Harga Minyak Dunia Melonjak 8%, Brent Terancam Tembus USD 100 per Barel!

11 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah melonjak hingga 8% akibat perang antara AS dan Iran yang baru saja terjadi. 

Dilansir dari CNBC, Senin (2/3/2026), harga minyak naik USD 5,55 menjadi USD 72,57 per barel pada Minggu (1/3/2026). Lonjakan ini terjadi setelah perang yang dimulai pada 28 Februari menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Hingga kini belum dapat dipastikan siapa yang akan menggantikan posisi pemimpin di negara produsen minyak terbesar keempat di OPEC tersebut. Ketidakpastian politik ini turut memicu kekhawatiran pasar energi global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan menghentikan operasi militer hingga seluruh tujuan AS tercapai. Meski demikian, Iran disebut telah menyetujui dialog dengan AS.

“Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka,” kata Trump.

Ancaman Gangguan Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Global

Pasar minyak global kini menyoroti potensi gangguan pengiriman di Selat Hormuz sebagai faktor penentu arah harga dalam beberapa hari ke depan.

“Kami memandang laju pemulihan lalu lintas melalui Selat Hormuz dan tingkat pembalasan Iran sebagai kunci bagi harga minyak dalam beberapa hari ke depan,” ujar analis UBS, Henri Patricot.

Perusahaan konsultan energi Rystad Energy melaporkan arus kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz nyaris berhenti total karena perusahaan pelayaran mengambil langkah antisipatif.

“Kapal tanker mulai berlabuh di Selat Hormuz, tetapi tampaknya belum ada yang berhasil melewatinya saat ini – kapal tanker jelas merasa khawatir,” kata Matt Smith, analis minyak di Kpler.

Berdasarkan data Kpler, rata-rata lebih dari 14 juta barel minyak per hari melintasi selat tersebut sepanjang 2025. Jumlah itu setara dengan sekitar sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut. Sekitar 75% di antaranya dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Peringatan Potensi Lonjakan Harga

Sejumlah analis memperingatkan potensi lonjakan harga yang lebih tinggi. Minyak mentah Brent bahkan berpeluang menembus USD 100 per barel jika situasi keamanan memburuk. UBS menilai dalam skenario gangguan pasokan besar, harga spot Brent bisa melampaui USD 120 per barel.

“Bagaimana ini akan berakhir masih sangat tidak pasti saat ini, tetapi sementara itu pasar minyak harus menghadapi ketakutan terburuk mereka,” kata analis Barclays, Amarpreet Singh.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menambahkan bahwa eksportir minyak Iran menghadapi risiko besar runtuhnya ekspor akibat ketidakpastian politik, gejolak domestik, dan potensi aksi mogok di wilayah penghasil minyak serta pelabuhan.

Saat ini Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari. Namun prospek pasokan negara tersebut kini berada dalam tekanan di tengah dinamika konflik yang terus berkembang.

Read Entire Article
Bisnis | Football |