Tarif Impor AS, Indonesia Berpeluang Jadi Pasar Peralihan Produk Murah

18 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (2/4) menimbulkan kekhawatiran baru bagi pelaku usaha di Indonesia. Tarif impor sebesar 32% yang dikenakan terhadap sejumlah negara dengan surplus perdagangan ke AS, termasuk Indonesia, dinilai berpotensi mengguncang sektor ekspor nasional.

Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI) Bortiandy Tobing menjelaskan, dampak dari kebijakan Trump ini bukan hanya menyulitkan produk Indonesia masuk ke pasar AS, tetapi juga memicu persaingan ketat di negara lain.

“Pasar ekspor non-AS akan menjadi medan persaingan baru antarnegara yang terkena kebijakan ini,” ujarnya, Jumat (4/4/2025).

Bortiandy juga mengingatkan bahwa Indonesia bisa menjadi target pasar peralihan bagi produk murah berkualitas rendah dari negara lain. Hal ini dapat mengancam stabilitas ekonomi nasional, terutama jika pelaku usaha lokal kalah bersaing dalam harga.

Dampak ke Rantai Distribusi

Lebih lanjut, kebijakan tarif ini turut berdampak pada rantai distribusi. Banyak pengusaha mulai mencari mitra distribusi dari luar negeri, sementara pedagang domestik cenderung memilih produk impor yang lebih murah.

Di sisi lain, ruang fiskal pemerintah yang terbatas menyulitkan upaya stimulus. Laporan APBN Februari 2025 mencatat defisit sebesar Rp 31,2 triliun dan penurunan penerimaan pajak hingga 30%.

Perkuat Kolaborasi Internasional

Untuk merespons situasi ini, Bortiandy menyarankan pelaku usaha memperbaiki manajemen internal dan memperkuat kolaborasi di tingkat asosiasi.

Perusahaan juga harus menjaga arus kas tetap seimbang serta menyelesaikan potensi gangguan likuiditas seperti stok berlebih.

Khusus sektor logistik, strategi kolaboratif dan berbagi sumber daya menjadi kunci untuk bertahan.

“Jika berjalan sendiri-sendiri, penyedia jasa logistik hanya bisa mengandalkan teknologi usang dan layanan standar demi efisiensi harga,” jelasnya.

Ia juga mengimbau seluruh pelaku usaha untuk melakukan review terhadap rencana bisnis 2025 agar tetap adaptif terhadap dinamika global yang berkembang cepat.

Ini Alasan Trump Kenakan Tarif Impor 32 Persen ke Indonesia

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 32 persen terhadap produk asal Indonesia. Kebijakan tarif impor ini diumumkan langsung oleh Trump dalam pidatonya di Rose Garden, Gedung Putih, pada Rabu, 2 April 2025, sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi nasional.

Trump menegaskan bahwa kebijakan tarif ini merupakan bentuk “deklarasi kemerdekaan ekonomi” Amerika Serikat. Ia menilai, selama ini banyak negara, termasuk Indonesia, memperoleh keuntungan besar dari hubungan perdagangan yang tidak seimbang dengan AS. Langkah ini, kata Trump, bertujuan untuk melindungi industri domestik dan menegakkan prinsip perdagangan yang adil.

Dikutip Liputan6.com dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (4/4/2025), Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan AS sebesar US$3,14 miliar hingga akhir Februari 2025.

Surplus ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,65 miliar. Namun, dari sudut pandang Amerika, neraca perdagangan justru mengalami defisit hingga US$18 miliar.

Ketimpangan tersebut menjadi alasan utama Presiden Trump menaikkan tarif impor untuk Indonesia. Selain itu, Trump juga menyoroti tingginya tarif impor yang dikenakan Indonesia terhadap produk asal AS, yang disebutnya mencapai 64 persen. Sebagai respons, pemerintah AS menetapkan tarif balasan sebesar 32 persen.

Kebijakan tarif ini tidak hanya berlaku untuk Indonesia. Negara-negara ASEAN lain juga terkena dampaknya. Malaysia dikenai tarif sebesar 24 persen, Filipina 17 persen, sementara Kamboja dan Laos masing-masing dikenai tarif 49 persen dan 48 persen.

Penerapan tarif impor Trump ini diprediksi akan mempengaruhi volume perdagangan bilateral dan bisa berdampak pada pelaku usaha ekspor di Indonesia. Para pelaku industri diharapkan segera melakukan penyesuaian strategi ekspor untuk menghadapi tantangan baru ini.

Read Entire Article
Bisnis | Football |