BerasKita Premium Dinilai Ampuh Jaga Stabilitas Pangan

15 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Rencana Perum Bulog memproduksi BerasKita Premium sebagai instrumen stabilisasi harga dinilai sejalan dengan perubahan pola konsumsi masyarakat. Pengamat pangan, Khudori, menilai cadangan beras pemerintah (CBP) yang selama ini hanya berisi beras medium sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar yang semakin beragam.

Menurut Khudori, pasar beras saat ini menawarkan berbagai pilihan kualitas, mulai dari beras medium, premium, hingga beras khusus seperti beras merah, hitam, organik, dan fortifikasi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan preferensi konsumen akibat meningkatnya urbanisasi, pendapatan masyarakat, serta berkembangnya jaringan ritel modern.

“Pasar kini tidak lagi hanya mengenal satu jenis beras. Konsumen memilih berdasarkan kualitas, rasa, bentuk, hingga merek,” ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (7/7/2026).

Ia mengutip hasil kajian Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) pada 2016 yang menunjukkan bahwa konsumen berpendapatan tinggi lebih mengutamakan warna putih, tekstur pulen, bentuk beras utuh, dan merek saat membeli beras. Kelompok ini juga cenderung berbelanja di minimarket atau supermarket dengan kemasan 5 kilogram.

Di sisi lain, konsumen berpendapatan rendah lebih mempertimbangkan harga dan warna beras. Mereka juga lebih cepat beralih ke merek lain ketika harga melonjak naik.

Permintaan Beras Premium Meningkat

Khudori menyebut kondisi tersebut membuat permintaan beras premium terus meningkat. Pertumbuhan permintaannya diperkirakan mencapai 11% per tahun dengan pangsa pasar sekitar 38%. Sebaliknya, permintaan beras medium diperkirakan terus menurun sekitar 9% per tahun, meski masih menguasai sekitar 60% pasar.

Namun, menurutnya, CBP yang hanya berisi beras medium membuat intervensi pemerintah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi kurang efektif.

“Mustahil operasi pasar dengan satu jenis beras mampu meredam harga seluruh segmen beras yang beredar di pasar,” katanya.

Selain keterbatasan jenis beras, efektivitas operasi pasar juga dipengaruhi oleh volume penyaluran yang terbatas, pembatasan pembelian, serta persoalan kualitas beras SPHP.

Stabilisasi Beras Premium

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengusulkan program BerasKita untuk stabilisasi beras premium. Program ini diharapkan mampu mengulang kesuksesan beras program SPHP.

Rizal mengaku telah mengusulkan program BerasKita Premium kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Tujuannya adalah untuk menstabilkan harga beras premium di pasaran yang sedang mengalami kenaikan.

"Kami hanya mengusulkan untuk membuat BerasKita Premium. Jadi, saat beras premium lagi agak naik, supaya menstabilisasi beras premium, BerasKita Premium harus ada," kata Rizal di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Dia mengatakan, kepastian pelaksanaan program itu masih menunggu persetujuan dari Menko Pangan. Rizal berkaca pada stabilnya harga beras medium berkat hadirnya beras SPHP.

Harga Rp 14.900 per Kilogram

Adapun BerasKita Premium rencananya akan dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET), sebesar Rp 14.900 per kilogram. Sementara itu, beras SPHP Bulog saat ini dijual dengan harga Rp 12.500 per kilogram untuk stabilisasi harga.

"Tadi saya memberikan saran di rapat agar dibuatkan program BerasKita Premium, seperti beras SPHP. SPHP yang sekarang kan beras medium tuh," ujar dia.

"Ini saya baru mengajukan saran, belum di-approve. Harapannya bisa di-approve sehingga bisa menstabilkan harga-harga semua. As soon as possible (bisa terlaksana), biar masyarakat tenang," Rizal menambahkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |