Selat Hormuz Ditutup, Krisis Energi Global di Depan Mata?

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Pasar minyak dunia bersiap menghadapi potensi guncangan pasokan setelah serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran akhir pekan lalu kembali memicu kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz.

Analis memperkirakan akan terjadi reaksi spontan atau “knee-jerk reaction” pada harga minyak saat perdagangan dibuka kembali di New York. Namun pertanyaan besar bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan apakah ketegangan ini bisa berkembang menjadi gangguan berkepanjangan terhadap ekspor minyak dari kawasan Teluk.

“Pada titik ini, tampaknya kita menghadapi konflik militer skala penuh antara AS dan Iran, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan arahnya sulit diprediksi,” kata CEO Vanda Insights Vandana Hari, dikutip dari CNBC, Senin (2/3/2026).

“Jika konflik berlangsung berhari-hari dan Iran serta sekutunya membalas secara maksimal, kita menghadapi skenario terburuk bagi minyak, termasuk gangguan besar terhadap arus minyak di Timur Tengah,” ujarnya.

Selat Hormuz, Titik Kritis Energi Dunia

Perhatian kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang berada di antara Oman dan Iran. Jalur ini menjadi titik transit penting sekaligus potensi chokepoint bagi perdagangan minyak global.

Data Kpler menunjukkan sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada 2025, setara sekitar 31% dari seluruh pengiriman minyak laut dunia.

Selat ini menghubungkan produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Kantor berita internasional melaporkan kapal-kapal komersial menerima pesan radio dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz.”

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa Teheran benar-benar menutup jalur tersebut.

Skenario Terburuk, Harga Minyak Tiga Digit

Bob McNally dari Rapidan Energy Group menyebut situasi ini sebagai “perkembangan yang sangat serius” bagi pasar minyak dan gas dunia, mengingat ketergantungan besar terhadap produksi dan arus energi melalui Hormuz.

Pertanyaan utamanya adalah durasi konflik. Lonjakan harga minyak dan LNG akan sangat bergantung pada seberapa lama gangguan terjadi.

Saul Kavonic dari MST Marquee menyebut pasar akan mempertimbangkan berbagai risiko, mulai dari hilangnya 2 juta barel per hari ekspor Iran hingga kemungkinan blokade penuh Selat Hormuz.

“Jika rezim Iran merasa menghadapi ancaman eksistensial, upaya menutup Selat Hormuz tidak bisa dikesampingkan,” katanya.

Risiko Lebih Parah dari Krisis 1970-an

Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dampaknya bisa sangat besar bagi pasar energi global.

“Ini bisa menghadirkan skenario tiga kali lebih parah dibanding embargo minyak Arab dan Revolusi Iran pada 1970-an, serta mendorong harga minyak ke tiga digit, sementara harga LNG kembali menguji rekor tertinggi 2022,” ujar Kavonic.

Sebagai gambaran, harga minyak Brent ditutup di USD 72,48 per barel pada Jumat, naik sekitar 19% sepanjang tahun ini. Sementara WTI berada di USD 62,02, menguat 16% secara year-to-date.

Ancaman Serangan Infrastruktur dan Penutupan Total

Andy Lipow dari Lipow Oil Associates menilai serangan terbaru secara signifikan meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak, meskipun fasilitas minyak Iran belum menjadi target langsung.

Ia menyebut skenario terburuk adalah “serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi yang diikuti penutupan total Selat Hormuz.”

Lipow memperkirakan probabilitas skenario tersebut sekitar 33%, mengingat Iran mungkin merasa terpojok.

Jika itu terjadi, dunia bisa menghadapi guncangan energi besar seperti era 1970-an, dengan lonjakan harga minyak yang berpotensi menembus USD 100 per barel atau bahkan lebih tinggi.

Read Entire Article
Bisnis | Football |