Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, Ini Pemicunya

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada Kamis, 21 Mei 2026. Dengan biaya pinjaman naik seiring perhatian investor kembali pada tekanan inflasi yang dihadapi ekonomi Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC, Kamis (21/5/2026), imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, patokan utama untuk hipotek, pinjaman mobil dan utang kartu kredit, meningkat lebih dari tiga basis poin pada Kamis pagi mencapai 4,6014%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun yang lebih sensitif terhadap risiko politik, naik lebih dari satu basis poin menjadi 5,1334%.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun, yang biasanya lebih sensitif terhadap keputusan suku bunga jangka pendek Federal Reserve, naik lebih dari basis poin menjadi 4,0746%.

Kenaikan biaya pinjaman pada Kamis menyusul penurunan tajam pada sesi sebelumnya, yang terjadi setelah imbal hasil obligasi global menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade pada awal pekan karena kekhawatiran inflasi yang kembali muncul.

Imbal hasil obligasi AS 30 tahun turun lebih dari 6 basis poin pada Rabu, dengan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun anjlok lebih dari 9 basis poin pada hari itu. Penurunan ini terjadi ketika investor mencermati risalah dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 27-28 April, yang menunjukkan mayoritas pejabat Fed mengantisipasi kenaikan suku bunga jika perang Iran mendorong inflasi lebih tinggi.

Harga Minyak Menguat

Harga minyak sedikit naik pada Kamis, karena peristiwa di Timur Tengah terus membebani pasar pengiriman dan energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli terakhir terlihat di USD 99,61 per barel, naik 1,4%. Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 1,3% menjadi USD 106,42.

Para pedagang juga menunggu data ekonomi tentang pembangunan perumahan baru dan izin pembangunan di AS selama April, yang akan dirilis kemudian oleh Biro Sensus.

Jumlah pembangunan perumahan baru pada bulan April diperkirakan mencapai 1,41 juta, menurut perkiraan konsensus, turun dari 1,502 juta proyek baru pada Maret. Izin pembangunan di AS diperkirakan mencapai 1,39 juta, naik dari angka Maret sebesar 1,363 juta.

China dan Jepang Lepas Obligasi Pemerintah AS Imbas Perang Iran

Sebelumnya, China dan Jepang mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Maret 2026. Hal ini karena perang di Timur Tengah mendorong bank sentral melikuidasi cadangan dolar AS. Selain itu, melindungi mata uang domestik dari guncangan biaya energi yang menyebabkan nilai tukar melemah.

Mengutip CNBC, Selasa (19/5/2026), China mengurangi kepemilikan menjadi USD 652,3 miliar atau Rp 11.577 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.750). Kepemilikan itu turun sekitar 6% dari Februari ke level terendah sejak September 2008, menurut data Departemen Keuangan AS, yang dirilis Senin malam di Amerika Serikat.

Selain itu, Jepang, pemegang obligasi pemerintah AS terbesar di luar negeri mengurangi kepemilikan sekitar USD 47 miliar menjadi USD 1,191 triliun. Secara keseluruhan, kepemilikan asing turun menjadi USD 9,25 triliun pada Maret dari USD 9,49 triliun pada Februari.

Mengutip CNBC, penjualan besar-besaran terjadi karena pecahnya konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak yang terjadi kemudian menyebabkan yen Jepang dan mata uang Asia lainnya melemah.

Hadapi Guncangan Energi

Ekonomi regional yang bergantung pada impor minyak Teluk, termasuk Jepang, menghadapi guncangan energi terbesar dalam beberapa dekade, mendorong pembuat kebijakan untuk menjual sebagian aset mereka yang didedominasi dolar AS untuk mendanai intervensi mata uang.

“Mengingat meningkatnya volatilitas keuangan sejak dimulainya perang di Teluk dan tekanan yang dihasilkan pada nilai tukar, terutama di Asia, tidak mengherankan jika kepemilikan obligasi pemerintah AS oleh bank sentral telah menurun,” ujar Ekonom HSBC, Frederic Neumann.

“Intervensi pasar valuta asing untuk mendukung mata uang lokal telah menyebabkan beberapa bank sentral menjual sebagian kepemilikan obligasi pemerintah AS mereka,” ia menambahkan.

Data April yang akan dirilis bulan depan, mungkin menunjukkan seberapa jauh bank sentral bersedia bertindak untuk menstabilkan mata uang mereka.

Para pembuat kebijakan juga cenderung menyesuaikan kembali portofolio selama periode tekanan pasar. Hal ini sejumlah penjualan mencerminkan kekhawatiran taktis tentang meningkatnya inflasi dan penurunan nilai obligasi. “Sebuah langkah menuju aset seperti uang tunai untuk memastikan likuiditas jika dibutuhkan intervensi meningkat,” kata Neumann.

Read Entire Article
Bisnis | Football |