Harga Minyak Dunia Dekati USD 120, Bahlil Jamin BBM Subsidi Tak Naik

6 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjamin harga BBM, khususnya BBM subsidi semisal Pertalite (RON 90) aman jelang Lebaran 2026. Harga minyak dunia meski semakin melonjak mendekati USD 120 per barel. 

Bahlil tidak memungkiri harga minyak dunia kini semakin melesat melampaui level USD 100 per barel. Itu terjadi akibat dampak perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran. 

Namun, ia menegaskan, kemelut tersebut tidak sampai mengganggu stok minyak Indonesia. "Problemnya kita sekarang bukan di stok, stok enggak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Kendati begitu, Bahlil menjamin pemerintah bakal melakukan sejumlah langkah komprehensif demi memitigasi kenaikan harga minyak mentah dunia. Sehingga ia mengajak masyarakat agar tidak turut khawatir terhadap lonjakan harga BBM. 

"Kita lagi akan meng-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprehensif. Tapi sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga. Karena sampai dengan hari raya ini Insya Allah enggak ada kenaikan harga BBM subsidi," pinta Bahlil. 

Kembali, Ketua Umum Partai Golkar ini menyatakan. stok dan pasokan minyak serta BBM di dalam negeri aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

"Pasokan enggak ada masalah. Untuk puasa dan hari raya Idul Fitri semuanya terjamin, enggak ada masalah," tegas Bahlil. 

Harga Minyak Dekati USD 120 per Barel

Untuk diketahui, harga minyak mentah dunia melonjak tajam dan mendekati level USD 120 per barel pada Minggu setelah sejumlah produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi. Langkah tersebut diambil karena jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih ditutup akibat perang Iran.

Lonjakan harga ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Mengutip CNBC, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 26,5 persen atau naik USD 24 menjadi USD 114,9 per barel. Sementara itu, minyak Brent yang menjadi acuan global naik 23 persen atau bertambah USD 21,56 menjadi USD 114,25 per barel.

Secara mingguan, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) bahkan melonjak sekitar 35 persen. Kenaikan ini tercatat sebagai lonjakan terbesar dalam sejarah perdagangan kontrak berjangka sejak 1983.

Sebelumnya, harga minyak terakhir kali menembus USD 100 per barel terjadi pada 2022 setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Lonjakan terbaru ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi energi global. Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur ekspor minyak terpenting di dunia saat ini tidak dapat dilalui kapal tanker.

Trump Sebut Lonjakan Harga Minyak sebagai “Harga Kecil”

Tak lama setelah harga minyak menembus USD 100 per barel pada pembukaan perdagangan Minggu malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan komentarnya melalui media sosial Truth Social.

Ia menilai, kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus diterima demi menghentikan ancaman nuklir Iran.

"Kenaikan harga minyak dalam jangka pendek adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran,” tulis Trump.

"Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!” ia menambahkan.

Di sisi lain, beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah mulai memangkas produksi.

Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), mengumumkan pemotongan produksi sebagai langkah pencegahan. Kuwait Petroleum Corporation menyebut keputusan tersebut diambil karena adanya ancaman Iran terhadap keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz, meskipun tidak merinci besaran pemotongan produksi yang dilakukan.

Read Entire Article
Bisnis | Football |