Laporan Liputan6.com dari Taiwan: Menjajal Hutan dan Jalur Kereta Alishan

1 day ago 14
  • Apa daya tarik utama Alishan National Scenic Area?
  • Berapa ketinggian dan luas kawasan rekreasi hutan Alishan?
  • Apa sejarah di balik jalur kereta api Hutan Alishan?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Hutan bukan hanya sekadar paru-paru dunia. Di Alishan, Taiwan, hutan juga menjadi saksi sejarah yang memberikan cerita menarik bagi pengunjung. Hal ini juga menjadi potensi pariwisata Taiwan. Alishan atau Gunung Ali di Kabupaten Chiayi, Taiwan Tengah merupakan salah satu objek wisata utama di Taiwan.

The Alishan National Scenic Area atau kawasan pemandangan nasional Alishan terkenal dengan hutan berkabutnya, matahari terbit di atas lautan awan, pemandangan Yushan atau gunung tertinggi di Taiwan, pemandangan bunga Sakura dan kereta api Hutan Alishan dengan jalur rel kecil. Kawasan Alishan ini memiliki ketinggian mulai dari 1.400-2.200 meter di atas permukaan laut. Diperkirakan kawasan rekreasi hutan nasional Alishan mencapai 1.400 hektare (ha)

Jurnalis Liputan6.com atas undangan Taipei Economic and Trade Office (TETO) berkesempatan mengunjung ke sejumlah tujuan wisata di Taiwan.  Salah satunya Alishan scenic area. Saya dan sejumlah rekan jurnalis asal Indonesia mengunjungi kawasan hutan wisata Alishan ini pada hari ketiga perjalanan. Tepatnya pada 3 Maret 2026. Pada Selasa pagi, cuaca hujan dan mendung. Sebelum keberangkatan ke Taiwan, kami telah diingatkan untuk memakai jaket dan membawa payung.

Kami berangkat dari Chiayi sekitar pukul 08.15 waktu setempat. Di Chiayi, cuaca sudah mendung dan hujan.Hawa dingin membuat badan menggigil. Untung saja membawa jaket sehingga menghangatkan badan.

Perjalanan menuju Alishan yang terletak di sebelah timur Chiayi memakan sekitar 1,5 jam-2 jam perjalanan dari Chiayi. Hujan dan kabut menemani perjalanan tetapi ditempuh dengan lancar.

Pemandangan bunga Sakura berwarna merah muda di sepanjang jalan menuju Alishan membuat perjalanan menjadi berwarna. Selain pohon bunga Sakura, pohon pinang juga ditemui dalam perjalanan kami.  Pemandu wisata kami, Chindrawan atau Ko Acin. menceritakan, masyarakat Taiwan menyukai konsumsi pinang seperti makan permen karet. “Budaya makan pinang sudah lama sekali ,” kata Ko Acin.

Ketika tiba di tempat pembelian tiket untuk melanjutkan perjalanan dengan memakai shuttle bus, hujan masih menemani dan hawa dingin makin terasa. Namun, udara segar pegunungan seperti memberi kesegaran.

Jalur Setapak Pepohonan Raksasa di Alishan

Kami berhenti sejenak di tempat pembelian tiket sambil ditemani hujan. Tak lupa memakai jas hujan, jaket agar badan tetap hangat dan payung. Pengunjung mesti merogoh kocek sekitar 100 dolar Taiwan masuk ke Alishan. “Alishan buka sekitar pukul 09.00 hingga 17.00,” ujar Ko Acin.

Kami melanjutkan perjalanan dengan memakai shuttle bus ke Alishan sekitar 5-7 menit dan kabut pun masih menemani sehingga membatasi jarak pandang. Setelah tiba di Alishan, pohon bunga Sakura berwarna pink pun masih dapat ditemui di depan kuil Shouzhen di Alishan.

Kami berangkat menuju jalur setapak pepohonan raksasa atau giant trees plank trail yang berawal pos dekat kuil Shouzhen. Sebelum menuju jalur kereta hutan Alishan, kami berjalan kaki dan tersaji pohon-pohon tinggi. Pohon cemara, pinus dan hinoki menghiasi perjalanan. Pohon hinoki atau yellow cypress jika digosok tercium seperti bau karbol.

Di kawasan ini juga ditemui jembatan terbuat dari kayu dan tempat duduk. Jika cuaca cerah di hutan Alishan, Anda dapat duduk di jembatan Xianglin Arch sambil menghirup udara segar dan menikmati pemandangan pohon hinoki hingga pinus yang tumbuh menjulang pada bagian kanan dan kiri jembatan.

Kenangan Perhutanan di Alishan

Kemudian pengunjung dapat melanjutkan perjalanan untuk melihat pohon ikonik lainnya. Dalam perjalanan itu dapat dilihat bangunan terbuat dari kayu sebagai tempat peristirahatan pekerja

Sebelum menuju jalur kereta di hutan Alishan, ada sejumlah pohon ikonik hingga pagoda roh kayu yang dapat ditemui pengunjung. Setelah melewati jembatan Xianglin Arch,  pengunjung berjalan di jalur yang telah ditata untuk mendapatkan kenangan kehutanan ikonik di kawasan Alishan, dan ini juga yang menjadi daya tarik pengunjung.

“Alishan lebih tertata,” ujar Fadli Zikri, salah satu pengunjung Alishan.

Berikut sejumlah kenangan perhutanan yang ditemui di Hutan Alishan:

Kayu Gofir

Pengunjung dapat melihat kayu gorif yang berbentuk hidung gajah.

Pohon Tiga Generasi

Salah satu pohon di kawasan Alishan yang menjadi perhatian yakni pohon cypress atau pohon cemara tiga generasi. Pohon tiga generasi ini berasal dari satu akar yang sudah mati kering dan bertumbuh lagi. 

Generasi pertama diperkirakan berusia 1.500 tahun dengan akar muncul di tanah. 250 tahun kemudian setelah generasi pertama pohon tersebut mati, generasi kedua muncul. Hal ini seiring pepohonan tersebut mendapatkan nutrisi dari pohon generasi pertama yang sudah mati. Pada generasi ketiga, pohon tersebut lahir setelah lebih dari 300 tahun.

Museum Alishan

Di kawasan Alishan ini pengunjung dapat menemukan museum Alishan yang seperti pondok kecil terbuat dari pohon. Melalui museum ini pengunjung dapat mengetahui sejarah industri penebangan kayu di Alishan dan jalur kereta lokomotif di Alishan. Museum ini dibangun pada 1935 dan diperbarui pada 2007. Sebelumnya di tiang atap ada tulisan Taiwan Gubernur Hutan, diubah menjadi museum perhutanan pada 2013. Di museum ini memamerkan pohon hinoki yang sudah ditebang dan sejarah rel kereta dalam hutan.

Pagoda Roh Kayu

Sekitar 1935, Pemerintahan Jepang membangun pagoda roh kayu untuk menenangkan roh kayu seiring saat masa industri perhutanan berkembang, banyak pohon berusia ribuan tahun ditebang. Tangga berbentuk bundar adalah lingkaran pohon dan menara merupakan batang pohon. Tangga bundar tersebut juga melambangkan 500 tahun.

“Biar roh-roh pohon di sini biar tenang maka dibangun tugu pohon. Satu anak tangga melambangkan 500 tahun, itu terlihat ada step-step,” ujar pemandu wisata, Ko Acin.

Pohon Xianglin

Setelah melewati pagoda pohon, pengunjung juga disuguhkan dengan pohon dewa. Pohon bernama Xianglin Sacred Tree ini merupakan pohon berusia sekitar 616-636 tahun yang memiliki tinggi 45 meter dan merupakan generasi kedua sebagai pohon suci Alishan. Pohon ini menggantikan pohon dewa pertama yang tumbang pada 1998.

“Pohon kalau disambar petir mati, kalau ini tidak, dipasang anti petir,” kata Ko Acin.

Tugu Peringatan Dr Kawai

Tugu ini dibangun untuk memperingati kontribusi Dr Kawai Shitaro terhadap perhutanan pada 1933. Sebelumnya Dr Kawai Shitaro mendapatkan tugas dari Kaisar Jepang untuk membangun jalur rel kereta api di Alishan, Taiwan.

Rel Kereta dalam Hutan

Salah satu ikon menarik yang patut dikunjungi di Hutan Alishan yakni rel kereta. Setelah melewati jalur-jalur untuk melihat sejumlah kenangan ikonik di Hutan Alishan, kami tiba di jalur kereta Hutan Alishan.

Jalur kereta api bersejarah ini merupakan peninggalan dari Jepang. Pengunjung dapat menaiki kereta lokomotif untuk wisata ini sekitar tujuh menit untuk merasakan pengalaman nostalgia. Setelah perjalanan singkat itu, pengunjung tiba di Stasiun Alishan yang terbuat dari kayu dan terletak 2.216 meter di atas permukaan laut. Stasiun ini dibuka pada 2007 dan merupakan bangunan statiun kereta api kayu terbesar di Taiwan.

Adapun jalur kereta api Hutan Alishan menghubungkan Chiayi yang berada 30 meter di atas permukaan laut dengan Alishan yang berada 2.216 meter di atas permukaan laut.

Ko Acin menuturkan, pembangunan jalur kereta ini untuk mengangkut kayu-kayu hinoki dari Alishan pada masa itu. Kereta lokomotif ini memakai bahan bakar batu bara.

Mengutip Taiwan.net, pembangunan jalur kereta api Hutan Alishan dimulai sekitar 1899 oleh Jepang. Pembangunan jalur kereta api ini untuk mengangkut kayu dan menuruni gunung. Jalur ini memiliki lebar rel 762 mm. Lalu lintas dibuka pada bentangan sepanjang 66,6 kilometer antara Chiayi dan Erwanping pada 1912, dan diperpanjang hingga Alishan dengan panjang 71,4 kilometer pada 1914.

Jalur kereta api ini mendaki dari ketinggian 30 meter di atas permukaan lalu hingga 2.215 meter, memiliki 47 terowongan dan 72 jembatan. Awalnya dibangun untuk mengangkut kayu gelondongan perbekalan, jalur kereta api kini telah menjadi bagian integral dari fasilitas wisata Alishan.

Jalur ini terbagi menjadi jalur utama dan jalur cabang dengan total panjang 85 kilometer. Jalur kereta api ini melewati tiga bentuk hutan yakni zona hutan tropis, hutan hangan dan hutan beriklim sedang.Bagian pertama selesai pada 1907, dan lokomotif pertama yang dipakai adalah lokomotif Shay, lokomotif Amerika Serikat. Pada 1912, jalur kereta ini dibuka untuk umum. Sedangkan layanan penumpang dimulai pada 1920.

Mengutip recreation.forest.gov, untuk mengatasi medan berat, pembangunan kereta api Hutan Alishan memakai desain teknik seperti putaran U 180 derajat, jalur spiral, dan jalur zigzag. Kereta api pegunungan ini wujud dari kereta api pegunungan dataran tinggi, kereta api hutan dan kereta api pegunungan yang menawarkan jalur kereta api yang kompleks. Sedangkan penebangan kayu secara resmi berakhir pada 1988. Namun, jalur kereta api hutan ini tetap populer di kalangan wisatawan.

Jika Anda ke Taiwan, wajib untuk mengunjungi Hutan Alishan dan jalur kereta Hutan Alishan yang tidak hanya memberikan pengalaman baru tetapi juga cerita bersejarah yang menarik.

Read Entire Article
Bisnis | Football |