Harga Emas Bakal Makin Melambung Tersengat Tarif Dagang Donald Trump

21 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan kebijakan baru yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah memberikan dampak signifikan terhadap pasar global.

Pada 2 April, Trump resmi menerapkan tarif impor baru yang berlaku untuk semua negara, termasuk Indonesia yang dikenakan biaya impor sebesar 32 persen. Kebijakan ini telah memicu lonjakan harga emas dunia.

"Pasca Donald Trump menerapkan biaya impor ya tanggal 2 April ya tadi malam. Ini yang berlaku untuk semua negara ya tanpa kecuali Asia adalah Indonesia yang kena juga biaya impor 32 persen. Ini membuat harga emas dunia melonjak tinggi ya," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Kamis (3/4/2025).

Ibrahim mencatat, pada Kamis pagi, 3 April  2025, harga emas sempat menyentuh level USD 3.180 per ons, dengan kemungkinan besar akan mencapai USD 3.200 dalam minggu depan.

Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah. Amerika Serikat telah memberikan ultimatum kepada Iran terkait kerja sama dalam masalah reaktor nuklir. Jika Iran menolak untuk bekerja sama, ada kemungkinan Amerika akan melakukan serangan militer terhadap negara tersebut.

"Kenapa? Karena permasalahan tensi geopolitik yang begitu kencang ya kemudian terutama di Timur Tengah dan ultimatum Amerika terhadap Iran untuk bekerja sama dalam masalah reaktor nuklir ya kalau seandainya tidak mau bekerja sama ya Iran kemungkinan besar akan dilakukan pemboman oleh Amerika," ujarnya.

Promosi 1

Perang di Eropa Diprediksi Kembali Terjadi

Di sisi lain, di Eropa, meskipun Rusia dan Ukraina telah mencapai perjanjian perdamaian, ketegangan masih berlanjut. Dua negara Eropa dikabarkan tengah bersiap untuk mengirim persenjataan dan pasukan guna mendukung Ukraina.

"Kita melihat bahwa walaupun di Eropa Rusia dan Ukraina sudah ada perjanjian perdamaian tetapi ada dua negara Eropa yang mempersiapkan persenjataan dan prajuritnya untuk bergabung ke Ukraina," ujarnya.

Hal ini menunjukkan potensi kembalinya konflik antara Rusia dan Ukraina. Perjanjian perdamaian yang didukung oleh Amerika Serikat dinilai lebih menguntungkan Rusia, sementara Ukraina tetap bersikeras mengembalikan wilayah-wilayah yang saat ini dikuasai Rusia, seperti Crimea, Donetsk, dan Luhansk.

"Artinya apa? Bahwa kemungkinan besar di Eropa pun juga akan terjadi perang kembali antara Rusia dan Ukraina ya karena kita lihat bahwa perjanjian yang disponsori oleh Amerika Serikat begitu menguntungkan pihak Rusia dibandingkan dengan pihak Ukraina," tutur dia.

Saat ini, sekitar 25 persen wilayah Ukraina berada di bawah kendali Rusia, namun perjanjian tersebut tidak secara eksplisit mengakui wilayah yang dikuasai Rusia sebagai bagian resmi dari negara tersebut.

"Sedangkan Ukraina sendiri menginginkan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Rusia, Crimea, Donetsk, Lohan yang bahkan sampai saat ini sudah hampir 25 persen wilayah Ukraina dikuasai oleh Rusia untuk dikembalikan. Namun dalam perjanjian tersebut tidak ada yang diakui bahwa wilayah yang dikuasai itu masuk adalah wilayah Rusia," ujarnya.

Berdampak ke Rupiah

Menurut Ibrahim, ketegangan geopolitik ini berdampak langsung terhadap nilai tukar mata uang, termasuk rupiah yang mengalami pelemahan. Dalam beberapa minggu ke depan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan mencapai level 16.900, bahkan berpotensi menembus angka psikologis 17.000.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar dan investor yang harus lebih waspada terhadap dampak kebijakan ekonomi global terhadap stabilitas keuangan domestik.

"Nah, ini juga dalam perang dagang ini membuat apa? Membuat mata uang rupiah kembali melakukan pelemahan dan kemungkinan besar dalam minggu-minggu ini pembukaan pasar level Rp 16.900 kemungkinan besar akan terjadi. Ada kemungkinan besar akan pecah telur juga di Rp 17.000 ini harus berhati-hati," pungkasnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |