkannya ke Jepang," kata Muto kepada wartawan.

Produsen mobil Jepang juga bersiap hadapi kemerosotan ekspor. Goldman Sachs menuturkan, pungutan itu akan berdampak “signifikan” pada produsen mobil dan suku cadang mobil Jepang, karena kendaraan sumbang lebih dari 30 persen ekspor Jepang ke AS.

India-Australia

5. India

India terbangun dengan berita tarif 26 persen untuk semua barang India yang diimpor ke AS. Donald Trump telah menunjuk India sebagai sangat, sangat tangguh dengan pungutannya sendiri. India menyatakan, tarif 26 persen merupakan tarif timbal balik yang didiskon untuk tarif 52 persen yang dikenakan India.

Kementerian Perdagangan sedang menganalisis dampak tarif itu. “Ini adalah hal yang beragam, dan bukan kemunduran bagi India,” ujar pejabat perdagangan India.

Pemerintah India telah bekerja keras dalam beberapa minggu terakhir untuk negosiasikan konsesi tarif. Produk elektronik senilai hampir USD 14 miliar dan lebih dari USD 9 miliar permata dan perhiasan termasuk di antara sektor-sektor teratas yang kena tarif baru, serta industri tekstil dan teknologi informasi (TI).

Namun, merupakan kabar baik bagi India, sejauh ini farmasi, salah satu industri ekspor terbesarnya dikecualikan.

Defisit perdagangan AS dengan India saat ini mencapai USD 46 miliar. Donald Trump telah menjelaskan tarif ini akan tetap berlaku hingga “ancaman” ini teratasi.

Menurut laporan, India sedang mempertimbangkan untuk memangkas tarif impor AS senilai USD 23 miliar termasuk permata, perhiasan, farmasi dan suku cadang mobil. Hal ini sebagai upaya menenangkan Donald Trump dan menurunkan tarif, tetapi belum ada kesepakatan perdagangan yang diselesaikan.

6.Australia

Perdana Menteri Anthony Albanese menuturkan, meskipun tidak ada yang mendapatkan kesepakatan lebih baik daripada Australia, rezim tarif baru itu merupakan tindakan permusuhan terhadap sekutu.

Australia lolos dengan relatif mudah dari rezim tarif Donald Trump yang baru, hanya menanggung tarif menyeluruh sebesar 10 persen, tetapi Albanese mengkritik langkah itu.

“Presiden AS Donald Trump merujuk pada tarif timbal balik. Tarif timbal balik akan menjadi nol, bukan 10 persen,” ujar Albanese.

“Tarif pemerintah tidak memiliki dasar logika dari bertentangan dengan dasar kemitraan kedua negara kita. Ini bukan tindakan seorang teman,” ia menambahkan.

Ia menuturkan, pemerintah Australia tidak akan mengenakan tarif balasan terhadap AS yang saat ini tidak berlaku di kedua arah. Albanese menilai, pada akhirnya rakyat AS akan menanggung beban tarif Donald Trump.

Adapun beberapa mineral penting yang berasal dari Australia, yang tidak tersedia di AS akan dikecualikan dari rezim tarif baru.

Selandia Baru-Kanada

7. Selandia Baru

Pada Kamis pekan ini, Perdana Menteri Christopher Luxon menuturkan, Selandia Baru telah bernasib lebih baik. Secara relatif dibandingkan dibandingkan dengan negara-negara lain dengan pungutan 10 persen tetapi menuturkan, tarif dan perang dagang bukan jalan keluar yang tepat.

“Tarif ada sekitar USD 900 juta yang dikenakan pada eksportir Selandia Baru, dan itu akan dibebankan kepada konsumen AS dengan sangat disayangkan,” ujar dia.

Ia mengatakan, pada akhirnya mendorong harga lebih tinggi bagi konsumen AS, inflasi yang lebih tinggi, memperlambat pertumbuhan dan sebagai hasilnya memberikan tekanan nyata di seluru dunia.

Luxon menuturkan, pihaknya akan mencari diskusi dengan pejabat AS atas klaimnya kalau Selandia Baru mengenakan tarif 20 persen pada impor AS. “Kami tidak mengerti bagaimana angka itu dihitung,” ujar dia.

8.Kanada

Kanada telah dibebaskan dari tarif terbaru  tetapi masih hadapi pungutan sebesar 25 persen atas baja dan aluminium serta mobil. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menuturkan pihaknya akan melawan tarif ini dengan tindakan balasan dan membangun ekonomi terkuat di G7.

Carney menuturkan, Trump telah mempertahankan sejumlah elemen penting dari hubungan AS-Kanada tetapi mencatat tarif sebelumnya sebesar 25 persen yang menurut Trump merupakan hukuman. Hal ini mengingat Kanada tidak cukup banyak untuk hentikan aliran fentanil ke AS.

Meksiko-Taiwan

9.Meksiko

Seperti Kanada, Meksiko telah dibebaskan dari serangkaian tarif terbaru tetapi masih hadapi pungutan yang diumumkan sebelumnya oleh Trump. Pada Rabu waktu setempat, Presiden Claudia Sheinbaum menuturkan, negara itu tidak akan melakukan balas dendam tarif, tetapi lebih suka mengumumkan program komprehensif pada Kamis.

10. Taiwan

Taiwan menyebutkan tarif itu sangat tidak masuk akal. Taiwan menyatakan akan membicarakan masalah itu dengan pemerintah AS. Tarif 32 persen yang diumumkan Donald Trump terjada[ Taiwan diperkirakan berdampak besar terhadap ekonomi Taiwan. Lebih dari 60 persen ekonomi Taiwan berasal dari ekspor dan Taiwan memiliki surplus perdagangan hampir USD 74 miliar tahun lalu. Ekonom Bloomberg prediksi kemungkinan kontraksi Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 3,8 persen karena penurunan tajam dalam ekspor ke AS karena  tarif ini.

Sebelum pengumuman itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te menuturkan, Taiwan adalah anggota yang sangat diperlukan dari rantai pasokan global dan pemerintahnya akan melindungi kepentingan perusahaan Taiwan.

Kamar Dagang Amerika di Taiwan mendesak para pembuat kebijakan di kedua ibu kota untuk "terus membina hubungan yang saling menguntungkan ini".

"Di tengah meningkatnya kompleksitas geopolitik, kemitraan AS-Taiwan tidak hanya menjadi pendorong kemakmuran ekonomi bersama, tetapi juga penting bagi keamanan rantai pasokan dan stabilitas regional,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pejabat Taiwan telah merencanakan tanggapan terhadap tarif khusus ini selama berbulan-bulan, termasuk pertimbangan untuk meningkatkan impor energinya dan mengurangi tarifnya sendiri untuk menyeimbangkan perdagangan bilateral, menurut laporan minggu lalu.

Pemerintah telah berusaha keras untuk menenangkan pemerintahan Trump atas pengumuman tarif sebelumnya pada industri semikonduktor, di mana Taiwan merupakan pemain dominan. Investasi senilai USD 100 miliar oleh perusahaan TSMC Taiwan di AS diumumkan oleh chairman TSMC dan Trump di Gedung Putih  tampaknya berhasil, dengan Trump mengatakan kesepakatan itu berarti TSMC akan dikecualikan.

Respons Thailand

11. Thailand

Pemerintah Thailand mengatakan dalam sebuah pernyataan pungutan tersebut pasti akan berdampak pada semua mitra dagang, terutama memengaruhi daya beli konsumen Amerika Serikat, yang mungkin tidak dapat menyerap kenaikan harga yang cepat.

Pemerintah mendorong eksportir Thailand "untuk mencari pasar potensial baru untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal" dan mengatakan telah menyiapkan "langkah-langkah mitigasi" untuk mendukung eksportir yang sangat terdampak.

"Pemerintah Thailand ingin menegaskan bahwa Thailand telah menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam dialog dengan Amerika Serikat pada kesempatan paling awal guna mencapai neraca perdagangan yang adil yang meminimalkan gangguan terhadap kedua ekonomi,” demikian pernyataan dari pemerintah Thailand.

Read Entire Article
Bisnis | Football |