Purbaya: Depresiasi Rupiah Relatif Lebih Baik Dibanding Malaysia dan Thailand

9 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi secara moderat di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) secara global. Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara lain di kawasan.

Menurutnya, pergerakan rupiah mencerminkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia serta kuatnya koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan pemerintah dan otoritas terkait.

“Rupiah terdepresiasi secara moderat, sejalan dengan penguatan dolar AS global dan relatif lebih baik dibandingkan banyak negara kelompok. Ini menyampaikan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal moneter yang kuat,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan, sejak meningkatnya ketegangan geopolitik global, depresiasi rupiah tercatat sekitar 0,3%. Angka tersebut dinilai masih lebih baik dibandingkan beberapa negara di kawasan, seperti Malaysia yang terdepresiasi sekitar 0,5% dan Thailand sekitar 1,6%.

“Sejak perang kita lihat rupiahnya terdepresiasinya sebesar 0,3 persen. Jauh lebih baik dengan mata uang negara-negara di sekeliling kita, mungkin Malaysia 0,5, Thailand 1,6, dan lain-lain,” katanya.

Purbaya menilai penilaian terhadap kondisi ekonomi tidak bisa hanya dilihat dari pergerakan nilai tukar semata, tetapi juga perlu dibandingkan dengan kondisi negara lain secara global. Menurutnya, fondasi ekonomi Indonesia masih cukup baik dan dinilai mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal.

Ia juga menambahkan bahwa kekuatan fundamental ekonomi pada akhirnya akan tercermin pada kinerja pasar modal ke depan. Jika fondasi ekonomi tetap terjaga, maka kinerja saham berpotensi kembali menguat secara bertahap.

Jurus Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Panasnya Konflik Timur Tengah

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah," kata Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Destry menegaskan otoritas moneter berkomitmen melakukan intervensi secara tegas dan konsisten. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pergerakan rupiah tetap stabil dan selaras dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Adapun intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, baik di pasar offshore maupun domestik. Di pasar luar negeri, BI melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), sementara di pasar dalam negeri dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari strategi stabilisasi. Langkah ini bertujuan menjaga likuiditas serta memastikan kepercayaan investor tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

"Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," ujarnya.

Rupiah Masih Sejalan Regional, Cadangan Devisa Kuat

Secara kinerja, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan mata uang regional. Secara month-to-date (MTD), rupiah tercatat melemah 0,51 persen, namun angka ini relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

Dari sisi fundamental, posisi cadangan devisa Indonesia tetap solid. Hingga akhir Januari 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD 154,6 miliar, yang dinilai cukup untuk mendukung stabilitas eksternal dan pembiayaan impor.

Tak hanya itu, arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026 juga menunjukkan tren positif. Tercatat, aliran dana asing mencapai Rp 25,7 triliun, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah tekanan global.

"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD 154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," pungkasnya.

Read Entire Article
Bisnis | Football |