OJK Dorong Penguatan Manajemen Risiko Demi Pertumbuhan Berkelanjutan

14 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menggelar ajang tahunan Risk and Governance Summit (RGS) 2026 sebagai upaya memperkuat penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance/GRC) di sektor jasa keuangan. Tahun ini, jumlah peserta meningkat sekitar 25% dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, mencerminkan tingginya perhatian industri terhadap isu tata kelola perusahaan.

Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, mengatakan bahwa forum yang menjadi agenda tahunan OJK sejak 2013 ini kembali mencatat antusiasme tinggi setelah aktif kembali pada 2022 pascapandemi COVID-19.

“Tahun ini kami mengusung tema 'Future Ready Governance for Sustainable Growth and National Prosperity'. Peserta yang hadir secara langsung sekitar 700 hingga 800 orang, sementara peserta daring mencapai lebih dari 20 ribu orang. Angka ini naik sekitar 25% dibandingkan tahun lalu yang sekitar 16 ribu peserta,” kata Sophia usai pembukaan RGS OJK 2026 di Hotel Bidakara, Selasa (14/7/2026).

Berbagi Praktik Terbaik Lewat Skor ACGS

Menurut Sophia, forum tersebut menghadirkan praktisi tata kelola dan kepatuhan dari dalam maupun luar negeri untuk membagikan praktik terbaik (best practices) penerapan GRC, termasuk pengalaman perusahaan Indonesia yang meraih nilai tinggi dalam penilaian Asian Corporate Governance Scorecard (ACGS).

“Kami ingin perusahaan lain di Indonesia dapat mengambil lesson learned dari perusahaan-perusahaan yang berhasil memperoleh skor baik di ACGS. Kepatuhan (compliance) bukan untuk menghambat, melainkan menjaga agar seluruh program perusahaan dapat mencapai target dengan tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas yang baik,” ujarnya.

Sebagai bagian dari komitmen memperluas penerapan tata kelola yang inklusif, OJK juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan RGS 2026, mulai dari:

  • Asosiasi governansi
  • Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
  • Komunitas difabel

Tata Kelola Sebagai Fondasi Keberlanjutan Bisnis

Sementara itu, Plt. Deputi Komisioner Audit Internal, Manajemen Risiko, dan Pengendalian Kualitas OJK, Kusdarmawan Agustianto, menegaskan bahwa penguatan manajemen risiko dan tata kelola merupakan fondasi utama bagi seluruh lembaga jasa keuangan dalam menjaga keberlanjutan bisnis.

“Pengelolaan risiko dan tata kelola yang baik merupakan fondasi yang sangat mendasar bagi seluruh organisasi dan lembaga jasa keuangan untuk menjalankan bisnis serta operasionalnya. Harapannya, melalui agenda rutin ini, seluruh pemangku kepentingan OJK semakin memperkuat tata kelola dan manajemen risiko sehingga tujuan bisnis maupun visi lembaga dapat tercapai dan mendukung kemajuan Indonesia,” kata Kusdarmawan.

Melalui penyelenggaraan RGS 2026 ini, OJK berharap praktik tata kelola yang kuat dapat semakin mengakar menjadi budaya di sektor jasa keuangan. Dengan begitu, industri mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |