Ini yang Bakal Terjadi Setelah Minyak Tembus USD 100

6 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah dunia melonjak imbas konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Satu pekan setelah penyebrangan AS-Israel ke Iran, harga minyak mentah naik lebih dari 30 persen lampaui USD 100 per barel.

Harga minyak dunia mengalami volatilitas tajam dan sempat melonjak hingga hampir USD 120 per barel sebelum akhirnya berbalik turun setelah Presiden Amerika Serikat (AS)  Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan langkah untuk mengambil alih Selat Hormuz.

Harga minyak dunia yang terus melejit di atas level USD 100 per barel ini jauh di atas asumsi dalam APBN 2026 di kisaran USD 70 per barel. Defisit APBN pun terancam membengkak hingga ratusan triliun rupiah.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan kenaikan harga minyak akan sangat berdampak kepada tekanan fiskal. Dengan asumsi, kenaikan harga minyak USD 1 per barel akan menambah beban defisit hingga Rp 7 triliun.

"Kalau di 2025 kemarin mungkin Rp 6,9 triliun, di 2026 Rp 6,8 triliun. Kalau dibulatkan mungkin di kisaran Rp 7 triliun," ujar Komaidi kepada Liputan6.com.

Di sisi lain, ia juga tidak menyangkal bahwa pengeluaran negara bakal tertutupi oleh pendapatan migas nasional, dengan angka produksi di kisaran Rp 3,5-4 triliun setiap kenaikan harga minyak per USD 1.

Hanya saja, lonjakan harga minyak dunia bakal tetap berdampak lebih besar terhadap belanja negara. Komaidi lantas mensimulasikan, kenaikan harga minyak menjadi USD 90 per barel saja bisa membuat APBN tekor hingga Rp 140 triliun.

"Jadi asumsi APBN 2026 kan di USD 70 (per barel). Jadi kalau sampai akhir tahun katakanlah stay di USD 90 (per barel), berarti kan ada USD 20 sendiri selisihnya. Setiap USD 1 (per barel kenaikan harga minyak) kan Rp 7 triliun," ungkapnya.

"Jadi kalau USD 20 kali Rp 7 triliun berarti Rp 140 triliun. Berarti tambahan defisit APBN kisarannya kalau rata-rata harga realisasinya di USD 90 (per barel) ya ada tambahan defisit APBN sekitar Rp 140 triliun," terang dia.

Berpotensi Bikin Harga BBM Melambung

Lonjakan harga minyak dunia juga berpotensi membuat harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Namun pemerintah Indonesia memastikan untuk harga BBM bersubsidi tetap aman menjelang Lebaran 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan tidak akan ada kenaikan harga BBM subsidi seperti Pertalite.

Bahlil mengakui harga minyak mentah dunia kini telah melampaui USD100 per barel bahkan mendekati USD120 per barel akibat konflik Timur Tengah. Namun ia memastikan kondisi tersebut tidak memengaruhi stok energi nasional.

“Problemnya kita sekarang bukan di stok. Stok enggak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga,” ujar Bahlil.

Ia menegaskan pasokan minyak dan BBM dalam negeri aman selama Ramadan hingga Idul Fitri.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi melalui percepatan program energi alternatif, termasuk campuran etanol 20 persen (E20) pada bensin serta peningkatan program biodiesel dari B40 menjadi B50.

Negara-Negara Mulai Hemat Energi  

Tak hanya berdampak ke Indonesia, lonjakan harga minyak juga memicu gejolak pasar energi dan memaksa sejumlah negara mengambil langkah darurat untuk menghemat konsumsi energi.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan penerapan sistem kerja empat hari dalam seminggu di sejumlah kantor cabang eksekutif mulai 9 Maret 2026.

“Mulai Senin, 9 Maret, kami akan menerapkan sementara sistem kerja empat hari seminggu di beberapa kantor cabang eksekutif,” kata Marcos.

Kebijakan ini tidak berlaku bagi layanan darurat seperti kepolisian, pemadam kebakaran, dan layanan publik garis depan.

Selain itu, pemerintah Filipina juga menginstruksikan instansi negara untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar sebesar 10–20 persen.

Langkah serupa juga dilakukan Bangladesh. Pemerintah negara tersebut menutup sementara seluruh lembaga pendidikan, termasuk universitas negeri dan swasta, sekolah menengah berbahasa Inggris, serta pusat pelatihan.

Penutupan ini bertujuan menekan penggunaan listrik di ruang kelas, laboratorium, asrama, dan gedung administrasi sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar dari aktivitas transportasi mahasiswa dan staf.

Harga Minyak Hari Ini

Dikutip dari CNBC, Selasa (10/3/2026), harga minyak mentah AS hari ini tercatat turun 6,19% menjadi USD 85,27 per barel pada pukul 15.37 waktu setempat. Sementara minyak mentah Brent yang menjadi acuan global melemah 4,6% ke posisi USD 88,43 per barel.

Dalam percakapan telepon dengan CBS News, Trump mengatakan kapal-kapal masih bergerak di jalur tersebut meskipun situasi keamanan meningkat.

“Saya sedang memikirkan untuk mengambil alihnya,” kata Trump.

Ia juga memberi sinyal bahwa konflik yang terjadi kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

Sebelumnya, harga minyak melonjak tajam karena gangguan pasokan dari kawasan Teluk.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat melonjak hingga USD 119,48 dalam perdagangan semalam. Harga akhirnya ditutup naik 4,26% di level USD 94,77 per barel.

Lonjakan tersebut dipicu langkah sejumlah negara Arab di Teluk yang memangkas produksi minyak karena kapal tanker tidak dapat melewati Selat Hormuz akibat ancaman dari Iran.

Analis minyak dari Kpler, Matt Smith, mengatakan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut kini sangat terbatas.

“Hanya segelintir kapal komersial yang masih melintasi Selat tersebut,” ujar Smith.

Minyak Brent bahkan sempat mencapai USD 119,50 sebelum akhirnya ditutup di USD 98,96 per barel.

Lonjakan ini menjadi yang pertama kalinya harga minyak melampaui USD 100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Read Entire Article
Bisnis | Football |