Harga Minyak Dunia Batal Tembus USD 120, Trump Ingin Kuasai Selat Hormuz

12 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia mengalami volatilitas tajam pada perdagangan Senin. Harga sempat melonjak hingga hampir USD 120 per barel sebelum akhirnya berbalik turun setelah Presiden Amerika Serikat (AS)  Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan langkah untuk mengambil alih Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak global. Ketegangan di kawasan ini langsung memicu kepanikan pasar energi dunia.

Dikutip dari CNBC, Selasa (10/3/2026), harga minyak mentah AS tercatat turun 6,19% menjadi USD 85,27 per barel pada pukul 15.37 waktu setempat. Sementara minyak mentah Brent yang menjadi acuan global melemah 4,6% ke posisi USD 88,43 per barel.

Dalam percakapan telepon dengan CBS News, Trump mengatakan kapal-kapal masih bergerak di jalur tersebut meskipun situasi keamanan meningkat.

“Saya sedang memikirkan untuk mengambil alihnya,” kata Trump.

Ia juga memberi sinyal bahwa konflik yang terjadi kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

Ancaman Iran Picu Lonjakan Harga Minyak

Sebelumnya, harga minyak melonjak tajam karena gangguan pasokan dari kawasan Teluk.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat melonjak hingga USD 119,48 dalam perdagangan semalam. Harga akhirnya ditutup naik 4,26% di level USD 94,77 per barel.

Lonjakan tersebut dipicu langkah sejumlah negara Arab di Teluk yang memangkas produksi minyak karena kapal tanker tidak dapat melewati Selat Hormuz akibat ancaman dari Iran.

Analis minyak dari Kpler, Matt Smith, mengatakan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut kini sangat terbatas.

“Hanya segelintir kapal komersial yang masih melintasi Selat tersebut,” ujar Smith.

Minyak Brent bahkan sempat mencapai USD 119,50 sebelum akhirnya ditutup di USD 98,96 per barel.

Lonjakan ini menjadi yang pertama kalinya harga minyak melampaui USD 100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Negara G7 Siap Lepas Cadangan Minyak

Lonjakan harga minyak membuat negara-negara maju mulai menyiapkan langkah darurat untuk menjaga stabilitas pasokan energi global.

Para menteri energi negara G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis.

Sumber kepada CNBC menyebutkan keputusan terkait pelepasan cadangan kemungkinan akan diambil setelah pertemuan tersebut.

Sebelumnya, para menteri keuangan G7 juga telah menggelar pertemuan virtual untuk membahas konflik Iran.

Dalam pernyataan bersama, mereka menegaskan kesiapan mengambil langkah guna menjaga pasokan energi dunia.

“We stand ready to take necessary measures, including to support global supply of energy such as stockpile release,” demikian pernyataan bersama para menteri.

Anggota G7 terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Selat Hormuz Picu Gangguan Pasokan Terbesar

Penutupan Selat Hormuz disebut memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.

Perusahaan konsultan Rapidan Energy menyebut sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya melewati jalur tersebut.

Jika situasi ini berlangsung lama, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi lagi.

Wakil Presiden Rystad Energy untuk pasar minyak, Janiv Shah, memperkirakan harga minyak Brent bisa menembus USD 135 per barel jika krisis berlangsung hingga empat bulan.

Sementara jika kondisi saat ini bertahan dua bulan, harga Brent diperkirakan bisa naik di atas USD 110 per barel.

Sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah kini mulai memangkas produksi. Kuwait mengumumkan pengurangan produksi sebagai langkah pencegahan setelah muncul ancaman terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Produksi minyak Irak juga dilaporkan anjlok tajam. Output dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan turun sekitar 70% menjadi 1,3 juta barel per hari, dari sebelumnya sekitar 4,3 juta barel per hari sebelum konflik dengan Iran.

Berlangsung beberapa Pekan

Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan sedang mengelola produksi minyak lepas pantai secara hati-hati untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz diperkirakan akan kembali normal setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker berhasil dihentikan.

“Kami tidak terlalu jauh dari saat di mana lalu lintas kapal akan kembali lebih normal di Selat Hormuz,” kata Wright.

Ia menambahkan bahwa kondisi terburuk kemungkinan hanya berlangsung beberapa minggu.

Read Entire Article
Bisnis | Football |