Iran Tetap Sulit Jual Minyak Meski Sanksi Dicabut

14 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Iran diperkirakan masih akan menghadapi tantangan besar untuk menjual cadangan minyak, meski pembatasan ekspor minyak akhirnya dicabut.

Analis menilai kondisi pasar saat ini tidak lagi menguntungkan karena pembeli utama Iran, yakni China, mulai mengubah strategi energi, sementara pasokan minyak dari negara lain terus meningkat.

China yang merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia selama ini dikenal sebagai pelanggan utama minyak Iran. Namun, minat Negeri Tirai Bambu terhadap minyak Iran mulai melemah.

"Bahkan, orang-orang China tampaknya tidak menunjukkan antusiasme untuk membeli banyak minyak dari siapa pun," kata Chairman Emeritus FGE NexantECA, Fereidun Fesharaki, dikutip dari CNBC, Selasa (7/7/2026).

Permintaan minyak China memang terus melambat sejak perang Iran pecah pada akhir Februari. Kondisi tersebut ikut menekan konsumsi minyak dunia.

Data Wind Information menunjukkan impor minyak mentah China pada Mei 2026 anjlok 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sekitar 7,82 juta barel per hari. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Februari 2018.

Sementara itu, laporan Bloomberg menyebut impor minyak mentah China dari Iran pada Juni turun lebih dari separuh dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sekitar 654 ribu barel per hari.

Mempercepat Transisi Energi

Analis menilai perubahan strategi energi China menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat pemulihan ekspor minyak Iran.

Lembaga riset asal Stockholm, Institute for Security and Development Policy (ISDP), menyebut konflik di Timur Tengah telah memperkuat fokus China untuk mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.

Menurut laporan tersebut, Perdana Menteri China Li Qiang kembali menegaskan pentingnya mempercepat pengembangan energi nonfosil, membangun sistem energi baru, sekaligus mendorong inovasi dan reformasi di sektor energi.

Di sisi lain, pasokan minyak global juga diperkirakan semakin melimpah setelah kelompok produsen minyak OPEC+ sepakat menaikkan target produksi sebesar 188 ribu barel per hari mulai Agustus.

Laporan United Overseas Bank (UOB) menyebut kenaikan produksi tersebut merupakan bagian dari rencana OPEC+ untuk mengakhiri pemangkasan produksi yang telah diberlakukan beberapa tahun terakhir. Sejak perang Iran dimulai, kelompok itu telah menambah kuota produksi hingga 940 ribu barel per hari.

Risiko Gangguan Distribusi

Analis pasar di Axi, Tiago Lacerda, mengatakan lonjakan pasokan minyak dunia kini benar-benar terjadi.

"Lonjakan pasokan benar-benar terjadi," ujar Lacerda dalam keterangannya kepada CNBC.

Ia menjelaskan, persediaan minyak meningkat tajam setelah Iran mengirim lebih dari 40 juta barel minyak sejak Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya. Pada saat yang sama, ekspor minyak Rusia juga melonjak hingga mencapai rekor tertinggi.

Meski demikian, risiko gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz dinilai masih perlu diwaspadai karena dapat kembali mengganggu rantai pasok energi global.

Fereidun Fesharaki mengatakan Iran telah menegaskan bahwa jalur pelayaran bebas di Selat Hormuz hanya akan berlaku selama 60 hari.

"Iran sudah sangat jelas bahwa jalur pelayaran 'bebas' di Selat Hormuz hanya tersedia selama 60 hari. Setelah itu mereka akan mulai menerapkan tarif bertingkat. Jika Anda teman saya, Anda membayar lebih murah. Jika Anda bukan teman saya, Anda membayar lebih mahal. Jika saya tidak menyukai Anda, mungkin saya bahkan tidak akan mengizinkan minyak Anda melintas," ujar Fesharaki.

Menurut para analis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski sanksi terhadap Iran dilonggarkan, tantangan bagi negara itu untuk mengurangi stok minyaknya masih sangat besar. Selain harus menghadapi melemahnya permintaan dari China, Iran juga berhadapan dengan melimpahnya pasokan minyak global dan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Bisnis | Football |