Donald Trump Terapkan Tarif 46 Persen ke Vietnam, Begini Dampaknya ke Nike hingga Adidas

18 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan alas kaki dan pakaian terbesar di dunia menghadapi guncangan pada rantai pasokannya setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menargetkan tarif terhadap Vietnam yang menjadi pusat produksi.

Mengutip malaysianreserve.com, ditulis Jumat (4/4/2025),  AS menerapkan tarif timbal balik atau tarif resiprokal sebesar 46 persen pada barang-barang Vietnam pada Rabu pekan ini. Hal ini sebagai bagian dari perang dagang Amerika Serikat yang semakin meningkat dengan negara-negara di seluruh dunia.

AS memberlakukan tarif timbal balik sebesar 46 persen pada barang-barang Vietnam sebagai bagian dari perang dagang yang semakin meningkat.

Sementara itu, Nike Inc dan Adidas AG membuat taruhan besar pada Vietnam selama dekade terakhir. Saat ini, sekitar setengah dari semua Sepatu Nike dan 39 persen Sepatu Adidas dibuat di Vietnam, menurut pengajuan peraturan.

Vietnam adalah pemasok alas kaki terbesar bagi kedua perusahaan, dan Sepatu yang diproduksi di negara tersebut menghasilkan lebih dari USD 20 miliar dalam pendapatan tahunan gabungan.

Tarif Vietnam menambah turbulensi perdagangan yang coba diatasi oleh penjual Sepatu. Nike telah perkirakan margin kotornya akan turun tajam pada kuartal ini. Hal ini karena tarif AS atas produk China dan Meksiko.

“Mengubah rantai pasokan bukanlah pilihan karena performa sepatu membutuhkan keahliaan dan pabrik yang sangat spesifik,” ujar Analis Bloomber Intelligence, Poonam Goyal.

“Saya tidak melihat bagaimana harga bagi konsumen tidak naik,” ia menambahkan.

Adapun Nike dan Adidas tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Promosi 1

Pemasok Terbesar

Sementara itu, ritel besar seperti pemilik Uniqlo Fast Retailling Co, Hennes & Mauritz AB, dan Gap Inc menganggap Vietnam sebagai salah satu pemasok terbesar. Negara itu ekspor tekstil senilai USD 44 miliar atau sekitar Rp 736,48 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.738) tahun lalu. AS pun sebagai pasar terbesarnya. Hal itu berdasarkan Asosiasi Tekstil dan Pakaian Vietnam.

Industri alas kaki dan pakaian jadi meningkatkan produksi di Vietnam selama masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih saat perang dagang dengan Tiongkok meningkat. Vietnam memiliki biaya tenaga kerja yang rendah, tenaga kerja terampil yang sudah mahir dalam memproduksi sepatu dan pakaian, infrastruktur transportasi, dan dianggap kurang mengancam untuk terlibat dalam bentrokan geopolitik. Negara itu juga membanggakan perjanjian perdagangan dengan AS dan Uni Eropa.

Petunjuk Vietnam dapat terjerat dalam perang dagang Trump dimulai pada 2019, ketika Trump mengatakan Vietnam mengambil keuntungan dari AS "bahkan lebih buruk daripada China." Pelobi ritel khawatir Trump hampir memberlakukan tarif pada Vietnam pada bulan terakhir masa jabatan pertamanya, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Pertumbuhan Ekonomi Vietnam

Vietnam muncul sebagai pemenang besar karena merek-merek mengurangi paparan mereka terhadap China. Alas kaki dan tekstil sekarang menjadi salah satu ekspor terpenting Vietnam, dan industri ini berkembang pesat karena merek-merek seperti Nike dan Adidas bekerja sama dengan puluhan pabrik sepatu kets. Tidak ada perusahaan yang memproduksi lebih dari 20% alas kakinya di China lagi.

Vietnam telah menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 7,1% tahun lalu, melampaui proyeksi pemerintah dan estimasi dari analis yang disurvei oleh Bloomberg.

Hanya beberapa hari setelah Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendorong pejabat senior di Vietnam untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan. Surplus perdagangan Vietnam dengan AS mencapai lebih dari USD 123 miliar tahun lalu, menurut data Biro Sensus AS, dan para pejabat mengatakan mereka telah mendesak peningkatan pembelian produk-produk AS.

Hanya Tiongkok dan Meksiko yang memiliki surplus perdagangan lebih besar dengan AS.

 Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh mengatakan pada Januari kalau ia bersedia mengunjungi Trump di Mar-a-Lago untuk "bermain golf sepanjang hari" jika itu membantu menyelesaikan perselisihan perdagangan. Sejak saat itu, pemerintah telah berusaha menenangkan pemerintahan Trump dengan memangkas tarifnya sendiri atas mobil, etanol, dan gas alam cair AS.

Read Entire Article
Bisnis | Football |